Ragam Budaya Gorontalo yang Perlu Kamu Ketahui

  • Bagikan
Langga; Sumber; wikipedia

Budaya – Halo sahabat Apik, masih dengan artikel yang membahas mengenai kebudayaan Nusantara. Kali ini kabarApik akan mengulas mengenai tradisi dan budaya Gorontalo. Adakah diantara sahabat Apik yang berasal dari sana?

Sebelum mengulas mengenai tradisi dan kebudayaannya, mari kita mengenal terlebih dahulu secara singkat mengenai informasi umumnya.

  1. Selayang Pandang

Gorontalo merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang memiliki ibu kota yaitu Kota Gorontalo atau yang juga dikenal dengan nama Kota Hulontalo. Kota ini memiliki julukan “Kota Serambi Madinah”. Provinsi Gorontalo berada di Semenanjung Gorontalo di Pulau Sulawesi. Luas wilayahnya sendiri sekitar 12.435,00 km² dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 88 jiwa/km².

Provinsi Gorontalo memiliki beragam Etnis yang berbentuk keluarga atau disebut Pohala’a, antara lain Pohala’a Gorontalo (Etnis Hulontalo), Pohala’a Limboto (Etnis Limutu), Pohala’a Bolango (Etnis Bulango/Bolango), Pohala’a Suwawa (Etnis Suwawa/Tuwawa) dan Pohala’a Atinggola (Etnis Atinggola). Semuanya masuk dalam kategori suku Gorontalo atau Hulontalo. 

Masyarakat Gorontalo dalam kesehariannya menggunakan bahasa Gorontalo. Bahasanya terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan juga dialek Suwawa. Namun yang saat ini paling dominan adalah bahasa dengan dialek Gorontalo.

  1. Rumah Adat 

budaya gorontalo
Rumah adat Bantayo Poboide; Sumber: web celebes

Tidak hanya satu, Provinsi Gorontalo memiliki 4 rumah adat yang menjadi ciri khasnya, yaitu:

  • Rumah Adat Dulohupa

Rumah adat Dulohupa berada di Kelurahan Limba, Kota Gorontalo. Nah rumah ini juga dikenal oleh masyarakat gorontalo dengan sebutan Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo. Bentuknya berupa rumah panggung dengan badan rumah terbuat dari papan. Selain itu rumah adat ini dilengkapi pilar kayu yang menjadi hiasan dan memiliki dua tangga di bagian kiri dan kanan rumah atau tolitihu yang merupakan simbol tangga adat.

Bentuk rumah panggung memiliki filosofi sebagai perlambangan badan manusia yang mana atap menggambarkan kepala, badan rumah sebagai badan, dan  pilar penyangga yang menggambarkan kaki. Rumah panggung juga berfungsi dalam menghindari musibah banjir yang pada masanya sering terjadi.

  • Rumah Adat Bandayo Poboide

Berikutnya adalah rumah adat Bandayo Poboide. Jika kalian berkesempatan berkunjung ke Gorontalo, kalian bisa melihat rumah ini yang berada persis di depan rumah dinas Bupati Gorontalo. Bentuk rumah adat Poboide ini juga adalah rumah panggung. Bangunannya terbuat dari kayu yang sangat kuat sehingga bangunannya mampu bertahan sampai sekarang. Sekilas rumah adat ini sama dengan rumah adat Dulohupa. Yang membedakannya adalah bagian dalam rumah adat Bandayo Poboide yang memiliki banyak sekat. Dulunya rumah adat ini berfungsi sebagai istana raja, sebagai pusat pemerintahan dan juga tempat berkumpulnya para tetua adat ketika membicarakan prosesi adat. Selain itu, sesekali digunakan sebagai tempat pagelaran budaya khas Gorontalo. Kini rumah adat Bandayo Poboide ini menjadi tempat pelestarian dan juga oengembangan seni dan budaya daerah Gorontalo.

  • Rumah Adat Ma’lihe atau Rumah Adat Potiwoluya

Rumah Adat Ma’lihe atau Potiwoluya adalah rumah tempat tinggal penduduk Gorontalo. Dalam bahasa Gorontalo kata Ma’lihe berarti mahligai. Bentuk rumah ini berupa rumah panggung bujur sangkar yang tertopang oleh pilar setinggi satu hingga empat meter. Atapnya berbentuk persegi panjang, namun ketika dari depan tampak atap (watopo) membentuk segitiga. Bahan atap menggunakan daun rumbia, bahan dinding rumah menggunakan belahan bambu yang dianyam. Bagian dalam rumah memiliki kamar tidur, dapur, ruang tamu dan serambi.

  • Rumah Adat Gobel

Terakhir adalah rumah adat Gobel. Lokasinya berada di Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango. Tidak banyak literatur yang membahas tentang rumah adat ini. Namun diketahui rumah adat Gobel dulunya merupakan rumah keluarga Raja Gobel. Namun sekarang ini rumah adat ini sering menjadi tempat untuk acara-acara resmi pemerintah setempat.

  1. Pakaian Adat Gorontalo

Mukuta dan Biliu merupakan sepasang pakaian adat Gorontalo. Pakaian adat tersebut umumnya hanya dipakai saat upacara perkawinan. Mukuta adalah pakaian untuk mempelai pria dan Biliu untuk mempelai wanita. Mukuta dan Biliu terbuat dari kain berwarna kuning keemasan, ada pula yang berwarna ungu atau hijau. Penggunaan pakaian lengkap dengan aksesoris tambahan seperti penutup kepala, terompah, ikat pinggang, dan lain sebagainya.

budaya gorontalo
Sumber: web berbol

Perlengkapan pakaian Biliu untuk mempelai wanita antara lain:

  • Baya Lo Boute, ikat kepala sebagai simbol bahwa sebentar lagi ia akan diikat dengan hak dan kewajiban sebagai seorang istri. 
  • Tuhi-tuhi, 7 buah gafah yang menjadi simbol 7 kerajaan besar dalam suku Gorontalo, yaitu Gorontalo dan Limboto, Hulontalo, Tuwawa, Bulonga, Limutu, dan Atingola.
  • Lai-lai, bulu burung/unggas yang berwarna putih. Letaknya di atas ubun-ubun sebagai lambang kesucian, budi luhur dan juga keberanian. 
  • Buohu Wulu Wawu Dehu, kalung berwarna emas yang melambangkan ikatan kekeluargaan antara keluarga mempelai pria dan wanita.
  • Kecubu/lotidu, kain dengan hiasan pernik di dada mempelai wanita. Kecubu menjadi simbol mempelai wanita harus kuat menghadapi rintangan berumah tangga. 
  • Etango, ikat pinggang dengan motif seperti kecubu sebagai simbol istri harus memiliki sikap sederhana dan hanya memasak makanan halal untuk keluarganya.
  • Pateda, gelang keemasan melambangkan wanita harus mampu mengekang diri agar tidak melakukan tindakan tercela sesuai hukum agama, negara dan hukum adat. 
  • Luobu, hiasan kuku pada jari kelingking dan jari manis yang memiliki makna wanita harus ketelitian dalam mengerjakan segala sesuatu.

Sedangkan untuk perlengkapan pakaian Mukuta untuk mempelai pria antara lain:

  • Tudung makuta, tutup kepala yang menyerupai bulu unggas. Nilai filosofinya bahwa laki-laki atau suami harus memiliki kedudukan tinggi selaku pemimpin dengan tetap bersikap lemah lembut selayaknya bulu unggas.  
  • Bako, kalung yang sama seperti mempelai wanita. Filosofinya pun sama yaitu bermakna ikatan kekeluargaan antara keluarga dari kedua  mempelai. 
  • Pasimeni, hiasan baju yang menjadi simbol dari keluarga yang harmonis dan damai.
  1. Tari Tradisional Gorontalo

budaya gorontalo
Tari Dana Dana; Sumber: web infopublik
  • Tari Dana – Dana

Tarian tradisional Provinsi Gorontalo. Nama tari Dana-dana berasal dari bahasa daya-dayango yang artinya menggerakkan anggota tubuh sambil berjalan. Tarian ini dilakukan oleh dua hingga 4 orang laki-laki yang dimainkan dengan gerakan lincah. Sebab seluruh anggota tubuh harus bergerak menyesuaikan irama musik. Musiknya sendiri berasal dari alat musik gambus dan rebana yang berpadu dengan lagu berisi pantun dengan tema percintaan maupun nasehat-nasehat kehidupan remaja.

  • Tari Polopalo

Polopalo merupakan sebuah alat musik tradisional Gorontalo. Nah tarian Polopalo yaitu tarian yang diiringi dengan menggunakan alat musik polopalo. Tarian Tradisional Gorontalo ini sudah banyak mengalami perkembangan, sehingga terbagi pula menjadi dua jenis, yaitu tari polopalo tradisional dan juga tari polopalo modern.

  • Tari Saronde

Tari Saronde merupakan tarian tradisional masyarakat Gorontalo dalam tradisi malam pertunangan yang menjadi rangkaian upacara perkawinan adat. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Tari Saronde sering tampil untuk acara penyambutan, pertunjukan seni, hingga festival budaya.

  1. Tradisi

tradisi gorontalo
Langga; Sumber; wikipedia

Tahukah kalian jika lima budaya yang berasal dari suku Gorontalo menjadi warisan budaya tak benda yang dikukuhkan pada tahun 2017 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kelima budaya tersebut adalah:

  • Tahuli dan Lohidu yang merupakan tradisi lisan masyarakat Gorontalo.
  • Binte Biluhuta, merupakan makanan khas yang berupa sup jagung muda yang dipadukan dengan aneka rempah-rempah.
  • Langga yang merupakan seni bela diri tradisional yang sangat unik. Sebab seni mengandalkan teknik bertahan, namun ketika menyerang dapat sangat mematikan bagi lawannya.
  • Dayango, merupakan agama dari masyarakat Gorontalo sebelum Islam masuk. Sampai saat ini ritual tersebut masih eksis dalam lingkup masyarakat di pinggiran.

Nah kelima budaya tak benda tersebut bukanlah yang pertama, sebelumnya juga sudah ada beberapa budaya yang masuk sebagai kategori budaya tak benda yaitu, Tari Molapi Saronde, Polopalo, Karawo, Tanggomo, dan Tumbilotohe.

Demikian sahabat Apik sekalian, semoga ulasan singkat mengenai tradisi dan budaya Gorontalo ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan pengetahuan Nusantara.

Baca Juga ini Ya !! =>  Tak Hanya Sunda, Ketahui Semua Budaya Jawa Barat Ini!
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *