Kategori: Sejarah

  • Sejarah Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa

    Sejarah Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa

    Pendidikan merupakan kebutuhan manusia agar bisa berproses dan juga berinteraksi dengan semua masyarakat di mana pun. Pendidikan juga menjadi bekal penting di masa depan. Nah tahukah kamu kalau pendidikan sudah dikenal sejak zaman dahulu bahkan  sebelum bangsa Indonesia merdeka seperti saat ini. Pendidikan menjadi kebutuhan pokok yang harus kamu perhatikan sebab mampu membentuk karakter pribadi bagi setiap orang apabila bersungguh-sungguh dalam menekuninya.

    Tingkat pendidikan di Indonesia juga memiliki tujuan untuk memberikan pembelajaran tentang banyak hal. Bisa tentang akhlak, ilmu pengetahuan hingga keterampilan  dalam melakukan pengajaran, pengamatan, atau penelitian. Jadi secara langsung maupun tidak pendidikan mampu memberikan ilmu pengetahuan baru, yang nantinya membentuk karakter pribadi lebih baik. 

    Sekarang ini sistem pendidikan Indonesia hampir seluruhnya telah menggunakan teknologi canggih seperti komputer, LCD proyektor, handphone, hingga WiFi, dsb. Semua sudah terapkan di seluruh jenis pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan sistem pendidikan pada zaman dahulu masih sangat konvensional dan bahkan tidak semua masyarakat Indonesia sampai pada jenjang pendidikan yang baik.

    Hanya kalangan rakyat tertentu saja yang mampu mengenyam pendidikan hingga jenjang yang tinggi. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai perkembangan pendidikan di Indonesia, berikut sejarah singkat pendidikan di Indonesia mulai dari masa penjajahan hingga sekarang ini.

    pendidikan di Indonesia
    sumber web jadiberita

     

    • Pendidikan pada Masa Portugis

    Indonesia mulai mengalami perkembangan aspek ekonomi perdagangan sekitar abad ke-16. Saat itu bangsa Portugis datang dan disusul oleh bangsa Spanyol dengan tujuan untuk berdagang sambil menyebarkan Agama Nasrani (Khatolik). Portugis datang bersamaan dengan missionaris, salah satunya bernama  Franciscus Xaverius. Dalam penyebaran agama Nasrani (Katolik), bagi Franciscus Xaverius sangat perlu mendirikan sekolah-sekolah (seminarie). Sehingga pada tahun 1536 berdiri sebuah seminarie di Ternate dan menjadi sekolah agama bagi anak-anak orang terkemuka. Pelajaran yang ada di sekolah Nasrani ini antara lain pelajaran agama, membaca, menulis hingga berhitung. 

    Kemudian Kabupaten Solor, Flores Timur juga ikut mendirikan semacam seminarie yang mempunyai sekitar 50 orang murid. Di seminari ini juga mereka mendapatkan pelajaran bahasa Latin. Di sisi lain kampung Ambon juga menyelenggarakan pengajaran bagi masyarakat umum. Sehingga terkadang ada pemberontakan yang melemahkan kekuatan Portugis di Indonesia. Hal ini juga menandakan hilangnya missi Katholik di Maluku, dan usaha-usaha pendidikan di indonesia pun terpaksa harus berhenti.

    • Pendidikan pada Masa Belanda

    Belanda datang ke Indonesia khususnya Pulau Jawa dengan tujuan untuk berdagang dan tentunya juga menciptakan kekuasaan baru saat telah berakhirnya kekuasaan Portugis di akhir abad ke-16. Belanda yang tergabung dalam badan perdagangan VOC, menganggap  agama Katolik yang disebarkan oleh misionaris Portugis perlu diganti dengan agama Protestan yang dianutnya. Maka dari itulah sekolah-sekolah keagamaan untuk Protestan didirikan terutama di wilayah yang dulunya telah dimasuki Portugis dan Spanyol untuk mengajarkan agama Nasrani (Katolik). Sekolah pertama didirikan oleh VOC di Ambon tahun 1607.

    Pelajaran yang diberikan di sekolah tersebut diantaranya seperti pelajaran membaca, menulis dan tentunya  sembahyang. Guru pendidik berasal langsung dari Belanda dan mendapat upah. Alasan mengapa tidak ada susunan sekolah dan gereja di Pulau Jawa adalah karena Pulau Jawa sebelumnya tidak terkena pengaruh Portugis. Pada tahun 1617 berdiri sekolah pertama di Jakarta. Sekolah ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga kerja yang cakap agar dapat bekerja di bagian administrasi dan gereja pemerintahan.

    Selain itu, Bahasa Belanda adalah salah satu pelajaran wajib dan bahkan menjadi bahasa pengantar sampai pada tahun 1786. Pendidikan kejuruan sudah mulai muncul dari abad ke-19 dan pada abad ke-20 hadir golongan baru yang disebut  golongan cerdik,  mendapat pendidikan Barat. Hanya saja mereka tidak mendapatkan tempat yang baik dari orang-orang kolonial. 

    • pendidikan di indonesia pada Masa Jepang

    Jepang menjadi salah satu negara yang menjajah Indonesia dengan jangka waktu yang lumayan pendek (17 Maret 1942–17 Agustus 1945). Jepang menguasai Indonesia dengan usaha yang fokus hanya untuk perang. Murid-murid di sekolah bergotong-royong mengumpulkan kerikil, batu, dan pasir untuk pertahanan. Hingga halaman sekolah pun ditanami umbi-umbian dan sayur sebagai bahan pangan demi kepentingan perang.

    Runtuhnya kolonial Belanda diikuti pula dengan runtuhnya sistem pendidikannya. Banyak sekolah-sekolah untuk anak Belanda dan juga masyarakat elit Indonesia lenyap. Semuanya terganti dengan Pendidikan Sekolah Rakyat (Kokomin Gakko) selama 6 tahun, Sekolah Menengah Cu Gakko untuk laki-laki dan Zyu Gakko untuk perempuan selama 3 tahun dan banyak lagi sekolah guru, yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga pendidik dengan jumlah besar. Hal tersebut untuk mengajarkan semangat Jepang kepada anak didik.

    pendidikan di indonesia
    sumber web pengenpinter
    • Pendidikan Pasca Kemerdekaan

    1. Pendidikan pada Masa Kemerdekaan

    Ada beberapa tokoh pendidikan di indonesia yang berjasa di masa kolonial Belanda antara lain Ki Hajar Dewantara, lalu Moh. Syafe’i dari INS, Mr. Suwandi yang mengganti bentuk ejaan Bahasa Indonesia yang sebelumnya penyusunannya oleh Van Phuysen. Dari beberapa tokoh tersebut, pada awal pendidikan masa kemerdekaan pemerintahan Indonesia berupaya untuk mengangkat tokoh yang berjasa dalam dunia pendidikan Indonesia. Selanjutnya, pengangkatan Menteri PP dan K yang berasal dari partai Kiri Murba menjadi tanda awal pengaruh masuknya ideologi kiri dalam dunia pendidikan Indonesia.

    2. Pendidikan pada Masa Orde Baru

    Usaha pembangunan yang terencana dalam Pelita I hingga Pelita II, III dan seterusnya lancar oleh pemerintah Orde Baru dengan tokoh teknorat di pucuk pimpinan pemerintahan. Rencana pendidikan yang dalam Pelita I dapat berkembang menurut  rencana dan menyesuaikan dengan keuangan Negara. Harga minyak tanah yang terus melonjak pada masa orde baru mengakibatkan keuangan Negara jadi membengkak. Hal ini kemudian menjadi penyebab berdirinya SD Inpres (Instruksi Presiden) dengan mengangkat guru-guru dan juga mencetak buku pelajaran. Hasil dari Pelita I ini pada akhirnya dalam bidang pendidikan yaitu menghasilkan lebih dari 10.000 guru.

    3. Pendidikan pada Masa Reformasi

    Kurikulum 1994 yang digunakan pada masa pemerintahan presiden Habibie mengalami penyempurnaan pada masa pemerintahan presiden Gus Dur. Kemudian terdapat perubahan dalam dunia pendidikan di masa pemerintahan presiden Megawati. Perubahan tatanan tersebut antara lain:

    Berubahnya kurikulum pendidikan di Indonesia dari 1994 ke Kurikulum 2000 yang menjadi Kurikulum 2002 ketika telah sempurna oleh Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum tersebut berorientasi pada pendidikan yang fokus terhadap 3 aspek utama yang penting untuk mengembangkan, yaitu aspek afektif, aspek kognitif, dan psikomotorik.

    Demikian informasi singkat mengenai sejarah pendidikan di Indonesia dari masa ke masa. Mulai masa penjajahan hingga pasca reformasi. Kesimpulannya pendidikan di Indonesia ternyata memiliki cerita yang cukup menarik pada setiap eranya. Namun, meskipun sistem penerapan pendidikannya  berbeda-beda, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama. Semuanya terterapkan di setiap tingkatan pendidikan di Indonesia.

  • Kerajaan Sriwijaya: Peradaban Agung di Nusantara

    Kerajaan Sriwijaya: Peradaban Agung di Nusantara

    Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim yang memiliki sejarah yang kaya dan berpengaruh di Nusantara. Berpusat di wilayah Sumatera Selatan, Indonesia, kerajaan ini pernah menjadi kekuatan besar dalam perdagangan, politik, dan budaya di wilayah Asia Tenggara pada masa lampau.

    Kerajaan Sriwijaya didirikan pada abad ke-7 Masehi dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-8 hingga ke-12 Masehi. Posisi strategisnya di jalur perdagangan maritim antara India dan Tiongkok menjadi faktor penting dalam kemajuan ekonomi dan politik kerajaan ini. Sriwijaya menjadi pusat pertukaran budaya, agama, dan pengetahuan di kawasan tersebut.

    Salah satu faktor kunci yang menjadikan Sriwijaya sebagai kekuatan maritim adalah kendali mereka atas jalur perdagangan melalui Selat Malaka. Kontrol atas jalur ini memberikan keuntungan ekonomi yang besar, karena Sriwijaya mampu mengendalikan dan memungut pajak dari perdagangan yang melintasi jalur tersebut. Selain itu, Sriwijaya juga memiliki armada angkatan laut yang kuat, yang menjadikannya sebagai kekuatan militer yang dihormati di wilayah tersebut.

    tempat wisata di palembang
    Sumber: wikipedia

    Selain aspek ekonomi dan militer, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pembelajaran. Terdapat bukti-bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa Sriwijaya memiliki banyak candi dan bangunan monumental, seperti Candi Muara Takus, Candi Kedukan Bukit, dan Candi Talang Tuwo. Beberapa sumber sejarah juga menyebutkan bahwa Sriwijaya memiliki hubungan dengan institusi pendidikan di India, seperti Universitas Nalanda, yang menjadi pusat pengetahuan pada masa itu.

    Sriwijaya juga menjadi penyebar agama Buddha di wilayah ini. Kehadiran agama Buddha di Sriwijaya memainkan peran penting dalam pengembangan budaya dan moral masyarakat. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Sriwijaya memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Buddhis di Asia Tenggara, termasuk Pala di Bengal dan Sailendra di Jawa Tengah.

    Namun, pada abad ke-13 Masehi, Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Faktor-faktor seperti perubahan jalur perdagangan dan persaingan dengan kerajaan-kerajaan lain di wilayah tersebut berkontribusi pada kemunduran kerajaan ini. Selain itu, serangan dari Kerajaan Dharmasraya juga menjadi salah satu faktor yang melemahkan Sriwijaya secara politik dan militer.

    Kerajaan Sriwijaya
    Kerajaan Sriwijaya

    Meskipun Sriwijaya tidak lagi menjadi kekuatan dominan di wilayah Asia Tenggara, warisan dan pengaruhnya tetap terasa hingga saat ini. Banyak peninggalan arkeologis yang ditemukan di wilayah Sumatera Selatan menjadi saksi bisu kejayaan dan peradaban Sriwijaya. Selain itu, Sriwijaya juga menjadi bagian integral dari identitas budaya dan sejarah Indonesia, terutama dalam konteks keberagaman budaya dan perdagangan maritim.

    Kerajaan Sriwijaya adalah bukti penting akan kemampuan Nusantara dalam mencapai peradaban yang maju pada masa lampau. Perjalanan dan kejayaan Sriwijaya menginspirasi kita untuk menghargai dan mempelajari warisan budaya dan sejarah yang berharga ini, serta memahami betapa pentingnya peran Indonesia dalam perjalanan peradaban manusia di kawasan Asia Tenggara.

    Seiring berjalannya waktu, upaya untuk mengungkap dan memahami sejarah Kerajaan Sriwijaya terus dilakukan melalui penelitian dan eksplorasi arkeologi. Banyak temuan dan penemuan baru yang terus mengembangkan pemahaman kita tentang keberadaan, peran, dan warisan Sriwijaya.

    Kerajaan Sriwijaya juga menjadi bagian penting dari upaya konservasi dan pelestarian warisan budaya Indonesia. Situs-situs bersejarah seperti Candi Muara Takus, Candi Kedukan Bukit, dan Candi Talang Tuwo menjadi objek wisata dan pengetahuan yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Mereka memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kebesaran dan keindahan peradaban Sriwijaya.

    Selain itu, kerajaan ini juga menjadi inspirasi dalam pengembangan pariwisata budaya di wilayah Sumatera Selatan. Festival dan acara budaya yang menggambarkan warisan Sriwijaya sering diadakan untuk mempromosikan dan memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat lokal dan dunia internasional.

    Sejarah Kerajaan Sriwijaya telah memberikan wawasan yang berharga tentang perjalanan dan perkembangan peradaban di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan mempelajari sejarah kita sendiri, serta menghormati keberagaman budaya yang membentuk identitas kita sebagai bangsa.

    Melalui penggalian dan pemahaman yang lebih mendalam tentang Kerajaan Sriwijaya, kita dapat menghargai warisan budaya yang kaya dan memperkuat rasa kebanggaan terhadap warisan nenek moyang kita. Dengan demikian, kita dapat menginspirasi generasi mendatang untuk menjaga, melindungi, dan menghormati warisan budaya kita yang berharga.

    Selain itu, kerajaan Sriwijaya juga memiliki peran penting dalam konteks hubungan internasional pada masa itu. Dengan posisi geografisnya yang strategis di jalur perdagangan maritim, Sriwijaya menjalin hubungan dagang yang erat dengan berbagai kerajaan dan negara di Asia Tenggara, India, Tiongkok, hingga Timur Tengah. Kerajaan ini menjadi pusat pertukaran budaya, pengetahuan, dan teknologi antara berbagai peradaban di kawasan tersebut.

    Perdagangan di bawah kekuasaan Sriwijaya meliputi berbagai komoditas, termasuk rempah-rempah, logam, kayu, kain, dan barang-barang mewah lainnya. Melalui aktivitas perdagangan ini, Sriwijaya menjadi pusat ekonomi yang makmur dan kota pelabuhan yang ramai. Kehadiran kapal-kapal dagang dari berbagai negara di pelabuhan-pelabuhan Sriwijaya menjadi pemandangan yang biasa pada masa itu.

    Selain aspek perdagangan, Sriwijaya juga memainkan peran penting dalam penyebaran agama Buddha di wilayah Asia Tenggara. Kerajaan ini menjadi pusat penyebaran agama Buddha Mahayana, dan berbagai candi dan bangunan suci dibangun sebagai tempat ibadah dan pusat pembelajaran agama. Hal ini memperkuat peran Sriwijaya sebagai pusat kebudayaan dan pembelajaran di wilayah tersebut.

    Namun, pada abad ke-12 Masehi, kerajaan Sriwijaya mulai mengalami kemunduran akibat serangan dan tekanan dari kekuatan luar, terutama dari Kerajaan Singasari di Jawa. Pada akhirnya, Sriwijaya kehilangan dominasinya atas jalur perdagangan dan posisinya sebagai kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara.

    Meskipun demikian, warisan Sriwijaya tetap terus hidup dan memberikan pengaruh pada budaya dan sejarah Indonesia. Keberadaan Sriwijaya menjadi saksi bisu perjalanan peradaban di wilayah ini, serta pentingnya kerjasama dan pertukaran budaya di masa lampau.

    Sebagai sebuah peradaban yang besar, Sriwijaya meninggalkan warisan berharga berupa peninggalan arkeologis, seperti candi-candi, arca-arca, dan benda-benda bersejarah lainnya. Penelitian dan ekskavasi terus dilakukan untuk mengungkap sejarah dan kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya.

    Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu peradaban yang membentuk sejarah Indonesia dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa. Dalam mempelajari sejarah Sriwijaya, kita dapat memahami perjalanan peradaban Nusantara dan menghargai keberagaman budaya serta kekuatan perdagangan dan pertukaran dalam membentuk komunitas yang maju.

    Sebagai bangsa yang memiliki warisan budaya yang luar biasa, penting bagi kita untuk menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah Sriwijaya serta mempelajarinya secara mendalam. Dengan memahami sejarah dan kekayaan budaya kita, kita dapat menghormati warisan nenek moyang kita dan membangun masa depan yang lebih baik.

  • Menelisik Sejarah Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

    Menelisik Sejarah Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

    Sejarah – Hai sahabat Apik, setiap tanggal 1 Juni kita selalu merayakan hari yang disebut sebagai hari lahirnya Pancasila. Ada yang tahu kenapa? Tanggal 1 Juni yang dipilih sebagai hari lahir Pancasila, sebab saat itu Presiden Soekarno berpidato dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) dengan mengemukakan konsep awal dari Pancasila. Nah berikut ulasan singkat mengenai sejarah Pancasila.

    • Sejarah Singkat  Pancasila

    sejarah pancasila
    Sumber: web grid ID

    Pancasila kita peringati hari Lahirnya setiap 1 Juni. Tokoh yang memiliki peran penting dalam perumusan Pancasila antara lain Mohammad Yamin, Soepomo, dan Sukarno. Terutama Sukarno dengan pidatonya tentang rumusan lima sila, yang ia bacakan dalam sidang terakhir BPUKI. Sidang tersebut terselenggara pada tanggal 1 Juni 1945, dari sini lah awal mula tanggal 1 Juni menjadi Hari Lahir Pancasila. Sidang BPUKI ini terbentuk dari rekayasa pemerintah Jepang untuk menindaklanjuti “janji kemerdekaan” yang hendak mereka berikan kepada bangsa Indonesia.

    Janji kemerdekaan tersebut sebenarnya hanya trik dari pemerintah Jepang yang menjanjikan kemerdekaan. Sebab pilihan tersebut merupakan langkah yang tepat pada masa itu. Usulan pemberian kemerdekaan dari Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, saat itu mendapat banyak pertentangan dari banyak pihak, sayangnya janji tersebut tetap berhasil disepakati di Tokyo pada 7 September 1944.

    Dalam buku  yang dieditori J.B. Kristanto berjudul Seribu Tahun Nusantara (2000), jepang sebenarnya memiliki tujuan terselubung di balik pemberian perjanjian kemerdekaan tersebut. Ada tiga tujuan di balik janji kemerdekaan Jepang:

    • Pertama, demi menarik simpati dari masyarakat. Sebab di masa itu Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Asia Timur Raya. Sehingga situasi politik menjadi sangat kacau. Maka dari itu Jepang berharap dengan memberikan janji kemerdekaan, bangsa Indonesia tidak akan melakukan pemberontakan.
    • Kedua, demi memperkuat politik “Asia Timur Raya”. Dengan memberikan janji kemerdekaan, Jepang berharap akan memperoleh dukungan penuh dari rakyat Indonesia. Pemerintah Jepang khawatir jika situasi semakin kacau, Indonesia bisa saja menjadi sasaran Sekutu.
    • Ketiga, demi mendapat keuntungan dalam perang. Ketika janji kemerdekaan berhasil menarik dukungan dan simpati, tentu saja pemerintah Jepang bisa mengerahkan rakyat Indonesia dan menghadang Sekutu. Apa lagi sebelumnya Jepang juga telah membentuk barisan Pembela Tanah Air (PETA).

    Dari ketiga poin di atas, terlihat bahwa, janji kemerdekaan dari Jepang sebenarnya hanya rekayasa demi kepentingan pemerintah Jepang semata. Di sisi lain, hal tersebut juga semakin menjelaskan bahwa pemerintah Jepang tidak ingin kehilangan Indonesia dan menyerahkannya kepada musuh.

    • Tokoh dan Rumusan Dasar Pancasila

    sejarah [ancasila
    Sumber: Web Tribunnews

    Melihat situasi yang bertele-tele dan terkesan tak menentu, Soekarno yang menjadi juru bicara pihak Indonesia sempat mengatakan kepada seorang pemerintah Jepang. “Tuan mengatakan seakan-akan kami memerlukan perabotan, radio, dan ini itu sebelum kami kawin. Permintaan kami hanya membuat sebuah rumah dan sehelai tikar.” 

    Pada 1 Maret 1945, Jenderal Dai Nippon, Kumakichi Harada, mengumumkan akan membentuk badan Dokuritsu Junbi Cosakai atau yang kita kenal dengan nama BPUPKI. Satu bulan setelah direncanakan, tepatnya pada tanggal 29 April 1945, BPUPKI resmi dibentuk. Sejak itu BPUPKI kerap melakukan sidang untuk merumuskan banyak hal, termasuk di antaranya adalah bentuk bangsa, syarat kewarganegaraan, hubungan agama dan negara, Undang-Undang Dasar sementara Indonesia, dan juga dasar negara.

    Rumusan dasar Pancasila lahir dalam tiga sidang BPUPKI, yang dimulai sejak 29 dan 31 Mei, juga 1 Juni 1945.

    Pada sidang pertama 29 Mei 1945, Mohammad Yamin yang merupakan pembicara pertama menjelaskan tentang “Azas dan Dasar Negara Indonesia Merdeka”. Isi pidatonya berisi lima azas yaitu: (1) Peri Kebangsaan; (2) Peri Kemanusiaan; (3) Peri Ketuhanan; (4) Peri Keraykyatan; dan (5) Kesejahteraan Rakyat. Kemudian dua hari setelah itu, Soepomo menjelaskan tindak lanjut dari “Dasar-dasarnya Negara Indonesia Merdeka”. Hal itu disampaikan kembali oleh Mohammad Yamin dalam sidang BPUPKI 31 Mei 1945.

    Soepomo ingin mengajak anggota sidang untuk menetapkan staatsidee dan nantinya akan menentukan dasar negara Indonesia. Nah tiga staatsidee yang Soepomo tawarkan adalah (1) Aliran perorangan dari Hobbes; atau (2) Golongan kelas dari Marx; atau (3) Integralistik dari Spinoza.

    Soepomo sendiri lebih condong ke staatsidee integralistik dengan berlandaskan persatuan. Hal tersebut yang nantinya menjadi cikal bakal perenungan Soekarno untuk menyampaikan pidato pamungkas BPUPKI sebagai momen lahirnya Pancasila. 

    Kemudian dalam sidang terakhir BPUPKI, 1 Juni 1945 Bung Karno kemudian menyampaikan “Dasar Indonesia Merdeka” sekaligus mengenalkan istilah Pancasila yang mengandung lima azas dasar:

    1. Kebangsaan Indonesia;
    2. Internasionalisme atau perikemanusiaan;
    3. Mufakat atau demokrasi;
    4. Kesejahteraan sosial;
    5. Ketuhanan yang Maha Esa.

    “Sekarang, banyaknya prinsip kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya,” kalimat Bung Karno yang dikutip dari Risalah BPUPKI (1995) terbitan Sekretariat Negara RI.

    Setelah pidato tersebut, kemudian terbentuklah panitia kecil yaitu “Panitia Delapan”, yang kemudian berganti menjadi Panitia Sembilan dengan anggota yang terdiri dari Soekarno (Ketua), Moh. Yamin, K.H Wachid Hasyim, Moh. Hatta, K.H. Abdul Kahar Moezakir, Maramis, Soebardjo, Abikusno Tjokrosujoso, dan H. Agus Salim.

    • Hari Lahir Pancasila

    sejarah pancasila
    Sumber: Web Kompas

    Pada sidang yang diselenggarakan pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan sepakat dengan lima rumusan dasar negara Indonesia yang dipopulerkan oleh Mohammad Yamin, sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter.

    1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
    2. Kemanusiaan yang adil dan beradab;
    3. Persatuan Indonesia; 
    4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 
    5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Kemudian, pada tanggal 18 Agustus 1945 “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang ada dalam sila pertama Pancasila dihapus sehari setelah proklamasi kemerdekaan. Sebab hal tersebut cukup sensitif bagi masyarakat selain yang beragama Islam di Indonesia. Rapat penghapusan tujuh kata tersebut hanya berlangsung 15 menit dengan cukup alot. Sidang tersebut pesertanya antara lain Kasman Singodimedjo (utusan Soekarno), Moh. Hatta, Ki Bagus Hadikoesoemo (Ketua Muhammadiyah), Wahid Hasyim, dan Teuku Hasan. Moh. Hatta mengatakan bahwa “tercantumnya ketetapan seperti itu di dalam suatu dasar yang menjadi pokok Undang-Undang Dasar berarti mengadakan diskriminasi terhadap mereka [yang] golongan minoritas.” Ancamannya sangat serius, tulis Hatta dalam autobiografinya, Mohammad Hatta: Memoir (1979). “Jika diskriminasi itu ditetapkan juga, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.” 

    Meskipun perubahan tersebut terjadi setelah kemerdekaan, para tokoh pencetus Pancasila tetap terkenang abadi sebagai yang merumuskan dasar negara Indonesia. Oleh karenanya, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016, Pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir dari Pancasila dan menjadikannya sebagai Hari Libur Nasional.

    Nah demikianlah sejarah singkat mengenai sejarah Pancasila dan juga awal mula penetapan tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi sahabat Apik sekalian.

  • Menelusuri Sejarah Peradaban Kerajaan Majapahit

    Menelusuri Sejarah Peradaban Kerajaan Majapahit

    Hadirnya Kerajaan Majapahit berawal dari runtuhnya kerajaan Singasari dan tewasnya Kertanegara akibat serangan Raja Kadiri, Jayakatwang. Dan Majapahit menjadi kerajaan terbesar Nusantara pada masa Hindu-Buddha.

    • Sejarah Singkat Kerajaan Majapahit

    Kerajaan Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya, ia merupakan keponakan sekaligus menantu Kertanegara. Mulanya ia meminta kepada Jayakatwang untuk membuka wilayah pertahanan yang merupakan bentuk pengabdian terhadap Jayakatwang. Kemudian Raden Wijaya menyatakan kesetiaan ke Cina dan meminta bantuan untuk mengalahkan Jayakatwang. Jayakatwang kalah di hadapan pasukan Cina, kemudian Raden Wijaya berbalik menyerang dan mengalahkan ribuan tentara Cina. Ia kemudian menjadi Raja Majapahit pada tahun 1293 M dengan gelar Kertarajasa.

    Kerajaan Majapahit ini berada di atas Hutan Terik, wilayah tepi sungai Brantas. Sungai tersebut cocok pertahanan kerajaan, karena merupakan pintu keluar masuk dalam mengakses wilayah kerajaan di Jawa Timur, mulai dari Kadiri hingga Singasari. 

    kerajaan majapahit
    Sumber: web tirto id
    • Raja Majapahit dari Masa Ke Masa

    1. Kertarajasa

    Raden Wijaya atau Kertarajasa sebagai raja pertama Majapahit menikmati hasil-hasil dari ekspedisi oleh Singasari, salah satunya Ekspedisi Pamalayu. Perjalanan ini memperoleh hasil yang gemilang baik secara materi maupun pengakuan kekuasaan dari wilayah-wilayah yang jauh. Kertarajasa mengangkat pengikut-pengikutnya menjadi pembesar kerajaan. Nambi menjadi rakryan mapatih, Sora menjadi rakryan apatih di Daha, Wenang menjadi amanca nagara di Tuban, Lawe menjadi Adipati Datara. Penunjukan ini ternyata berbuah buruk bagi kerajaan, masing-masing figur menyatakan ketidakpuasan atas penunjukkan itu. Misalnya Lawe yang tidak menyukai Nambi sebagai mahapatih karena menganggap dirinya dan Sora lebih berbakti dan berbuat banyak.

    Seorang tokoh kerajaan bernama Mahapati, mengabarkan kepada raja bahwa Rangga Lawe hendak memberontak. Konflik ini adalah awal dari kekacauan selama dua puluh tahun awal kerajaan berdiri. Kebo Anabrang yang merupakan panglima kerajaan berhasil membunuh Lawe, namun kemudian terbunuh oleh Sora yang tidak terima atas kematian sahabatnya. Atas prakarsa dari Mahapati, Sora tersingkir dari kerajaan setelah bertempur melawan raja dalam tahun 1298-1300 M. Sementara Nambi, memilih menjauhi kekuasaan karena mengetahui dia adalah sasaran dari konflik selanjutnya. Ia izin karena Wiraraja, ayahnya tengah sakit dan pergi ke Lumajang. Perjuangan Kertarajasa untuk mempertahankan keseimbangan kerajaan sangat sulit, sampai akhirnya wafat pada tahun 1309 M.

    1. Jayanagara

    Ia merupakan putra mahkota dari Kertarajasa, sehingga menjadi haknya untuk bertahta ketika ayahnya wafat. Ia seringkali terlihat sebagai raja yang kurang cakap, namun alasan utama banyaknya guncangan di masa pemerintahannya adalah serangkaian pemberontakan yang terus berlanjut. Salah satunya akibat masih eksisnya Mahapati dalam lingkaran kerajaan. Nambi yang berduka atas kematian Wiraraja pada 1311, tidak mau kembali ke Majapahit dan membuat kedudukannya di Pajarakan. Pajarakan kemudian diserbu pada 1316, Nambi dan keluarganya terbunuh. Pemberontakan Semi terjadi pada 1318, dan Pemberontakan Kuti terjadi ada 1335. Keduanya adalah dharmmaputra atau pejabat yang mendapat anugerah raja. Atas prakarsa Gajah Mada di Badander, Jayanagara berhasil selamat dan Kuti dapat terbunuh. Raja juga membunuh Mahapati setelah menyadari fitnahnya yang menyebabkan konflik berkepanjangan untuk mengamankan posisi patih amangkubhumi. Gajah Mada diangkat sebagai patih Kahuripan, dan kemudian patih Daha.

    Hubungan dengan Cina kembali membaik, utusan dari Majapahit datang setiap tahun pada periode 1325-1328 M. Jayanagara wafat terbunuh oleh Tanca, salah satu dharmmaputra yang merupakan seorang tabib ketika diminta mengoperasi penyakitnya.

    1. Tribhuwanotunggadewi Jayawisnuwarddhani

    Jayanagara tidak berputra, oleh karena itu ia tergantikan oleh adik perempuannya yang telah menjadi Bhre Kahuripan. Pada masa ini pemberontakan juga masih terjadi yaitu Sadeng dan Keta pada tahun 1331. Keduanya mampu ditumpas oleh Gajah Mada, sebagai hadiahnya ia diangkat menjadi Patih Hamangkubhumi. Gajah Mada menyambutnya dengan mengucapkan Sumpah Palapa, yang merupakan mimpi politik untuk menyatukan Nusantara. Artinya, Gajah Mada akan menolak semua anugerah raja atas pencapaiannya sebelum ia berhasil menyatukan seluruhnya di bawah Majapahit. Salah satu peristiwa dalam sikap ini adalah penaklukan Bali pada tahun 1343, melalui pertempuran yang hebat dan memakan daya yang sangat besar. Tribhuwana memerintah selama dua puluh dua tahun sampai dengan tahun 1350, di mana putra mahkotanya Hayam Wuruk telah cukup umur untuk menggantikannya sebagai raja Majapahit. Tribhuwana sendiri wafat pada tahun 1372.

    1. Hayam Wuruk

    kerajaan majapahit
    Sumbaer: web geonusantara

    Hayam Wuruk merupakan sebagai raja yang membawa Majapahit pada masa kebesarannya dengan bantuan oleh mahapatih Gajah Mada. Ia bergelar Sri Rajasanagara, dan berhasil menaklukkan wilayah-wilayah sebagai lanjutan dari perluasan cakrawala mandala Majapahit ke Nusantara Timur, sampai dengan wilayah semenanjung Malaya. Hayam Wuruk berupaya meningkatkan kesejahteraan penduduknya, seperti membuat bendungan, saluran pengairan, dan pembukaan tanah baru untuk pertanian. Keharmonisan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada hanya berlangsung selama tujuh tahun, setelah pada tahun 1357 terjadi peristiwa Bubat. Hayam Wuruk yang hendak memperistri Dyah Pitaloka, putri Kerajaan Sunda ternyata mendapat tafsiran berbeda oleh Gajah Mada. Gajah Mada menginginkan pernikahan sebagai bentuk takluk terhadap Majapahit, Sunda menolak. Perbedaan pendapat ini berbuah pada konflik yang menewaskan seluruh rombongan Kerajaan Sunda. Gajah Mada kemudian mengundurkan diri dari jabatan mahapatih, meskipun aktif lagi beberapa tahun kemudian.

    Pada masa kekuasaannya, Hayam Wuruk juga mengunjungi beberapa wilayah kekuasaannya, yang tercatat dalam kitab Nagarakrtagama. Perjalanan ini dimulai dari Pajang (1351), Lasem (1354), Pantai Selatan (1357), Lumajang (1359), Tirib dan Sempur (1360), Blitar (1361), dan Simping (1363). Pada akhir kunjungan ini, Hayam Wuruk mengunjungi Gajah Mada yang tengah sakit yang kemudian wafat pada tahun 1364. Kehilangan besar bagi Majapahit, yang baru tergantikan oleh Gajah Enggon menjadi Patih Amangkubhumi tiga tahun kemudian. Hayam Wuruk masih memerintah sampai dengan 1389 ketika wafat, dan tergantikan oleh menantunya Wikramawarddhana.

    1. Wikramawarddhana

    Wikramawarddhana atau Bhre Hyang Wisesa adalah keponakan sekaligus menantu Hayam Wuruk yang kawin dengan Kusumawarddhani. Meskipun seharusnya Kusumawarddhani yang menjadi raja, karena ia adalah putri mahkota Majapahit. Wikramawarddhana sendiri memerintah selama dua belas tahun (1389-1400), dan kemudian mengundurkan diri untuk menjadi pendeta. Suhita, putranya ditunjuk untuk menggantikannya.

    Keputusan ini langsung menimbulkan sengketa antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhumi hingga terjadi peperangan. Perang ini bahkan dicatat dalam berita Cina Dinasti Ming, serta catatan perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Bhre Wirabumi terbunuh, dan Suhita dapat kembali bertahta sampai dengan wafat tahun 1447. Suhita digantikan oleh adiknya Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya karena tidak memiliki putra. Kertawijaya wafat pada tahun 1451, kemudian digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar Sri Rajasawarddhana yang kemudian memindahkan kedudukannya di Keling-Kahuripan karena kondisi pusat kerajaan yang masih dikacaukan oleh perseteruan keluarga yang sebelumnya.

    1. Girindrawarddhana, Raja-Raja Terakhir Majapahit

    Dyah Suryawikrama Girindrawarddhana menaiki tahta kerajaan setelah tiga tahun Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan (interregnum). Ia adalah anak dari Kertawijaya yang sebelumnya memerintah daerah Wengker, memerintah selama sepuluh tahun sebelum digantikan oleh putranya Bhre Pandan Salas/Dyah Suryaprabhawa Sri Singhawikramawarddhana. Konflik kemudian kembali muncul ketika Bhre Kertabhumi menyerbu Majapahit untuk mengambil kekuasaan. Kertabhumi adalah putra bungsu Rajasawarddhana. Bhre Pandan Salas kemudian menyingkir ke Daha dan memerintah sampai 1474. Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya menggantikannya namun berkedudukan di Keling, karena pusat kerajaan masih dikuasai oleh Kertabhumi.

    • Masa Kejayaan Hingga Runtuhnya Kerajaan Majapahit

    Masa Kejayaan Majapahit berada pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, terutama ketika Hayam Wuruk masih dibantu oleh Gajah Mada sebagai mahapatih (1350-1357). Pada masa ini cakrawala mandala Majapahit mencakup wilayah yang sangat luas. Menjangkau Tumasik, Semenanjung, hingga Nusantara Timur. Pada masa Hayam Wuruk juga ditingkatkan kesejahteraan masyarakat meliputi perbaikan irigasi, pembukaan tanah pertanian, dan pembuatan bendungan. Hayam Wuruk pada masa kekuasaannya juga mengunjungi wilayah-wilayah di sekitar pusat kekuasaan Majapahit untuk memastikan kehidupan masyarakat berlangsung dengan baik.

    Beberapa pendapat menyatakan bahwa Majapahit telah runtuh sejak tahun 1478, ketika Ranawijaya menjadi raja namun tetap berkedudukan di Keling-Kahuripan (Kadiri). Sementara Kertabhumi yang menduduki Majapahit tidak tercatat mengangkat diri sebagai raja Majapahit. N.J. Krom berpendapat bahwa Wangsa Girindra adalah keluarga baru dari Kadiri yang merebut Majapahit dari Wangsa Rajasa.

    Di sisi lain, berita Dinasti Ming masih mencatat hubungan antara Cina dan Jawa sampai dengan tahun 1499. Rui de Brito, Gubernur Portugis di Malaka  pada tahun 1514 bersurat pada Raja Manuel bahwa ada dua raja kafir di Jawa yaitu Sunda dan Jawa. Kemudian Duarte Barbosa, penulis Italia yang menyatakan bahwa tahun 1518 ada raja kafir yang berkuasa di Jawa.

    Kedua tulisan ini menyimpulkan bahwa sampai dengan abad ke XVI kerajaan Majapahit masih ada. Meskipun beberapa saat kemudian, beredar nama Pati Unus sebagai penguasa Jawa. Pati Unus adalah penguasa kerajaan Demak (1518-1521). Hal ini dapat dipahami sebagai luluh lantaknya kekuasaan Majapahit dalam ekspansi Demak pada tahun-tahun tersebut. Menurut pendapat lain, berkuasanya Demak tidak lain adalah lanjutan dari sengketa antara Kertabhumi dan Ranaijaya. Karena dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, Raden Patah menyatakan keturunan dari Prabu Brawijaya Kertabhumi.

    • Peninggalan Kerajaan Majapahit

    kerajaan majapahit
    Kitab Sutasoma; Sumber web kompas
    1. Situs Trowulan

    Trowulan adalah kawasan kepurbakalaan di wilayah Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini dikaitkan sebagai keraton Majapahit yang terdiri atas beberapa bangunan penting seperti Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, Makam Troloyo, Candi Menak Jingga, Kolam Segaran, dan beberapa bangunan lainnya yang dicitrakan sebagai kediaman mewah yang hanya dihuni oleh bangsawan.

    1. Candi (Sukuh, Cetho, & Jabung)

    Majapahit memiliki banyak peninggalan Candi yang merupakan bentuk penegasan eksistensi dan keperluan upacara keagamaan. Misalnya Candi Sukuh (1437), Candi Cetho, dan Candi Jabung.

    1. Kitab (Sutasoma, Nagarakrtagama, Pararaton)

    Kerajaan Majapahit memiliki bangsawan-bangsawan kerajaan yang mencatat segala peristiwa yang terjadi. Hal ini sama dengan yang oleh bangsawan Cina lakukan dengan mencatat setiap aktivitas kerajaan untuk keperluan meninggalkan sejarah dan membangun citra yang baik dari setiap masa. Sutasoma dan Arjunawiwaha (Mpu Tantular), Nagarakrtagama (Mpu Prapanca), dan Pararaton adalah kitab-kitab terkemuka yang muncul pada masa kerajaan Majapahit.

    1. Arsitektur

    Sumbangsih yang berkelanjutan dari Majapahit adalah tetap adanya model arsitektur pendopo, bangunan atap susun, dan komplek keraton-masjid-lapangan-pasar meskipun kerajaan yang eksis setelah Majapahit bercorak Islam. Keraton Demak, Masjid Kudus, dan Keraton Kasepuhan Cirebon adalah contoh bangunan kerajaan Islam yang muncul dengan model arsitektur Hindu-Majapahit.

    1. Legitimasi Politik

    Tidak sedikit bangsawan setelah era Majapahit melegitimasikan kekuasannya sebagai keturunan Majapahit. Raden Patah mengklaim sebagai keturunan dari Prabu BraRaden Wijaya Kertabhumi, yang berhasil merebut kota Majapahit dari Prabu RanaRaden Wijaya. Sementara Gerakan nasionalisme Indonesia juga merujuk pada kejayaan Majapahit dan SriRaden Wijaya. Ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan rujukan dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular.

  • Asal Mula Kerajaan Singasari Hingga Mencapai Masa Kejayaan

    Asal Mula Kerajaan Singasari Hingga Mencapai Masa Kejayaan

    Kerajaan Singasari menjadi salah satu kerajaan Hindu nusantara yang tumbuh di wilayah Jawa Timur. Kerajaan ini berdiri menggantikan kerajaan Kediri. Peristiwa tersebut terjadi ketika Ken Angrok atau Sri Ranggah Rajasa menyerbu Daha hingga mengalahkan Kertajaya. Kerajaan Singasari tumbuh sebagai imperium yang kuat, bahkan memperluas wilayah hingga Melayu, Tumasik dan Pahang.

    Pengaruh kerajaan Singasari juga tersebar hingga ke Sulawesi Selatan dan wilayah Maluku, ekspansi tersebut bertujuan demi mengontrol perdagangan rempah yang berasal dari timur. Keberadaan Singasari yang populer, menyebabkan adanya ancaman dari dalam (keturunan penguasa Kadiri) dan dari luar (Mongol). Peninggalan kitab maupun arkeologis dari kerajaan singasari jauh lebih jelas dapat dibaca daripada periode-periode sebelumnya.

    • Letak dan Para Raja Kerajaan Singasari

    kerajaan singosari
    Sumber: web kekunoan

    Kerajaan Singasari berlokasi di Jawa Timur, dengan pusatnya di Kertajaya/Tumapel. Tumapel merupakan kerajaan milik Ken Angrok. Ia merupakan pendiri kerajaan dengan gelar penobatan Sri Ranggah Rajasa. Ken Angrok mendapatkan wilayah tersebut setelah mengalahkan Tunggul Ametung. Setelah menundukkan Kertajaya di Ganter,  ia menjadikan Kediri sebagai wilayah dari Kerajaan Singasari. Ken Angrok kemudian memulai Wangsa Rajasa, dengan kekuasaan tidak hanya di Singasari tetapi hingga sampai akhir masa keemasan Majapahit.

    Raja-raja Singasari dari masa ke masa

    • Ken Angrok (1222-1247)

    kerajaan singasari
    sumber: wikipedia

    Ken Angrok adalah pendiri Singasari sekaligus menjadi raja pertama dengan gelar Sri Ranggah Rajasa. Beberapa sumber sejarah menyatakan ia mulanya merupakan rakyat biasa. Namun namanya dengan jelas tercatat dalam beberapa prasasti seperti Prasasti Maribong, Prasasti Balawi, Prasasti Mula Manurung, dan Prasasti Kusmala. Dalam Kitab Nagarakrtagama dan Pararaton juga mencatat namanya sebagai moyang dari raja Hayam Wuruk. Ken Angrok memiliki dua orang istri, Ken Dedes yang melahirkan Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng dan Ken Umang yang melahirkan Panji Tohjaya. Nak-anak tersebut kelak akan menjadi sosok penting bagi sejarah Singasari dan Majapahit. 

    • Anusapati (1247-1248)

    Anusapati merupakan putra dari Ken Dedes ketika masih bersama Akuwu Tunggul Ametung, Ken Angrok menikahi Ken Dedes setelah berhasil membunuh Tunggul Ametung. Nah, merasa dendam atas kematian ayahnya, Anusapati kemudian mengutus seorang pengalasan untuk membunuh Ken Angrok. Ia kemudian naik tahta pada tahun 1247, namun kekuasaannya tidak bertahan lama. Kabar mengenai pembunuhan Ken Angrok sampai kepada anaknya yang lain. Dan Panji Tohjaya tidak terima lalu membunuh Anusapati. Panji Tohjaya kemudian menjadi pemegang tahta. Anusapati dimakamkan di Kidal, peninggalan yang bisa kita lihat sekarang ini adalah Candi Kidal di Malang.

    • Tohjaya (1248)

    Panji Tohjaya berkuasa untuk menggantikan Anusapati. Masa kekuasaannya pun terbilang sangat singkat, yaitu kurang dari satu tahun. Sebab terjadi konflik dan pemberontakan yang dari kalangan Rajasa dan Sinelir, mereka menyerbu istana. Dalam peristiwa itu Tohjaya terluka dan sempat melarikan diri ke wilayah Katanglumbang, akan tetapi ia tewas akibat luka tombak yang ia dapatkan. Nama Tohjaya tidak terdapat dalam kitab Nagarakrtagama. Salah satu yang menjadi alasan adalah pemberontakan Rajasa tersebut sehingga Tohjaya tidak dianggap sebagai leluhur dari Hayam Wuruk.

    • Wisnuwarddhana (1248-1268)

    Sri Jaya Wisnuwarddhana adalah gelar dari Rangga Wuni setelah ia naik tahta menggantikan raja Tohjaya. Ia menjalankan pemerintahan bersama dengan Mahisa Campaka, yang merupakan cucu dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Masa kekuasaan Wisnuwarddhana tergolong cukup lama kurang lebih dua puluh tahun, dan berjalan dengan damai. Wisnuwardhhana menjadi raja yang langsung mewariskan tahta kepada anaknya, Kertanagara. Informasi dan berita mengenai Wisnuwarddhana terdapat pada kitab Pararaton dan Nagarakrtagama juga pada prasasti tembaga di Kedu. Prasasti tersebut yang dikeluarkan oleh Kertanagara.

    • Kertanagara (1268-1292)

    Raja Kertanegara adalah raja terakhir yang sekaligus menjadi raja terbesar dalam sejarah Singasari. Ia melakukan banyak perluasan cakrawala mandala Singasari hingga ke barat melalui Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan pada tahun 1275 M. Ia juga menaklukkan Tumasik, Melayu, dan Pahang. Setelah itu ia melanjutkan dengan mengalahkan Bali di tahun 1284 M. Seluruh pulau Jawa ada di bawah kekuasaan kerajaan Singasari. Selainn itu, Kertanagara juga pernah menjalin ikatan dengan Kerajaan Champa.

    Melihat besar dan berjayanya kekuasaan Singasari, sampai membuat Kaisar Mongol yang juga tengah mencapai masa kejayaannya tertarik. Kemudian ia mengirim perwakilan dengan tujuan untuk meminta Kertanagara tunduk kepada Mongol. Kertanagara menolak, ia memulangkan utusan tersebut dalam keadaan cacat, hal itu akhirnya menyebabkan invasi Mongol ke pulau Jawa. Akan tetapi sebelum pasukan Mongol tiba, Kertanagara telah mendapat penyerbuan dari raja Kadiri, Jayakatwang. Peristiwa tersebut terjadi ketika Kertanagara hendak memperluas pengaruhnya demi menyaingi pengaruh Dinasti Yuan. Jayakatwang dari Kediri adalah keturunan Kertajaya, ia masih menyimpan dendam terhadap Rajasa, sehingga ia ingin menegakkan kembali Kadiri dengan menghancurkan Singasari.

    • Kehidupan Masyarakat

    1. Kehidupan Politik

    Kerajaan Singasari dalam perjalanannya penuh dengan konflik perebutan kekuasaan. Dimulai sejak Ken Angrok membunuh Kertajaya, sang raja Kediri di Ganter. Pergantian atau pemindahan kekuasaannya pun tidak dilakukan dengan damai. Hingga ketika Wisnuwarddhana yang menggantikan Tohjaya, ia menurunkan tahta kepada anaknya, Kertanagara. Di bawah kepemimpinan raja Kertanagara, kekuasaan politik Singasari tersebar luas hingga ke Semenanjung Malaya, Sumatera timur, seluruh Jawa, Kalimantan Sulawesi Selatan, Bali, bahkan ke kerajaan-kerajaan Asia Tenggara. Ambisi politik Kertanegara sangat besar. Meski begitu, ia juga sangat menghormati leluhurnya yang berasal dari Wangsa Rajasa. Kerajaan Singasari, seperti halnya Kadiri, juga memiliki hubungan saling  tarik ulur dengan raja daerah.

    1. Kehidupan Ekonomi

    Dari segi ekonomi, tidak banyak literatur yang menjelaskan seperti apa interaksi masyarakat Singasari dalam perekonomiannya. Akan tetapi dilihat dari lokasi ibukota kerajaan, lokasinya berada di wilayah pedalaman, mempengaruhi juha pusat pemukiman yang ikut pindah ke dalam. Wilayah pusatnya jauh dari aliran sungai Brantas, sangat berbeda dengan pusat kerajaan lain seperti Kadiri dan Majapahit. 

    Lokasi wilayah yang demikian, tak lantas membatasi aktivitas melalui laut. Salah satunya adalah penjelajahan yang tetap berlangsung melalui jalur laut. Sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwa ada kemungkinan aktivitas perdagangan laut meskipun jauh dengan pusat ibukota. Apalagi sebagian besar masyarakat pedalaman aktivitasnya adalah bertani atau beternak. Singasari juga selain dengan sistem barter, menggunakan koin emas dan perak selain dalam beberapa kegiatan perekonomiannya.

    1. Kehidupan Sosial

    Masyarakat kerajaan Singasari, menganut agama Hindu dan Buddha secara sinkretis, khususnya yang memiliki golongan tertinggi. Sebagai contoh di Pasuruan ada yang menganut agama Siwa-Buddha, lalu di Kertanegara terdapat penganut Buddha Tantrayana, meski banyak leluhurnya yang menganut agama Hindu. Kehidupan beragama lebih longgar daripada masa kerajaan-kerajaan sebelumnya yang cenderung kaku bagi urusan keagamaan. Raja-raja Singasari beberapa kali juga memberikan pemberkatan pada wilayah tertentu sebagai hadiah atas kesetiaannya. Antara lain adalah wilayah Kedu dan Jipang yang mendapatkan anugerah dari Wisnuwarddhana.

    • Runtuhnya Kerajaan Singasari

    Kerajaan Singasari sampai pada masa kejatuhan ketika mendapat serangan dari Jayakatwang, ia merupakan penguasa Gelang-Gelang sekaligus keturunan raja Kadiri Kertajaya. Di tahun 1292, saat Kertanagara sedang sibuk untuk memperluas pengaruhnya ke luar, kondisi dalam negeri justru melemah, sehingga kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Jayakatwang untuk menyerbu Singasari dan membunuh Kertanagara. Kemudian Jayakatwang mengambil alih posisi sebagai  penguasa Kadiri menggantikan Kertajaya sekaligis mengakhiri kekuasaan Singasari. 

    • Peninggalan Kerajaan Singasari

    kerajaan singasari
    sumber: web dictio

    Ada banyak peninggalan Kerajaan Singasari yang bisa kita nikmati hingga saat ini, dan sebagian besar peninggalan-peninggalan tersebut berupa bangunan candi. Candi-candi tersebut berfungsi sebagai tempat ritual agama sekaligus tempat pendharmaan tokoh penting kerajaan. Beberapa peninggalan tersebut antara lain:

    1. Candi Jawi

    Lokasinya berada di wilayah Pandaan-Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Candi ini dibangun Kertanegara untuk menandai kekuasaannya di wilayah Pasuruan, pada saat itu banyak dihuni oleh penganut Siwa-Buddha, sedangkan Kertanagara penganut Buddha Tantrayana. Nah candi Jawi menjadi tempat pendharmaan sebagian dari abu jenazah Kertanegara, sebagian lain berada di Candi Singosari.

    1. Candi Singosari

    Berada di daerah Singosari, Malang, Jawa Timur. Pembangunannya diperkirakan pada tahun 1300 M sebagai bentuk penghormatan untuk memperingati raja Kertanagara yang ketika itu wafat akibat mendapat serangan dari Jayakatwang tahun 1292 Masehi. Candi ini dikunjungi oleh Hayam Wuruk untuk memperingati leluhurnya Wangsa Rajasa.

    1. Candi Kidal

    Berlokasi di kota Malang, Jawa Timur, dibangun pada 1249 masehi ini merupakan tempat pendharmaan Anusapati yang tewas terbunuh Panji Tohjaya ketika konflik perebutan kekuasaan.

    1. Candi Jago

    Yang terakhir adalah Candi Jago, lokasinya berada di Malang. Candi ini dibangun tahun 1268 M berdasarkan perintah dari raja Kertanagara sebagai bentuk peringatan terhadap ayahnya, Wisnuwarddhana.

    Demikian sejarah singkat kerajaan Singosari beserta kehidupan masyarakatnya, semoga bermanfaat dalam menambah wawasan sejarah sahabat Apil sekalian.

  • Mengenal Sejarah Dan Masa Kejayaan Kerajaan Banjar

    Mengenal Sejarah Dan Masa Kejayaan Kerajaan Banjar

    Kerajaan Banjar ialah sebuah Kerajaan Islam pertama yang terletak di kalimantan Selatan, tepatnya Banjarmasin. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1526 sebelum masehi. Dalam perjalanannya Kerajaan banjar sering berpindah tempat bahkan sampai ke Martapura. Dalam kehidupan masyarakat Banjar ada susunan dan peranan sosial yang berbentuk piramid. Mulai dari teratas yaitu golongan penguasa yang terdiri dari bangsawan dan keluarga Raja. Untuk lapisan tengah terdiri dari pemuka agama yang berfungsi untuk mengatur hukum keagamaan dalam Kerajaan. Selanjutnya untuk golongan mayoritas terdiri dari para petani, pedagang dan nelayan. Perekonomian Kalimantan memang sangat pesat, mulai abad 16 sampai 17 dan menjadi kota dagang yang makmur. Untuk suku di Banjar ada 3, yaitu Banjar Muara, Banjar Barang Banyu, dan Banjar Barang Hulu. Banjar berawal dari budaya Manyan, budaya bukit, dan budaya melayu menjadi intinya. Selanjutnya mari kita simak bersama tentang beberapa sejarah dan berbagai bukti peninggalannya.

    1. Sejarah Kerajaan

    Kerajaan Banjar
    sumber: website kataindonesia

    Sejarah Singkat Kerajaan Banjar Islam yang Berawal dari abad ke-15 ketika Kalimantan Selatan diduduki oleh Kesultanan Daha. Raja Kerajaan banjar pada saat itu ialah Raja Sukarama, ketika itu beliau berwasiat untuk mewariskan tahtanya. Mendengar berita tersebut Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung saling berebut tahta. Pertikaian antar saudara tersebutlah penyebab kemunduran Kerajaan Banjar. Raja Sukarama hanya mewariskan tahta untuk cucunya, ia bernama Raden Samudera. Sang cucu merupakan keturunan dari putri Galuh Intan Sari. Raden Samudera merupakan putra dari Raden Manteri Jaya. Kakek Raden Samudera ialah Raden Begawan yang masih saudara Maharaja Sukarama.

    Raden Tumenggung sangat ingin menduduki tahta, dan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan Raden Samudera. Akibat kehidupan politik Kerajaan Banjar, beliau memilih menjadi nelayan dan meninggalkan istana. Beliau mencari ikan di sekitar Pantai Serapat, Kuin Belandian, dan Banjar. Waktu berjalan begitu cepat, sampailah ketika Raden Samudera bertemu Patih Masih. Beliau ialah tokoh dari daerah Bandar yang sudah masuk islam. Para Patih mengadakan pertemuan dan menghasilkan sebuah pendapat, yang isinya akan mengangkat Raden Samudera menjadi Raja. Mendengar berita tersebut Raden Tumenggung murka, terjadilah perang besar kedua saudara. Raden Tumenggung mengerahkan pasuka perangnya menuju sungai Barito dan ujung Pulau Lalak.

    Raden Samudera merasa bahwa pasukannya masih kurang persiapan, akhirnya beliau meminta bantuan ke Raja Demak. Sultan Trenggana merupakan Raja Demak yang adil dan cerdik. Beliau bersedia membantu asalkan Masyarakat mau untuk memeluk agam islam. Raja terakhir kerajaan Banjar adalah Sultan Adam, beliau memerintah dari tahun 1825 sampai 1857. Raja Adam ialah putra dari Sultan Sulaiman Saidullah ll, beliau dimakamkan di kota Martapura Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

    2. Masa Kejayaan Kerajaan

    sumber: website sixx design

    Kejayaan kerajaan Banjar yaitu ketika abad ke-17, berawal dari perang Makassar yang membuat para pedagang dari somba opu, Kesultanan Gowa pindah ke Banjarmasin. Perpindahan mereka membuat perdagangan semakin maju dan berkembang. Perdangan yang mereka kembangan yaitu kulit binatang, intan, damar, madu, rotan, emas dan lada hitam. Ketika abad ke-17 ini Kerajaan Banjar tidak lagi membayar upeti kepada Kesultanan Demak, bahkan wilayah kesultanan Banjar semakin meluas.

    Sultan dalam Kerajaan merupakan penguasa yang tertinggi dan mempunyai kekuasaan dalam agama maupun politik. Sultan pada masa itu ialah Sultan Muta, beliau sebenarnya merupakan pembantu Sultan, yang pada saat itu dinamakan Mangkubumi. Dalam pemerintahannya, Mangkubumi dididampingi menteri panganan, menteri pangiwa, dan menteri bumi. Masing-masing menteri dibantu oleh 40 orang, yang setiap sikap mempunyai bawahan 100 orang. Dalam lingkungan kraton juga terdapat banyak pegawai dan petugas. Antara lain ialah

    Lima puluh orang Sarawisa di bawah pimpinan Sarabraja bertugas menjaga kraton, dan Lima puluh orang Mandung dibawah Raksayuda bertugas menjaga istana bangsal. Empat puluh orang Menagarsari dibawah Sarayuda bertugas mengawal raja,dan Empat puluh orang Singabana atau Parawila dibawah Singataka dan Singapati bertugas sebagai polisi. Empat puluh orang Sarageni di bawah Saradipa bertugas menjaga alat senjata, dan Empat puluh orang Tuha Buru di bawah Puspawana bertugas mengawal raja bila sedang berburu. Lima puluh orang Pangadapan atau Pamarakan dibawah Rasawija melakukan ber aneka ragam tugas di istana.

    3. Peninggalan Kerajaan

    kerajaan banjar
    sumber: website sixx design

    Peninggalan Kerajaan Banjar cukup banyak, seperti senjata kerajaan, perkakas, kitab sabilal muhtadin, masjid al-karomah, masjid Sultan Suriansyah, dan Candi Agung. Pertama dari senjata dan perkakas kerajaan, memang Kerajaan Banjar sudah terkenal dengan kerajaan dagangnya, banyak barang-barang yang terbuat dari logam dan besi. tidak hanya perkakas tetapi juga untuk senjata Kerajaan Banjar sudah cukup terkenal di nusantara.

    Kedua membahas tentang Kitab Sabilal Muhtadin, sebuah kitab kuno yang ditulis oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang isinya merupakan pembelajaran fiqh berdasarkan mazhab imam Syafi,i. Kitab ini merupakan penginggalan Kerajaan Banjar yang masih bisa masyarakat saksikan sekarang. Tertulis pada tahun 1779 masehi pada zaman pemerintahan Sultan Tamjidullah. Kitab sabilal Muhtadin merupakan jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan agama.

    Ketiga tentang Masjid Al-karomah, yang merupakan peninggalan Kerajaan Banjar dan berdiri pada tahun 1863 masehi. Pada dahulu kala masjid ini terkenal dengan nama Jami Martapura. Memang masjid jami mengalami beberapa renovasi, tetapi struktur utama masjid  tetap terlihat original. Masjid ini berfungsi sebagai tempat beribadah, penyebaran agama islam, dan sebagai benteng pertahanan untuk melawan Belanda.

    Keempat masih tentang masjid, yaitu masjid Sultan Suriansyah, yaitu sebuah masjid yang berdiri pada tahun 1526 sampai 1550 pada masa pemerintahan sang Sultan Suriansyah. Tergolong sebagai masjid tertua di daerah Kalimantan Selatan. Dahulu lebih sering terkenal dengan sebutan masjid kuin yang terletak pada kota Banjarmasin.

    kelima, yaitu tentang peninggalan yang sangat bersejarah, ialah Candi Agung. Merupakan sejarah peninggalan hindu budha yang berusia 740 tahun. Candi Agung berukuran 40×50 meter, banyak menarik perhatian para pakar sejarah dan arkeolog. Sumber sejarah kerajaan Banjar masih banyak lagi, ada juga beberapa makam dari Sultan Suriansyah, Sultan Sulaiman, dan Sultan Mustakimbillah.

    4. Runtuhnya Kerajaan Banjar

    sumber: website pustaka madani

    Kesultanan Banjar sebelumnya merupakan daerah yang sangat makmur, karena banyak daerah dari Kalimantan yang memberikan upeti rutin. Kesultanan ini semakin kuat ketika banyak menaklukan banyak daerah sekitar Boreno, diantaranya Sambas, Lawai, Kota Waringin, Pembuang, Sampit, Mandawai, Kahayan Hulu, Kahayan Hilir, Pulau Laut, Kutai, Pasir, Asam Asam, Kintap, Satui, sanpai Swarangan.
    Pernah terjadi Kesultanan Mataram Mengancam Kesultanan Banjar, yang dibawah pimpinan Sultan Agung. Hubungan dua Kerajaan ini sempat memanas dan akhirnya melakukan perjanjian damai pada tahun 1637. Keruntuhan Kerajaan berawal dari perlawanan terhadap Belanda, pada waktu itu pemimpinnya ialah Sultan Mohammad Seman. Beliau memerangi Belanda pada tahun 1862 sampai 1905, dan beliau berhasil dikalahkan oleh Belanda.

    Sekian untuk sejarah dari Kerajaan Banjar, semoga bermanfaat.

  • Sejarah Kerajaan Nusantara, Kehidupan Sosial Ekonomi Kerajaan Bali

    Sejarah Kerajaan Nusantara, Kehidupan Sosial Ekonomi Kerajaan Bali

    Sejarah – Halo sahabat Apik, pada kesempatan kali ini KabarApik akan memberikan sejarah singkat mengenai Kerajaan Bali. Nah Kerajaan Bali ini masih memiliki hubungan atau keterkaitan yang erat dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Khususnya di wilayah Jawa Timur misalnya Singasari dan Majapahit.

    Sejarah Berdirinya Kerajaan Bali

    kerajaan bali
    Sumber: web balitoursclub

    Selain kerajaan-kerajaan yang berada di Jawa dan Sumatra, sejarah kerajaan Nusantara yang berada di pulau Bali juga menarik untuk kita pelajari. Dulunya pemerintahan kerajaan pulau Bali sempat berganti beberapa kali. Sebab saat itu, banyak terjadi konflik antar kerajaan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.

    Berita tertua yang membahas mengenai sejarah pulau Bali bersumber beberapa cap kecil yang terbuat dari tanah liat. Sumber tersebut ditemukan di Pejeng, Bali dengan ukuran sekitar 2,5 cm dan telah ada sejak abad ke-8 M. Selain itu, ada juga prasasti tahun 882 M dan merupakan yang tertua di Bali. Isinya mengenai perintah untuk membuat pertapaan dan juga pasanggrahan di Bukit Cintamani. Kemudian ada prasasti yang bertuliskan tahun 911 M. Dalam prasasti tersebut berisikan izin untuk warga Desa Turunan membangun tempat suci yang fungsinya sebagai tempat pemujaan Bhattara Da Tonta. Namun di antara prasasti-prasasti tersebut tidak ada yg mencantumkan nama raja yang berkuasa pada saat itu.

    Kerajaan Bali yang pertama adalah Kerajaan Bedahulu kemudian dilanjutkan kerajaan majapahit.

    Nah setelah kerajaan  Majapahit runtuh, wilayah Bali dikuasai oleh kerajaan Gelgel dan kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Klungkung. Ketika kerajaan Klungkung berkuasa, terjadi konflik yang menyebabkan perpecahan dan terbaginya kerajaan menjadi delapan kerajaan kecil atau Swapraja. 

    Kita kembali ke pembahasan mengenai kerajaan pertama di Bali yaitu kerajaan Bedahulu atau yang juga terkenal dengan nama kerajaan Bedulu. Kerajaan ini berpusat di Bedulu, Gianyar, Bali dan berdiri sekitar abad 8 hingga abad 14 Masehi. Menurut sejarahnya, kerajaan ini dipimpin oleh bangsawan dari dinasti Warmadewa. Sri Kesari Warmadewa merupakan sosok yang menjadi raja pertama kerajaan Bedahulu.

    Sejarah keberadaan Kerajaan Bali diketahui pula dari prasasti Blancong (Sanur) tahun 914 Masehi. Prasasti ini tulisannya menggunakan huruf Pranagari dan Kawi, dengan bahasa Bali kuno dan juga Sansekerta.

    Raja Bali pertama ialah Kesari Warmadewa. Ia merupakan pemimpin di istana Singhadwala dan menjadi pendiri Dinasti Warmadewa. Tidak begitu banyak literatur yang menjelaskan mengenai masa pemerintahannya, ia kemudian tergantikan Ugrasena yang bertahta pada tahun 915 hingga 942. Nah Masa pemerintahan Ugrasena ini sezaman dengan masa pemerintahan Empu Sendok yang ada di wilayah Jawa Timur.

    Raja Ugrasena mewariskan 9 prasasti, yang sebagian besar berisi tentang masalah pembebasan pajak bagi beberapa wilayah tertentu.

    Selepas pemerintahan Ugrasena, kerajaan Bali kemudian dipimpin oleh Aji Tabanendra Warmadewa (955-967) bersama permaisurinya Sri Subadrika Dharmadewi. Dilanjutkan Jayasingha Warmadewa (968-975). Ia membangun sebuah pemandian yang airnya berasal dari sebuah mata air di Desa Manukaya. Dan pemandian itu kita kenal sekarang dengan nama Tirtha Empul yang lokasinya berada di dekat Tampaksiring.

    Kekuasaan selanjutnya selepas Jayasingha beralih ke Janasadhu Warmadewa. Ia berkuasa hingga tahun 983 Masehi, kemudian  digantikan oleh Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi yang merupakan raja perempuan pertama. Selanjutnya, kekuasaan dipimpin oleh Udayana Warmadewa yang memerintah kerajaan bersama permaisurinya, Gunapriya Dharmapatni Mahendradatta. Raja Udayana memimpin pemerintahannya sampai tahun 1011 M.

    Udayana adalah raja yang berwibawa dan berpengaruh besar. Ia menikah dengan Sri Gunaprya Darmapatni yang merupakan saudari Darmawangsa Teguh yang berasal dari Medang Kamulan, Jawa Timur. Mereka memiliki beberapa putra yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga yang merupakan anak sulung, kemudian menikahi  puteri Raja Darmawangsa Teguh dan mewarisi tahta kekuasaan Medang Kamulan sepeninggal Darmawangsa.

    kerajaan bali
    Sumber: web kintamaniid

    Sedangkan Udayana, sepeninggalnya ia digantikan puteranya, Dharmawangsa Marakata.

    Kepemimpinannya berakhir setelah ia wafat tahun 1025 M. Sepeninggal Marakata, kepemimpinan wilayah Bali beralih kepada adiknya, Anak Wungsu. Ia memerintah mulai tahun 1049. Selama masa pemerintahannya, terdapat 28 buah prasasti yang ia tinggalkan, antara lain prasasti Gunung Penulisan, Prasasti Gua Gajah, dan Sangit. Dalam prasasti2 tersebut, digambarkan bahwa Anak Wungsu begitu dicintai oleh masyarakatnya  dan bahkan mereka menganggapnya sebagai jelmaan Dewa Wisnu. Ia menduduki tahta hingga tahun 1077, kemudian wafat tahun 1080 Masehi. Makamnya berada di Candi Padas Tampaksiring.

    Kepemimpinan lalu beralih dari Anak Wungsu kepada Sri Maharaja Walaprabu. Ia berkuasa pada tahun 1079 hingga 1088. Selanjutnya tahta dilanjutkan Raja terkenal Bali yaitu Jayapangus. Ia berkuasa dari tahun 1170 hingga 1181. Terdapat 35 prasasti yang membahas mengenai Jayapangus. Ketika menjalankan pemerintahan, Jayapangus dibantu dua permasyurinya, yaitu Sri Mahadewi Sasangkajacinhna dan Sri Prameswari Indujaketana.

    Lalu Raja Bali terakhir ialah Paduka Bhatara Parameswara Sri Hyang ning Hyang Adedewalancana. Ia berkuasa sejak 1260 hingga 1324 masehi. Pada tahun 1282, Bali mendapat serangan dari kerajaan Singasari, Kertanegara. Selanjutnya Bali jatuh dalam kekuasaan Majapahit. Ketika runtuhnya Majapahit, banyak sekali bangsawan, pendeta, seniman, pedagang, hingga sebagian masyarakat umum yang pindah ke Bali. Hal tersebut demi menghindari proses islamisasi di Jawa. Oleh sebab itu, hingga sekarang ini mayoritas masyarakat pulau Bali merupakan penganut Hindu akibat pengaruh Majapahit.

    Kehidupan Masyarakat Kerajaan Bali

    • Kehidupan Ekonomi

    Dalam bidang ekonomi, kehidupan masyarakat Pulau Bali sebagian besar mengandalkan sektor pertanian. Hal tersebut tercantum dalam beberapa prasasti, di mana ada pembahasan yang berkaitan dengan masalah bercocok tanam. Istilah-istilah yang tercantum antara lain sawah, kebwan (kebun), parlak (sawah kering), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).

    Selain itu masyarakat Bali juga terdapat profesi lain seperti Pande (Pandai=Perajin), mereka  ahli dalam kerajinan perhiasan emas dan perak. Membuat prabotan rumah tangga, alat pertanian, hingga senjata. Lalu ada Undagi yang alhli melukis, memahat, dan membuat bangunan. Dan tentunya tak terlepas dari profesi sebagai Pedagang.

    Dalam aspek sosial dan budaya, ada beberapa hal yang berkembang dalam struktur masyarakat Kerajaan Bali Kuno, antara lain sebagai berikut:

    Sistem Kesenian, pada saat itu sistem kesenian yang berkembang dibedakan dalam dua sistem yaitu sistem kesenian rakyat sistem dan kesenian keraton.

    Sistem Kasta (Caturwarna), sistem ini berdasarkan kebudayaan Hindu India. Masa  awal perkembangan agama Hindu di Bali,  masyarakatnya juga terbagi menjadi beberapa kasta.

    Sistem Hak Waris, harta benda keluarga hak warisnya berbeda antara anak perempuan dan anak laki-laki. Hak waris anak laki-laki lebih besar daripada anak perempuan.

    Agama dan Kepercayaan, telah diketahui bahwa masyarakat Bali begitu mempertahankan tradisi maupun kepercayaan dari nenek moyangnya, walaupun mereka sangat terbuka dan banyak menerima pengaruh luar. Sehingga di Bali banyak yang menganut agama Hindu, Buddha, hingga kepercayaan animisme warisan leluhur.

    Masa Kejayaan dan Runtuhnya Kerajaan Bali

    kerajaan bali
    Sumber : web museumnusantara

    Dalam sejarahnya, Kerajaan Bali sampai pada masa keemasannya ketika pemerintahan Dharma Udayana (Dharmodayana). Di masa pemerintahannya, sistem pemerintahan menjadi semakin jelas dan teratur dari pada raja-raja sebelumnya. Dharmodayana juga  memperkuat hubungan dengan raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur, ia mengawinkan Dharma Udayana dengan putrinya Mahendradata. Hal tersebut  mempererat hubungan antara Pulau Jawa dan Bali.

    Selain sejarah mengenai masa kejayaan, kerajaan Bali juga mencapai batasnya ketika  Mahapatih Gajah Mada memperluas ekspansinya ke nusantara, di sinilah awal mula runtuhnya kerajaan Bali. Gajah Mada mengajak raja Bali berunding terkait penyerahan kerajaan Bali ke dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit, patih Kebo Iwa terpilih menjadi utusan ke Majapahit. Utusan tersebut bertujuan untuk perundingan damai. Akan tetapi, Kebo Iwa justru terbunuh. Kerajaan Majapahit kemudian mengirim Gajah Mada dengan berpura-pura untuk berunding, ia lalu membunuh raja Gajah Waktra, dan jatuhlah kerajaan Bali ke tangan Kerajaan Majapahit.

    Nah terdapat beberapa Peninggalan Kerajaan Bali yang hingga saat ini bisa kita lihat, peninggalan-peninggalan tersebut sebagian besar berupa prasasti, yaitu:

    • Prasasti Blanjong
    • Prasasti Panglapuan
    • Pura Agung Besakih
    • Candi Wasan
    • Candi Mengening
    • Prasasti Gunung Panulisan
    • Prasasti-prasasti peninggalan Anak Wungsu
    • Candi Padas di Gunung Kawi
  • Mengenang Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

    Mengenang Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

    Halo sahabat Apik, sebelumnya kita sudah banyak membahas menyenai kerajaan di Nusantara, seperti kerajaan demak, kerajaan Majapahit, kerajaan banten dll. Nah kali ini kita akan membahas sejarah singkat kerajaan Mataram Islam.

    Kerajaan Mataram Islam atau yang dikenal juga dengan nama Kesultanan Mataram menjadi kerajaan Islam terbesar yang pernah ada di Jawa. Kekuatan militer hingga politiknya mampu menyaingi VOC di Batavia, bahkan menolak pengaruh ekonomi dan politik VOC dalam kerajaan. Tetapi pada akhirnya Kesultanan Mataram jatuh dalam pengaruh politik VOC ketika adanya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Mataram pun terbagi menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

    A. Sejarah Singkat

    kerajaan mataram islam
    Keraton Yogyakarta; sumber web kratonjogja

    Kesultanan Mataram di awal mula berdiri berada di Alas Mentaok, wilayah antara Kali Opak dan Kali Progo. Wilayah tersebut diberikan oleh Sultan Pajang, Hadiwijaya ke Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas terbunuhnya Arya Penangsang. Kemudian Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan mengganti mengelola wilayah tersebut selepas ayahnya wafat pada tahun 1984.

    Sutawijaya kemudian menjadi pemimpin Mataram. Ia mendapat gelar Panembahan Senopati ing Alaga sekaligus menjadi raja pertama Mataram. Di tahun 1587 setelah raja kerajaan Pajang, Hadiwijaya wafat, lalu Panembahan Senopati merebut Pajang dari Pangeran Benowo kemudian menjadikannya kadipaten. Nah, berikut para pemimpin Kerajaan Mataram Islam dari masa ke masa:

    • Sutawijaya/Panembahan Senopati (1584-1601)

    Panembahan Senopati merupakan sultan pertama, ia menggantikan ayahnya Ki Ageng Pemanahan untuk mengelola wilayah Mataram. Mataram baru menjadi negara ketika ia berhasil merebut kekuasaan Pajang. Pada masa kepemimpinannya, ia berhasil menaklukkan banyak wilayah di sekitarnya seperti Surabaya, Madiun, dan Kediri. Ia juga pernah menguasai daerah Priangan kemudian menjalin persahabatan dengan wiolayah Cirebon.

    • Raden Mas Jolang/Panembahan Seda ing Krapyak (1601-1613)

    Raden Mas Jolang merupakan putra dari Panembahan Senopati dan salah satu selirnya. Pada masa pemerintahannya, ia menyempurnakan pembangunan kawasan Kotagede, yang meliputi segaran, Taman Danalaya, dan juga komplek pemakaman. Nama Panembahan Seda ing Krapyak bermula dari wafatnya Raden Mas Jolang pada Krapyak yang merupakan tempat perburuan.

    • Sultan Agung Hanyakrakusuma/Raden Mas Rangsang(1613-1645)

    kerajaan mataram islam
    Sultan Agung; via web antaranews

    Berikutnya adalah Sultan Agung. Ia dikenal menjadi raja yang terbesar dalam sejarah Mataram. Selepas Raden Mas Jolang wafat, banyak wilayah yang ingin melepaskan diri. Sultan Agung kemudian berupaya untuk menyatukan kembali wilayah-wilayah tersebut. Di tahun 1625 Masehi, ia melancarkan serangan terhadap Surabaya, disusul Pati, Giri, hingga Blambangan. Kerajaan Mataram menggempur VOC di Batavia di tahun 1628 dan 1629, namun kedua serangan tersebut berujung kegagalan.

    Pada masa kekuasaan Sultan Agung, Mataram mampu meningkatkan produksi dan ekspor beras lewat pelabuhan Pantai Utara Jawa. Ia juga mendirikan komplek perkotaan di Plered, dan mengkombinasikan penanggalan Islam dan Hindu yang kita kenal saat ini dengan kalender tahun Jawa.

    • Raden Mas Sayidin/Amangkurat I (1646-1677)

    Sultan Agung wafat tahun 1645, putranya, Raden Mas Sayidin, menggantikan tahta kekuasaan. Raden Mas Sayidin atau Amangkurat I kurang begitu mendapat dukungan dari masyarakat dan pejabat kerajaan, yang membuatnya mulai mendekati VOC. Pendekatan itu menimbulkan masalah di kalangan keraton yang tidak terlalu menyukai hal tersebut. Kekacauan terjadi ketika Trunojoyo memberontak sekitar tahun 1670-an, dan tahun 1677 Trunojoyo merebut keraton Plered dan wilayah pantai utara. Amangkurat pun melarikan diri menuju Cirebon, akan tetapi ia wafat dalam perjalanannya.

    • Pangeran Adipati Anom/Amangkurat II (1677-1703)

    Pada masa ini, pusat kekuasaan Mataram  berpindah ke Kartasura, dan nama Kesultanan Mataram menjadi Kasunanan Kartasura. Amangkurat II melanjutkan raja sebelumnya melawan pemberontakan Trunojoyo. Pada tahun 1678 ia berhasil menghancurkan pusat pemberontakan di Kadiri dengan bantuan VOC. Amangkurat II lalu memberikan konsesi politik dan ekonomi kepada VOC berkat bantuannya.

    • Amangkurat III (1703-1705)

    Pergantian tahta kekuasaan pada Amangkurat III diwarnai peristiwa pemberontakan yang dilakukan Pangeran Puger, untungnya ketegangan tersebut berhasil diredam oleh Amangkurat II. Namun, di masa kekuasaan Amangkurat III, justru dukungan terhadap Pangeran Puger menjadi tinggi, dan VOC tidak percaya terhadap garis keluarga Amangkurat. Sehingga di tahun 1704, Pangeran Puger menjadi Sunan Kartasura bergelar Pakubuwana I, ia menyatakan perang melawan Amangkurat. Hingga akhirnya Amangkurat lari dan menyerahkan Kartasura.

    • Pakubuwana I (1705-1719)

    Pakubuwana I menguasai Kartasura setelah mengalahkan Amangkurat III, ia menjadi raja sah namun terikat dengan VOC. Ia bahkan mengeksekusi Adipati Jangrana karena VOC menilainya yang membantu pemberontakan Surapati. Padahal Adipati Jangrana adalah sosok yang membantu ketika melawan Amangkurat III. Pakubuwana kemudian wafat tahun 1719.

    • Amangkurat IV (1719-1726)

    Amangkurat IV merupakan putra Pakubuwana I. Ia mewarisi tahta kekuasaan dan memilih untuk menggunakan gelar Amangkurat. Tidak berjalan dengan mulus, naiknya Amangkuran IV diwarnai aksi pemberontakan pemberontakan oleh Pangeran Blitar, Madiun, Purbaya, serta Arya Mataram di Pati. Namun dengan bantuan VOC, semua aksi pemberontakan tersebut berhasil diatasi. Amangkurat IV wafat pada tahun 1726 akibat diracun.

    • Pakubuwana II (1726-1749)

    Pakubuwana II merupakan putra Amangkurat IV. Pada masa kekuasaannya terjadi sebuah peristiwa peristiwa besar, Geger Pacinan. Peristiwa tersebut adalah aksi pemberontakan orang Tionghoa dan Jawa terhadap VOC yang membantai etnis Tionghoa di Batavia. Namun pemberontakan tersebut berhasil diredam oleh VOC. Pakubuwana lalu memindahkan kekuasaan ke Surakarta. Kerajaan Mataram dikuasai Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Pada 1747 ia mengambil paksa kekuasaan dari Pakubuwana yang saat itu sedang sakit, dan kemudian menunjuk raja baru.

    • Pakubuwana III (1749-1788)

    Pakubuwana III menjadi sultan menggantikan Pakubuwana II. Ia diangkat langsung oleh van Imhoff. Posisinya sebagai raja tidak begitu berarti karena dia berada dibawah kendali VOC. Ia menyetujui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi kekuasaan menjadi Yogyakarta dan Surakarta. Pakubuwana III menjabat sampai tahun 1788 Masehi sebagai Sunan Surakarta. sedangkan Pangeran Mangkubumi yang merupakan putra dari Amangkurat IV memperoleh kekuasaan di wilayah Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwono I.

    B. Masa Kejayaan dan Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

    kerajaan mataram islam
    Keraton Kotagede; sumber web krjogja

    Masa kejayaan Mataram berlangsung di periode kekuasaan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Ia pernah menggempur VOC hingga dua kali. Ia juga membangun sistem agraris yang baik, pasar perdagangan di Pantai Utara Jawa. Selain itu, Sultan Agung membangun sistem kalender tahun Jawa yang masih kita gunakan sampai saat ini. Kekuasaannya mulai dari dari Blambangan hingga wilayah barat pulau Jawa.

    Menurut sejarah, Mataram runtuh pada tahun 1755 akibat kesepakatan Perjanjian Giyanti. Perjanjian tersebut membagi kekuasaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Hal tersebut merupakan buntut dari banyaknya wewenang yang diberikan kepada VOC.

    Kerajaan Mataram Islam juga meninggalkan beberapa peninggalan yang bisa kita saksikan hingga saat ini, antara lain:

    • Keraton Kotagede

    Kotagede pernah menjadi pusat kekuasaan Mataram. Komplek ini dibangun oleh Panembahan Senopati yang merupakan Sultan pertama kerajaan Mataram. Komplek keraton Kotagede berdiri sekitar tahun 1588. Sejak Amangkurat I membangun kekuasaan di wilayah Plered, komplek keraton ini mulai ditinggalkan.

    • Pertapaan Kembang Lampir

    Pertapaan ini merupakan tempat semedi bagi Ki Ageng Pemanahan. Lokasi nya sangat sakral dan saat ini dirawat oleh penerus Mataram yang berasal dari bagian Kesultanan Yogyakarta.

    • Komplek Makam Kotagede, Girilaya dan Imogiri

    Raja-raja Mataram menyediakan wilayah khusus sebagai tempat memakamkan keluarganya. Di pusat kekuasaan, Kotagede, terdapat makam Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, dan Panembahan Senopati. Pemakaman Girilaya terdapat makam dari Kiai Ageng Giring, Kiai Ageng Sentong, dan Sultan Cirebon V. Tokoh lainnya adalah: makam Kanjeng Ratu Mas Hadi (yaitu ibu Sultan Agung), Kanjeng Ratu Pembayun (adalah istri Amangkurat), dan juga Kanjeng Panembahan Juminah (yaitu paman Sultan Agung). Sedangkan komplek  makan yang berada di Imogiri terdapat makam Sultan Agung dan istrinya, Amangkurat (II dan III), Pakubuwana (1-XII), dan Hamengkubuwana (kecuali yang kedua).

  • Sejarah Peradaban Masyarakat Kerajaan Pajang dan Peninggalan Sejarahnya

    Sejarah Peradaban Masyarakat Kerajaan Pajang dan Peninggalan Sejarahnya

    Sejarah kerajaan di Nusantara selalu memiliki cerita yang menarik untuk dipelajari. Mulai dari pendirian kerajaan dan perebutan tahta kekuasaannya hingga pada peninggalan-peninggalan yang masih bisa kita lihat sampai saat ini. Nah sahabat Apik, kali ini kita akan membahas mengenai sejarah kerajaan Pajang yang berada di Pulau Jawa.

    Berbicara mengenai kerajaan di Pulau jawa, sejarahnya tidak terlepas dari konflik dan dendam. Salah satunya adalah kisah yang melatarbelakangi berdirinya kerajaaan Pajang ini. Bermula ketika Hadiwijaya atau Jaka Tingkir yang menyingkirkan raja Kerajaan Demak, yaitu Arya Penangsang. Kemudian kerajaan Pajang berdiri pada tahun 1568 Masehi.

    Pendiri kerajaan Pajang adalah Jaka Tingkir. Sebelum menjadi sebuah kerajaan, wilayah Pajang berada dalam kekuasaan Kerajaan Demak. Jaka Tingkir menjadi adipati yang memimpin wilayah Pajang ini. Ia juga merupakan seorang menantu dari Sultan Trenggono, dan merupakan sosok yang cukup setia pada kerajaan Demak. Namun peristiwa Arya Penangsang, yang merupakan raja Demak saat itu, yang membunuh Sunan Prawata dan Pangeran Kalinyamat, membuat Jaka Tingkir memberontak.

    Setelah Arya Penangsang jatuh, Jaka Tingkir mengambil alih tahta dan diangkat menjadi pemimpin Demak. Ia mendapatkan gelar sebagai Sultan Hadiwijaya, yang merupakan gelar pengukuhan bagi wilayah-wilayah yang berada dalam kekuasaan Kerajaan Demak. Ia lalu memindahkan pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di Demak ke Pajang. Tidak hanya pusat pemerintahan, Jaka Tingkir juga memindahkan semua benda pusaka Kerajaan ke Pajang. Dengan peristiwa tersebut, Hadiwijaya atau Jaka Tingkir menjadi raja pertama dari Kerajaan Pajang.

    A. Sejarah Singkat

    kerajaan pajang
    Sumber: web goodnewsfromindonesia

    Dari sumber sejarah yang ada,  Kerajaan Pajang terletak di daerah Pajang, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Tepatnya berada di bagian barat Surakarta. Wilayah kekuasaan dari Pajang ini meliputi wilayah Pengging (Boyolali dan Klaten), Tingkir (Salatiga), Butuh (Madiun dan daerah lain di kawasan Sungai Bengawan Solo), Bagelen, Kedu, Mataram, Pati, Demak, Bojonegoro, Kediri, Jepara, dan beberapa daerah di Jawa Timur.

    Kerajaan berada dalam masa kejayaannya ketika berada dalam pimpinan raja Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Ia berhasil membuat wilayah kekuasaannya semakin bertambah luas. Bermula dari tanah pedalamannya di Jawa tengah, Hadiwijaya kemudian berhasil menguasai wilayah timur hingga Madiun. lalu menggulingkan Blora di tahun 1554 menaklukan Kediri tahun 1577. Bahkan para raja besar di Jawa Timur saat itu sangat mengakui kedudukan serta wilayah kekuasaannya.

    Kerajaan Pajang juga memiliki kondisi sosial budaya yang cukup maju dan sumber daya alam yang melimpah. Wilayah Pajang merupakan daerah lumbung padi besar, saluran irigasi yang berjalan lancar. Hadiwijaya sampai memperoleh penghargaan dari para raja Jawa Timur dengan dinobatkan sebagai Sultan Islam.

    Pada tahun 1582 terjadi peristiwa perang antara kerajaan Pajang dan kerajaan  Mataram. Raja Hadiwijaya menderita penyakit setelah peristiwa tersebut lalu wafat. Ketika kursi kepemimpinan kosong, tahta kerajaan Pajang menjadi lalu rebutan antara putranya, Pangeran Benawa, dengan menantunya yaitu Arya Pangiri. Pada akhirnya kursi kepemimpinan Pajang diambil alih Arya Pangiri. Sedangkan Pengeran Benawa menuju ke Jipang. Di masa kepemimpinan Raja Arya Pangiri, kehidupan masyarakatnya tidak terlalu mendapatkan perhatian. Ia bukan merupakan seorang yang bijak seperti raja sebelumnya dan terlalu sibuk mengupayakan balas dendam kepada Mataram.

    Pangeran Benawa merasa prihatin dengan kondisi Pajang yang demikian. Kemudian Pangeran Benawa bersama Sutawijaya menyerang Pajang pada tahun 1586. Arya Pangiri tumbang di tangan mereka berdua dan dipulangkan ke Demak. Pangeran Benawa mengambil alih tahta Kerajaan Pajang. Ia berkuasa hingga tahun 1587 tersebut, setelah pemerintahan Pangeran Benawa berakhir, tidak ada yang meneruskan tahtanya, sebab ia tidak memiliki putra mahkota. Akibatnya kerajaan Pajang diwariskan menjadi wilayah bagi kekuasaan Mataram.

    B. Raja-raja Kerajaan Pajang

    kerajaan pajang
    Sumber: web ruangguru

    Dalam masanya, kerajaan Pajang dipimpin oleh lima orang raja, mulai dari tahun 1568 hingga 1618. Berikut informasi singkat mengenai raja-rajanya dari masa ke masa.

    • Jaka Tingkir (1568-1583)

    Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya terkenal sebagai raja yang pemberani tersebut. Ia juga merupakan cucu dari salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Jaka Tingkir menikahi puteri Sultan Trenggana dari Raja Kerajaan Demak. Ia sosok yang menggulingkan kepemimpinan Arya Penangsang, kemudian menggantikannya menjadi Raja Demak. Dari situ kemudian Jaka Tingkir mendapat gelar “Hadiwijaya”. Sultan Hadiwijaya lalu memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah Pajang dan mendirikan Kerajaan. Di masa kekuasaannya, Ia mampu menyebarkan ajaran agama Islam di wilayah selatan Jawa.

    • Arya Pengiri (1583-1586)

    Setelah pemerintahan Hadiwijaya berakhir, Arya Pengiri naik tahta menggantikannya. Sayangnya di tangan Arya Pengiri, Kerajaan Pajang mengalami kemunduran akibat kurang bijaksananya dalam memimpin. sehingga, pemerintahannya dengan mudah mendapat serangan dari persekutuan Pengeran Benawa dan juga Sutawijaya dari Mataram. Arya Pangiri pun jatuh dan kemudian kekuasaan Pajang jatuh ke tangan Pangeran benawa.

    • Pangeran Benawa (1586-1587)

    Pangeran Benawa naik tahta menjadi raja Pajang setelah menjatuhkan Arya Pengiri. Di masa pemerintahannya, ia bisa menjalin kerjasama yang cukup baik dengan Kerajaan Mataram. Kepemimpinan Pangeran Benawa tidak berlangsung lama, hanya selama satu tahun dan kemudian wafat. Kerajaan Pajang kemudian masuk dalam wilayah kekuasaan Sutawijaya Mataram, Sesuai keinginannya Pangeran Benawa. 

    • Gagak Bening (1587-1591) 

    Selepas Pangeran Benawa wafat, Pajang masuk ke dalam wilayah Mataram. Meski demikian Pajang tetap memiliki raja, yang saat itu adalah Gagak Bening. Ia merupakan salah satu Pangeran dari Mataram. Di masa pemerintahan Gagak Bening, banyak  perombakan dan perluasan bangunan istana yang ia lakukan.

    • Pangeran Benawa II 

    Sultan terakhir yang berkuasa di kerajaan Pajang adalah Pangeran Benawa II. Setelah Gagak Bening wafat, pemerintahan Pajang diambil alih oleh cucu Sultan Hadiwijaya, yaitu Pangeran Benawa II. Ia menaiki tahta di usia yang cukup muda. Masa pemerintahannya berjalan baik tanpa masalah saja tanpa masalah. Hingga pada tahun 1617-1618, Pajang hendak melepaskan diri dari kerajaan Mataram. Dan Pangeran Benawa II pun mengerahkan pasukan menyerang Mataram. Sayangnya dalam pertempuran tersebut Pajang justru kalah dan hancur, berakhirlah eksistensi kerajaan Pajang.

    C. Peninggalan Kerajaan Pajang

    kerajaan pajang
    Kampung batik Laweyan; sumber web paketliburan

    Pajang memiliki beberapa peninggalan yang bisa kita nikmati hingga saat ini, diantaranya adalah:

    • Makam Jaka Tingkir

    Peninggalan Pajang yang populer adalah Makam Jaka Tingkir. Lokasinya berada di desa Butuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Nama komplek pemakamannya adalah Makam Butuh dan juga di kawasannya terdapat sebuah masjid yang bernama Masjid Butuh.

    • Kampung Batik Laweyan

    Kampung ini terkenal sebagai salah satu perkampungan wisata batik. berada di kelurahan Laweyan, Surakarta, Keberadaan kampung batik ini sudah eksis sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546. Dan kampung ini mengusung konsep desa yang terintegrasi.

    • Masjid Laweyan Solo

    Masjid Laweyan pada tahun 1546 didirikan oleh Joko Tingkir. Lokasinya berada di Dusun Belukan, Pajang, Surakarta. Di samping masjid laweyan ini terdapat makam kerabat Kerajaan Pajang. salah satunya adalah makam Ki Ageng Henis yang merupakan penasehat spiritual. Bangunan masjid ini cukup unik karena memadukan gaya tradisional Jawa, Cina Eropa, dan Islam.

    Nah, demikian sahabat Apik informasi singkat mengenai sejarah kerajaan Pajang. Semoga informasinya menarik dan dapat bermanfaat.

  • Sejarah Kehidupan Sosial Politik Pada Masa Kerajaan Demak

    Sejarah Kehidupan Sosial Politik Pada Masa Kerajaan Demak

    Halo sahabat Apik, kembali lagi di artikel yang membahas mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di nusantara. Kali ini kita akan membahas mengenai sejarah kerajaan Demak.

    Kerajaan Demak terkenal sebagai kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa, Lokasinya berada dii sisi utara Pantai Jawa. Sebelumnya Demak merupakan bagian penting Kerajaan Majapahit. Lokasinya yang berada di wilayah pesisir utara, membuat Demak menjadi poros perdagangan yang cukup penting. Hal tersebut membuat demak berkembang pesat menjadi pusat kebudayaan yang baru, yaitu agama Islam. Tak heran jika kerajaan ini menjadi pelopor dari adanya penyebaran agama Islam di pulau Jawa, terutama melaluin ulama-ulama besar yang kita kenal dengan Wali Songo.

    Pusat kekuasaan yang sebelumnya berada di wilayah Demak modern, di masa kekuasaan Sunan Prawata pindah ke Prawata, wilayah Pati pada. Kemudian di masa pemerintahan Arya Penangsang, dipindahkan lagi ke Jipang. Demak menguasai hampir seluruh wilayah pesisir dan juga aspek perdagangan pantai utara. Selain itu, pengaruhnya juga tersebar ke beberapa pelabuhan utama Jawa Timur, misalnya Gresik, Tuban dan Surabaya.

    kerajaan demak, masjid agung
    Sumber: web tirtoid

    A. Kehidupan Masyarakat

    • Kehidupan Sosial

    Ketika agama Islam masuk, terdapat perbedaan mencolok terhadap kehidupan masyarakat antara Kerajaan Islam dan Hindu, terutama faktor akses terhadap agama yang dapat dianut oleh masyarakat umum. Islam tidak mengenal kasta, sehingga dapat dianut masyarakat di berbagai lapisan. Berbeda dengan Hindu yang mengenal beberapa kasta dan juga terdapat beberapa ritual yang membutuhkan biaya besar. Sebagai contoh persembahan untuk dewa atau brahmana.

    Kehidupan kerajaan Demak yang terlihat dari sistem sosial kerajaan Islam yang cenderung bersifat egaliter, tentunya menjadi bentuk pembaharuan yang belum pernah ada sebelumnya di Jawa. Membaurnya antara petinggi kerajaan dan rakyatnya ketika beribadah menjadi hal baru dalam sistem feudal, dimana posisi penguasa begitu tinggi.

    • Kehidupan Politik kerajaan Demak

    Dalam kehidupan politik, Demak merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbesar di pulau Jawa. Ia menyudahi dominasi panjang kerajaan Majapahit serta keberadaan penguasa Sunda yang konsisten koko sejak abad 6 Masehi. Di beberapa wilayah seperti Tuban, Surabaya dan Madiun, Kerajaan menempatkan adipati yang merupakan perpanjangan tangan dari Sultan. Selain itu Kerajaan Demak pula yang pertama bersentuhan atau bertemu dengan imperialisme barat. Munculnya kerajaan Demak abad ke-16 disusul dengan pendudukan bangsa Portugis di Malaka. Sunda Kelapa kemudian direbut pada tahun 1527,  hal tersebut merupakan upaya Demak untuk menguasai pesisir utara dan mencegah kedatangan Portugis ke pulau Jawa.

    • Kehidupan Ekonomi

    Sumber perekonomian utama bagi masyarakat Demak yaitu perdagangan laut. Di masa kejayaannya, kerajaan Demak menguasai beberapa pelabuhan besar mulai dari Surabaya, Madura, Cirebon, hingga Sunda Kelapa. Selain melalui perdagangan laut, sumber ekonomi kerajaan Demak adalah pertanian dan juga peternakan. Komoditas dagang hasil pertanian dan peternakan tersebut berasal dari kadipaten yang berada di wilayah pedalaman seperti Kediri, Pati, Malang dll. Beras Jawa menjadi komoditas penting pada perdagangan internasional Nusantara.

    B. Raja Dari Masa ke Masa

    Pendiri Kerajaan Demak yang sekaligus menjadi raja pertama ialah Raden Fatah. Ia diduga keturunan Majapahit dan mendapat julukan sebagai Senapati Jin-Bun. Julukan tersebut karena ia mendapat banyak dukungan dari masyarakat Cina muslim untuk kemudian mempelopori berdirinya Kerajaan Demak. Berikut raja-raja kerajaan Demak dan penjelasan singkat silsilah kerajaan Demak:

    • Raden Fatah (1475-1518)

    kerajaan demak
    Raden Fatah; via web blog ahidjamaluddin

    Dalam Babad Tanah Jawi, ia menjadi keturunan terakhir Kerajaan Majapahit yaitu Brawijaya V yang merupakan anak dari selir Tionghoa. Raden Fatah berhasil memberi pengaruhnya di Demak yang saat itu berada dalam kekuasaan Majapahit. Demak berkembang menjadi wilayah yang independen berkat kontrolnya pada perdagangan laut.

    Raden Fatah berhasil membangun kekuasaan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa. Ia  menyebarkan pengaruhnya dengan cara mengalahkan kerajaan lain termasuk Majapahit. Ia menempatkan pusat kekuasaannya di wilayah pesisir utara dan terus menyebarkan pengaruh di wilayah sekitarnya.

    • Pati Unus (1518-1521)

    Sultan Yunus atau Pati Unus adalah adik ipar Raden Fatah. Pati Unus menggantikan sementara kekuasaan Demak selepas wafatnya raden Fatah, sebab putra Raden Fatah Trenggana usianya masih sangat muda. Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor karena ia pernah berangkat menuju Malaka di utara demi menggempur kekuasaan Portugis. 

    Adanya bangsa Portugis menjadi pengganggu bagi perkembangan Kerajaan Demak. Sebab wilayah Malaka adalah pusat transit bagi perdagangan internasional, sehingga cukup mengganggu kerajaan Demak yang salah satu sumber utama ekonominya melalui jalur perdagangan laut.. Pati Unus juga menjadi sosok yang cukup berjasa dalam pembangunan kekuatan militer laut Demak. Ia membangun pelabuhan militer di wilayah Teluk Wetan, Jepara.

    • Trenggana

    Sultan Trenggana merupakan raja terbesar Kerajaan Demak, karena jasanya dalam penyebaran agama Islam dan juga menaklukkan banyak wilayah di pulau Jawa. Salah satu penaklukkan besarnya yaitu wilayah Sunda Kelapa, yang ia rebut dari Pajajaran pada tahun 1527. Sultan Trenggana mengutus Fatahillah ke Sunda Kelapa kemudian mengganti namanya menjadi Jayakarta. Kemudian Trenggana mengirim Maulana Hasanudin, putra Sunan Gunung Jati, menaklukkan Banten Girang.

    Banyak wilayah yang telah ditaklukkan termasuk wilayah Pasundan, dan juga wilayah bekas kekuasaan Majapahit di Jawa Timur hingga Madura. Bahkan tahun 1546 Trenggana sukses menaklukkan wilayah Blambangan. Demak di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana menjadi kekuasaan besar yang menguasai wilayah bekas Majapahit dan juga kekuasaan Sunda. Trenggana kemudian wafat pada tahun 1546 dalam pertempuran di Pasuruan.

    • Sunan Prawata

    Kejayaan Sultan Trenggana berlangsung singkat akibat kematiannya. Pangeran Surowiyoto (Pangeran Sekar) ingin mengganti Trenggana dan menduduki kekuasaan, ia ingin mengalahkan putra Trenggana yaitu Sunan Prawata. Sayangnya Sunan Prawata berhasil mengalahkan Surowiyoto dan mengambil kekuasaan. Pangeran Surowiyoto meninggal di tangan Prawata, akibat dari insiden tersebut dukungan terhadap kekuasaan Sunan Prawata menjadi surut. Lalu Ia memindahkan pusat kekuasaan kerajaan Demak ke Prawoto, Pati. Sunan Prawata hanya bertahta selama satu tahun, sebab pada tahun 1547 putra dari Surowiyoto, Arya Penangsang, menyerang dan membunuh Prawata lalu menggantikannya.

    • Arya Penangsang

    Selain membunuh Sunan Prawata untuk mengambil alih kekuasaan, Arya Penangsang juga berhasil menyingkirkan Pangeran Hadiri/Kalinyamat yang merupakan penguasa Jepara. Kalinyamat dianggap berbahaya terhadap kekuasaan Penangsang. Hal tersebut membuat adipati Demak, Hadiwijaya dari Pajang, tidak senang. Sehingga arya Penangsang memindahkan pusat kekuasaan Demak ke wilayah Jipang, yaitu wilayah kekuasaanya. Arya Penangsang berkuasa hingga tahun 1554. Lalu Hadiwijaya yang dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawi, dan anaknya Sutawijaya kemudian memberontak melawan Demak. Akhirnya Arya Penangsang wafat, dan Hadiwijaya mengambil alih tahta lalu memindahkan pusat kekuasaan ke Pajang.

    C. Peninggalan Kerajaan Demak

    kerajaan demak
    Masjid Agung Demak; via web kabupaten Demak

    Runtukhnya kekuasaan Kerajaan Demak terjadi akibat dari oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Hadiwijaya, penguasa Pajang. Padahal awalnya ia begitu setia kepada Demak, namun memberontak setelah Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata dan juga Pangeran Kalinyamat. Kerajaan Demak usianya hanya sekitar satu abad. Jadi tidak begitu banyak peninggalan yang ditemukan. Yang menjadi peninggalan utama Kerajaan Demak hingga saat ini adalah Masjid Agung Demak.

    Masjid Agung Demak didirikan sekitar tahun 1479. Pembangunan tersebut atas prakarsa dari Wali Songo. Masjid ini berfungsi sebagai pusat dakwah bagi agama Islam di Demak. Hingga kini Masjid Agung Demak menyimpan beberapa peninggalan seperti Bedug, Pintu Bledek, Kentongan, Dampar Kencana, Piring Campa, hingga Kolam Wudhu. Barang-barang tersebut telah ada sejak awal masjid ini berdiri.