Masa kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Kediri

  • Bagikan

Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan Hindu yang ada sekitar abad 11 Masehi di Jawa. Dimulai dari raja Mataram Kuno, Dharmawangsa Airlangga, yang membagi kekuasaan kepada kedua anaknya. Kemudian Airlangga terbagi menjadi dua, kerajaan Janggala di wilayah timur-utara dan juga Pandjalu atau kerajaan Kediri di wilayah barat-selatan.

Tidak begitu banyak sumber yang  menjelaskan tentang keberadaan keduanya. Tapi untuk Kerajaan Pandjalu yang sering dikaitkan dengan Kediri, terlihat dari penemuan arkeologis di daerah Kediri. Kediri terlibat banyak konflik dengan penguasa di sekitar hingha akhirnya ditaklukkan di tangan Sri Ranggah Rajasa atau yang lebih dikenal dengan Ken Arok dari Tumapel.

Berikut sejarah singkat mengenai awal mula kejayaan kerajaan Kediri, kehidupan masyarakatnya, hingga masa kejatuhannya.

  • Kehidupan Masyarakat Kerajaan Kediri

kerajaan kediri
sumber: web gurupendidikan

Agama Kerajaan Kediri berdasarkan sumber sejarahnya menganut ajaran agama Hindu Siwa, hal ini dilihat dari Candi Gurah dan juga Tondowongso. Sedangkan Buddhisme sama sekali tidak ditemukan adanya keterkaitan. Selain itu, penamaan abhiseka atau penjelmaan dewa Wisnu dikenal pada para raja Kediri, meskipun sebagai penganut agama Siwa. Ini berdasarkan pada posisi raja yang merupakan pelindung masyarakat. Meski tidak banyak, Kediri meninggalkan  candi-candi dengan ciri khas masa Singhasari.

Kehidupan ekonomi masyarakat kerajaan Kediri pun tidak terlalu banyak sumber yang membahas mengenai kegiatan  perekonomiannya. Akan tetapi jika mengacu pada era dan juga wilayahnya, Kediri memiliki pengelolaan bidang pertanian di wilayah pedalaman dan juga perdagangan melalui sungai Brantas serta Kali Lamong menuju Pantai Utara Jawa. Usia kerajaan yang tidak terlalu lama menjadi faktor utama kurangnya literatur mengenai kondisi kerajaan.

Sedangkan di bidang politik, Kediri membuat beberapa perubahan dalam sistem pemerintahan Kerajaan Kediri yang hanya berusia sekitar satu abad. Peran dalam hal kemaritiman menjadi masalah yang penting, terutama untuk  menjaga jalur menuju luar melalui sungai Brantas. Selain itu, menurut sejarahnya telah ada aspek demokrasi berupa permohonan yang datangnya dari masyarakat melalui perantara para pejabat setempat untuk disampaikan kepada Raja.

Hal lain dalam kehidupan politik kerajaan Kediri yaitu adanya samya haji (raja daerah) Yang ada dalam struktur kekuasaan Kediri. Raja daerah ini masing-masing mempunyai peran penting terhadap keberadaan pusat Kediri. Namun pada akhirnya, justru kekuasaan-kekuasaan kecil seperti ini malah melemahkan Kediri.

  • Lokasi dan Pendiri Kerajaan

Ada dugaan jika Kediri berpusat di Daha, wilayah pemukiman yang ada di selatan Jawa Timur. Kota Daha dan Kahuripan menjadi wilayah yang penting bagi Singasari dan Majapahit di kemudian hari. Dari situlah perkiraan bahwa Daha adalah pusat dari Kediri, yang merupakan pendahulu dari Singasari dan juga Majapahit.

Raja pertama ialah Sri Samarawijaya. Ia merupakan putra langsung dari Airlangga dan mendapatkan kekuasaan Pandjalu yang  beribukota di Daha. Sementara itu Mapanji Garasakan mendapat bagian memimpin Janggala di wilayah Kahuripan. Meskipun menjadi raja pertama, belum ada informasi yang valid apakah Sri Samarawijaya merupakan pendiri dari Kediri. Nama Samarawijaya adalah yang paling pertama ditemui di dalam rangkaian penemuan sejarah arkeologis yang berkaitan dengan kerajaan Kediri. Nah berikut nama-nama Raja Kediri dari awal hingga akhir.

1. Sri Samarawijaya

Samarawijaya yang merupakan putra Airlangga penguasa Kerajaan Mataram Kuno. Ia lalu melawan Mapanji Garasakan untuk memperebutkan posisi sebagai raja. Untuk mengatasi hal tersebut akhirny Airlangga  membagi kerajaan menjadi dua yaitu Pandjalu dan Janggala demi menghindari perang saudara. Namun beberapa bukti mengatakan bahwa keduanya masih berperang ketika sepeninggal raja Airlangga. Masa kekuasaan Samarawijaya disebut juga masa kegelapan, sebab tidak meninggalkan prasasti apapun sebagai bukti sejarah mengenai kerajaan Kediri. Sri Samarawijaya bertahta di Pandjalu kira-kira pada 1042.

2. Sri Jayawarsa

Sri Jayawarsa terdapat dalam Prasasti Sirah Keting. Prasasti tersebut menyatakan bahwa Jayawarsa adalah raja Kediri yang masa pemerintahannya sekitar tahun 1104. Namun ada hasil penelitian para pakar sejarah lain yang menyatakan jika nama Sri Jayawarsa ini berada sezaman dengan masa kekuasaan Mapanji Kamesywara dan juga Krtajaya.

3. Sri Bameswara

Sri Bameswara, raja yang memerintah kira-kira tahun 1117 sampai dengan 1130 Masehi. Namanya muncul pada Prasasti Padlegan. Dalam prasasti tersebut, pada masa kekuasaan Raja Bameswara, ia menetapkan daerah Padlegan dan juga Panumbangan sebagai daerah bebas pajak. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kediri dapat mengajukan beberapa permohonan tertentu yang bisa saja dikabulkan oleh sang raja.

kerajaan kediri
Pertirtaan Kepung; sumber web mongabay

4. Jayabhaya

Raja Jayabhaya diperkirakan berkuasa dari tahun 1135 Masehi sampai dengan 1157 Masehi. Ia merupakan raja terbesar Kediri yang namanya muncul pada Prasasti Ngantang. Dalam Prasasti tersebut  juga mengatakan jika Pandjalu Jayati atau kerajaan Pandjalu menang. Nah, sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa masyarakatnya yang setia dan tangguh dalam mengalahkan Janggala, ia kemudian menyatukan kembali erajaan Janggala dan Pandjalu namun di bawah naungan Kediri.

5. Sri Sarwweswara

Tidak terlalu banyak yang diketahui tentang Sri Sarwweswara. Namanya ditemukan di  Prasasti Padlegan II (Thun 1159 M) dan Prasasti Kahyunan (tahun 1161 M).

6. Sri Aryeswara

Sri Aryeswara namanya ditemukan dalam Prasasti Angin (tahun 1171 M). Prasasti Angin juga tercantum lambang kerajaan Kediri yang pada masa kekuasaannya yaitu Ganesha.

7. Sri Gandra

Nama Sri Gandra hadir dalam Prasasti Jaring (tahun 1181 M). Prasasti tersebut berisi tentang permintaan anugerah raja dari para masyarakat desa Jaring.

8. Mapanji Kamesywara

Mapanji Kamesywara namanya pertama kali terungkap pada Prasasti Semanding di tahun 1182 Masehi. Selain itu dalam kakawin Smaradhana juga mengungkapkan jika ikatan antara kerajaan Pandjalu dan uga Janggala menjadi menguat ketika raja Sri Kamesywara memperistri Sri Kirana, yang merupakan putri dari Janggala. Kisahnya kemudian diangkat dalam bentuk pementasan drama Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana.

9. Kertajaya

Kertajaya adalah raja terakhir Kediri. Namanya muncul dalam beberapa prasasti hingga kitab Nagarakertagama. Dalam Kitab ini Kertajaya menghendaki untuk disembah oleh para petinggi keagamaan, akan tetapi permintaan tersebut ditolak. Para agamawan kemudian meminta perlindungan kepada Ken Angrok, seorang raja di daerah Tumapel, para pekuka agama juga sekaligus menyetujui Ken Angrok menjadi raja di Singhasari. Sehingga situasi ini dimanfaatkan oleh Ken Angrok untuk bebas dari pengaruh Kediri dan menyerang Daha. Pada akhirnya pada tahun 1222 Masehi Kertajaya gugur di Ganter, dan seluruh kekuasaan Kediri berpindah ke Singhasari dengan Ken Angrok yang menjadi rajanya. Masa tersebut menjadi waktu runtuhnya kerajaan Kediri.

  • Peninggalan Kerajaan Kediri

1. Candi

Kediri tidak memiliki banyak peninggalan arkeologi seperti kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya. Sebab keberadaan kerajaan ini usianya tidak terlalu panjang. Yang justru memberikan peninggalan adalah ketika kemudian Kediri digantikan oleh Singhasari. Candi-candi peninggalan Kediri antara lain Candi Tondowongso, Candi Gurah, dan Pertirtaan Kepung. Pada Candi Gurah terdapat arca Brahma, Candra, Nandi dan Surya. Sementara Candi Tondowongso sendiri memiliki 14 buah arca sama dengan Yanga ada di Candi Gurah.

2. Kitab

kerajaan kediri
Kitab Krsnayana; Sumber web pendidikanmu

Masa kerajaan Kediri merupakan zaman keemasan peradaban Jawa Kuno dalam bidang kesusastraan. Sebab beberapa kakawin muncul dan diciptakan pada zaman ini. Dalam Kutab seperti Nagarakrtagama pun mencantumkan sedikit informasi terkait Kediri. Alasannya tidak lain karena Kediri menjadi pendahulu dari imperium Singhasari juga Majapahit.

Nah berikut kitab-kitab sastra yang ditulis di masa kerajaan:

  • Bharatayuddha oleh Pu Sedah dan Pu Panuluh
  • Hariwangsa oleh Pu Panuluh
  • Ghatotkacasraya oleh Pu Panuluh
  • Smaradhana oleh Pu Dharmaja
  • Sumanasantaka oleh Pu Monaguna
  • Krsnayana oleh Pu Triguna

3. Prasasti (Padlegan, Hantang, dll)

Selain candi dan kitab, Kerajaan Kediri juga meninggalkan beberapa prasasti yang memuat nama-nama raja yang pernah berkuasa. Beberapa prasasti peninggalan Kediri adalah :

  • Padlegan I dan II ( Penjelasan Sri Bameswara dan Sri Sarwweswara)
  • Hantang (Penjelasan Mapanji Jayabhaya)
  • Hantang (museumnasional.or.id)
  • Angin (Sri Aryeswara)
  • Jaring (Sri Gandra)
  • Semanding (Mapanji Kamesywara)
Baca Juga ini Ya !! =>  Sejarah Peradaban Masyarakat Kerajaan Pajang dan Peninggalan Sejarahnya
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *