Sejarah Kerajaan Nusantara, Kehidupan Sosial Ekonomi Kerajaan Bali

  • Bagikan
kerajaan bali

Sejarah – Halo sahabat Apik, pada kesempatan kali ini KabarApik akan memberikan sejarah singkat mengenai Kerajaan Bali. Nah Kerajaan Bali ini masih memiliki hubungan atau keterkaitan yang erat dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Khususnya di wilayah Jawa Timur misalnya Singasari dan Majapahit.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Bali

kerajaan bali
Sumber: web balitoursclub

Selain kerajaan-kerajaan yang berada di Jawa dan Sumatra, sejarah kerajaan Nusantara yang berada di pulau Bali juga menarik untuk kita pelajari. Dulunya pemerintahan kerajaan pulau Bali sempat berganti beberapa kali. Sebab saat itu, banyak terjadi konflik antar kerajaan untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.

Berita tertua yang membahas mengenai sejarah pulau Bali bersumber beberapa cap kecil yang terbuat dari tanah liat. Sumber tersebut ditemukan di Pejeng, Bali dengan ukuran sekitar 2,5 cm dan telah ada sejak abad ke-8 M. Selain itu, ada juga prasasti tahun 882 M dan merupakan yang tertua di Bali. Isinya mengenai perintah untuk membuat pertapaan dan juga pasanggrahan di Bukit Cintamani. Kemudian ada prasasti yang bertuliskan tahun 911 M. Dalam prasasti tersebut berisikan izin untuk warga Desa Turunan membangun tempat suci yang fungsinya sebagai tempat pemujaan Bhattara Da Tonta. Namun di antara prasasti-prasasti tersebut tidak ada yg mencantumkan nama raja yang berkuasa pada saat itu.

Kerajaan Bali yang pertama adalah Kerajaan Bedahulu kemudian dilanjutkan kerajaan majapahit.

Nah setelah kerajaan  Majapahit runtuh, wilayah Bali dikuasai oleh kerajaan Gelgel dan kemudian dilanjutkan oleh kerajaan Klungkung. Ketika kerajaan Klungkung berkuasa, terjadi konflik yang menyebabkan perpecahan dan terbaginya kerajaan menjadi delapan kerajaan kecil atau Swapraja. 

Kita kembali ke pembahasan mengenai kerajaan pertama di Bali yaitu kerajaan Bedahulu atau yang juga terkenal dengan nama kerajaan Bedulu. Kerajaan ini berpusat di Bedulu, Gianyar, Bali dan berdiri sekitar abad 8 hingga abad 14 Masehi. Menurut sejarahnya, kerajaan ini dipimpin oleh bangsawan dari dinasti Warmadewa. Sri Kesari Warmadewa merupakan sosok yang menjadi raja pertama kerajaan Bedahulu.

Sejarah keberadaan Kerajaan Bali diketahui pula dari prasasti Blancong (Sanur) tahun 914 Masehi. Prasasti ini tulisannya menggunakan huruf Pranagari dan Kawi, dengan bahasa Bali kuno dan juga Sansekerta.

Raja Bali pertama ialah Kesari Warmadewa. Ia merupakan pemimpin di istana Singhadwala dan menjadi pendiri Dinasti Warmadewa. Tidak begitu banyak literatur yang menjelaskan mengenai masa pemerintahannya, ia kemudian tergantikan Ugrasena yang bertahta pada tahun 915 hingga 942. Nah Masa pemerintahan Ugrasena ini sezaman dengan masa pemerintahan Empu Sendok yang ada di wilayah Jawa Timur.

Raja Ugrasena mewariskan 9 prasasti, yang sebagian besar berisi tentang masalah pembebasan pajak bagi beberapa wilayah tertentu.

Selepas pemerintahan Ugrasena, kerajaan Bali kemudian dipimpin oleh Aji Tabanendra Warmadewa (955-967) bersama permaisurinya Sri Subadrika Dharmadewi. Dilanjutkan Jayasingha Warmadewa (968-975). Ia membangun sebuah pemandian yang airnya berasal dari sebuah mata air di Desa Manukaya. Dan pemandian itu kita kenal sekarang dengan nama Tirtha Empul yang lokasinya berada di dekat Tampaksiring.

Kekuasaan selanjutnya selepas Jayasingha beralih ke Janasadhu Warmadewa. Ia berkuasa hingga tahun 983 Masehi, kemudian  digantikan oleh Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi yang merupakan raja perempuan pertama. Selanjutnya, kekuasaan dipimpin oleh Udayana Warmadewa yang memerintah kerajaan bersama permaisurinya, Gunapriya Dharmapatni Mahendradatta. Raja Udayana memimpin pemerintahannya sampai tahun 1011 M.

Udayana adalah raja yang berwibawa dan berpengaruh besar. Ia menikah dengan Sri Gunaprya Darmapatni yang merupakan saudari Darmawangsa Teguh yang berasal dari Medang Kamulan, Jawa Timur. Mereka memiliki beberapa putra yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga yang merupakan anak sulung, kemudian menikahi  puteri Raja Darmawangsa Teguh dan mewarisi tahta kekuasaan Medang Kamulan sepeninggal Darmawangsa.

kerajaan bali
Sumber: web kintamaniid

Sedangkan Udayana, sepeninggalnya ia digantikan puteranya, Dharmawangsa Marakata.

Kepemimpinannya berakhir setelah ia wafat tahun 1025 M. Sepeninggal Marakata, kepemimpinan wilayah Bali beralih kepada adiknya, Anak Wungsu. Ia memerintah mulai tahun 1049. Selama masa pemerintahannya, terdapat 28 buah prasasti yang ia tinggalkan, antara lain prasasti Gunung Penulisan, Prasasti Gua Gajah, dan Sangit. Dalam prasasti2 tersebut, digambarkan bahwa Anak Wungsu begitu dicintai oleh masyarakatnya  dan bahkan mereka menganggapnya sebagai jelmaan Dewa Wisnu. Ia menduduki tahta hingga tahun 1077, kemudian wafat tahun 1080 Masehi. Makamnya berada di Candi Padas Tampaksiring.

Kepemimpinan lalu beralih dari Anak Wungsu kepada Sri Maharaja Walaprabu. Ia berkuasa pada tahun 1079 hingga 1088. Selanjutnya tahta dilanjutkan Raja terkenal Bali yaitu Jayapangus. Ia berkuasa dari tahun 1170 hingga 1181. Terdapat 35 prasasti yang membahas mengenai Jayapangus. Ketika menjalankan pemerintahan, Jayapangus dibantu dua permasyurinya, yaitu Sri Mahadewi Sasangkajacinhna dan Sri Prameswari Indujaketana.

Lalu Raja Bali terakhir ialah Paduka Bhatara Parameswara Sri Hyang ning Hyang Adedewalancana. Ia berkuasa sejak 1260 hingga 1324 masehi. Pada tahun 1282, Bali mendapat serangan dari kerajaan Singasari, Kertanegara. Selanjutnya Bali jatuh dalam kekuasaan Majapahit. Ketika runtuhnya Majapahit, banyak sekali bangsawan, pendeta, seniman, pedagang, hingga sebagian masyarakat umum yang pindah ke Bali. Hal tersebut demi menghindari proses islamisasi di Jawa. Oleh sebab itu, hingga sekarang ini mayoritas masyarakat pulau Bali merupakan penganut Hindu akibat pengaruh Majapahit.

Kehidupan Masyarakat Kerajaan Bali

  • Kehidupan Ekonomi

Dalam bidang ekonomi, kehidupan masyarakat Pulau Bali sebagian besar mengandalkan sektor pertanian. Hal tersebut tercantum dalam beberapa prasasti, di mana ada pembahasan yang berkaitan dengan masalah bercocok tanam. Istilah-istilah yang tercantum antara lain sawah, kebwan (kebun), parlak (sawah kering), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).

Selain itu masyarakat Bali juga terdapat profesi lain seperti Pande (Pandai=Perajin), mereka  ahli dalam kerajinan perhiasan emas dan perak. Membuat prabotan rumah tangga, alat pertanian, hingga senjata. Lalu ada Undagi yang alhli melukis, memahat, dan membuat bangunan. Dan tentunya tak terlepas dari profesi sebagai Pedagang.

  • Kehidupan Sosial dan Budaya

Dalam aspek sosial dan budaya, ada beberapa hal yang berkembang dalam struktur masyarakat Kerajaan Bali Kuno, antara lain sebagai berikut:

Sistem Kesenian, pada saat itu sistem kesenian yang berkembang dibedakan dalam dua sistem yaitu sistem kesenian rakyat sistem dan kesenian keraton.

Sistem Kasta (Caturwarna), sistem ini berdasarkan kebudayaan Hindu India. Masa  awal perkembangan agama Hindu di Bali,  masyarakatnya juga terbagi menjadi beberapa kasta.

Sistem Hak Waris, harta benda keluarga hak warisnya berbeda antara anak perempuan dan anak laki-laki. Hak waris anak laki-laki lebih besar daripada anak perempuan.

Agama dan Kepercayaan, telah diketahui bahwa masyarakat Bali begitu mempertahankan tradisi maupun kepercayaan dari nenek moyangnya, walaupun mereka sangat terbuka dan banyak menerima pengaruh luar. Sehingga di Bali banyak yang menganut agama Hindu, Buddha, hingga kepercayaan animisme warisan leluhur.

Masa Kejayaan dan Runtuhnya Kerajaan Bali

kerajaan bali
Sumber : web museumnusantara

Dalam sejarahnya, Kerajaan Bali sampai pada masa keemasannya ketika pemerintahan Dharma Udayana (Dharmodayana). Di masa pemerintahannya, sistem pemerintahan menjadi semakin jelas dan teratur dari pada raja-raja sebelumnya. Dharmodayana juga  memperkuat hubungan dengan raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur, ia mengawinkan Dharma Udayana dengan putrinya Mahendradata. Hal tersebut  mempererat hubungan antara Pulau Jawa dan Bali.

Selain sejarah mengenai masa kejayaan, kerajaan Bali juga mencapai batasnya ketika  Mahapatih Gajah Mada memperluas ekspansinya ke nusantara, di sinilah awal mula runtuhnya kerajaan Bali. Gajah Mada mengajak raja Bali berunding terkait penyerahan kerajaan Bali ke dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit, patih Kebo Iwa terpilih menjadi utusan ke Majapahit. Utusan tersebut bertujuan untuk perundingan damai. Akan tetapi, Kebo Iwa justru terbunuh. Kerajaan Majapahit kemudian mengirim Gajah Mada dengan berpura-pura untuk berunding, ia lalu membunuh raja Gajah Waktra, dan jatuhlah kerajaan Bali ke tangan Kerajaan Majapahit.

Nah terdapat beberapa Peninggalan Kerajaan Bali yang hingga saat ini bisa kita lihat, peninggalan-peninggalan tersebut sebagian besar berupa prasasti, yaitu:

  • Prasasti Blanjong
  • Prasasti Panglapuan
  • Pura Agung Besakih
  • Candi Wasan
  • Candi Mengening
  • Prasasti Gunung Panulisan
  • Prasasti-prasasti peninggalan Anak Wungsu
  • Candi Padas di Gunung Kawi
Baca Juga ini Ya !! =>  Sejarah Peradaban Kerajaan Banten Dari Masa ke Masa
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *