Sejarah Kehidupan Sosial Politik Pada Masa Kerajaan Demak

  • Bagikan
kerajaan demak
Masjid Agung Demak; via web kabupaten Demak

Halo sahabat Apik, kembali lagi di artikel yang membahas mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di nusantara. Kali ini kita akan membahas mengenai sejarah kerajaan Demak.

Kerajaan Demak terkenal sebagai kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa, Lokasinya berada dii sisi utara Pantai Jawa. Sebelumnya Demak merupakan bagian penting Kerajaan Majapahit. Lokasinya yang berada di wilayah pesisir utara, membuat Demak menjadi poros perdagangan yang cukup penting. Hal tersebut membuat demak berkembang pesat menjadi pusat kebudayaan yang baru, yaitu agama Islam. Tak heran jika kerajaan ini menjadi pelopor dari adanya penyebaran agama Islam di pulau Jawa, terutama melaluin ulama-ulama besar yang kita kenal dengan Wali Songo.

Pusat kekuasaan yang sebelumnya berada di wilayah Demak modern, di masa kekuasaan Sunan Prawata pindah ke Prawata, wilayah Pati pada. Kemudian di masa pemerintahan Arya Penangsang, dipindahkan lagi ke Jipang. Demak menguasai hampir seluruh wilayah pesisir dan juga aspek perdagangan pantai utara. Selain itu, pengaruhnya juga tersebar ke beberapa pelabuhan utama Jawa Timur, misalnya Gresik, Tuban dan Surabaya.

kerajaan demak, masjid agung
Sumber: web tirtoid

A. Kehidupan Masyarakat

  • Kehidupan Sosial

Ketika agama Islam masuk, terdapat perbedaan mencolok terhadap kehidupan masyarakat antara Kerajaan Islam dan Hindu, terutama faktor akses terhadap agama yang dapat dianut oleh masyarakat umum. Islam tidak mengenal kasta, sehingga dapat dianut masyarakat di berbagai lapisan. Berbeda dengan Hindu yang mengenal beberapa kasta dan juga terdapat beberapa ritual yang membutuhkan biaya besar. Sebagai contoh persembahan untuk dewa atau brahmana.

Kehidupan kerajaan Demak yang terlihat dari sistem sosial kerajaan Islam yang cenderung bersifat egaliter, tentunya menjadi bentuk pembaharuan yang belum pernah ada sebelumnya di Jawa. Membaurnya antara petinggi kerajaan dan rakyatnya ketika beribadah menjadi hal baru dalam sistem feudal, dimana posisi penguasa begitu tinggi.

  • Kehidupan Politik kerajaan Demak

Dalam kehidupan politik, Demak merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbesar di pulau Jawa. Ia menyudahi dominasi panjang kerajaan Majapahit serta keberadaan penguasa Sunda yang konsisten koko sejak abad 6 Masehi. Di beberapa wilayah seperti Tuban, Surabaya dan Madiun, Kerajaan menempatkan adipati yang merupakan perpanjangan tangan dari Sultan. Selain itu Kerajaan Demak pula yang pertama bersentuhan atau bertemu dengan imperialisme barat. Munculnya kerajaan Demak abad ke-16 disusul dengan pendudukan bangsa Portugis di Malaka. Sunda Kelapa kemudian direbut pada tahun 1527,  hal tersebut merupakan upaya Demak untuk menguasai pesisir utara dan mencegah kedatangan Portugis ke pulau Jawa.

  • Kehidupan Ekonomi

Sumber perekonomian utama bagi masyarakat Demak yaitu perdagangan laut. Di masa kejayaannya, kerajaan Demak menguasai beberapa pelabuhan besar mulai dari Surabaya, Madura, Cirebon, hingga Sunda Kelapa. Selain melalui perdagangan laut, sumber ekonomi kerajaan Demak adalah pertanian dan juga peternakan. Komoditas dagang hasil pertanian dan peternakan tersebut berasal dari kadipaten yang berada di wilayah pedalaman seperti Kediri, Pati, Malang dll. Beras Jawa menjadi komoditas penting pada perdagangan internasional Nusantara.

B. Raja Dari Masa ke Masa

Pendiri Kerajaan Demak yang sekaligus menjadi raja pertama ialah Raden Fatah. Ia diduga keturunan Majapahit dan mendapat julukan sebagai Senapati Jin-Bun. Julukan tersebut karena ia mendapat banyak dukungan dari masyarakat Cina muslim untuk kemudian mempelopori berdirinya Kerajaan Demak. Berikut raja-raja kerajaan Demak dan penjelasan singkat silsilah kerajaan Demak:

  • Raden Fatah (1475-1518)

kerajaan demak
Raden Fatah; via web blog ahidjamaluddin

Dalam Babad Tanah Jawi, ia menjadi keturunan terakhir Kerajaan Majapahit yaitu Brawijaya V yang merupakan anak dari selir Tionghoa. Raden Fatah berhasil memberi pengaruhnya di Demak yang saat itu berada dalam kekuasaan Majapahit. Demak berkembang menjadi wilayah yang independen berkat kontrolnya pada perdagangan laut.

Raden Fatah berhasil membangun kekuasaan bercorak Islam pertama di Pulau Jawa. Ia  menyebarkan pengaruhnya dengan cara mengalahkan kerajaan lain termasuk Majapahit. Ia menempatkan pusat kekuasaannya di wilayah pesisir utara dan terus menyebarkan pengaruh di wilayah sekitarnya.

  • Pati Unus (1518-1521)

Sultan Yunus atau Pati Unus adalah adik ipar Raden Fatah. Pati Unus menggantikan sementara kekuasaan Demak selepas wafatnya raden Fatah, sebab putra Raden Fatah Trenggana usianya masih sangat muda. Pati Unus mendapat julukan Pangeran Sabrang Lor karena ia pernah berangkat menuju Malaka di utara demi menggempur kekuasaan Portugis. 

Adanya bangsa Portugis menjadi pengganggu bagi perkembangan Kerajaan Demak. Sebab wilayah Malaka adalah pusat transit bagi perdagangan internasional, sehingga cukup mengganggu kerajaan Demak yang salah satu sumber utama ekonominya melalui jalur perdagangan laut.. Pati Unus juga menjadi sosok yang cukup berjasa dalam pembangunan kekuatan militer laut Demak. Ia membangun pelabuhan militer di wilayah Teluk Wetan, Jepara.

  • Trenggana

Sultan Trenggana merupakan raja terbesar Kerajaan Demak, karena jasanya dalam penyebaran agama Islam dan juga menaklukkan banyak wilayah di pulau Jawa. Salah satu penaklukkan besarnya yaitu wilayah Sunda Kelapa, yang ia rebut dari Pajajaran pada tahun 1527. Sultan Trenggana mengutus Fatahillah ke Sunda Kelapa kemudian mengganti namanya menjadi Jayakarta. Kemudian Trenggana mengirim Maulana Hasanudin, putra Sunan Gunung Jati, menaklukkan Banten Girang.

Banyak wilayah yang telah ditaklukkan termasuk wilayah Pasundan, dan juga wilayah bekas kekuasaan Majapahit di Jawa Timur hingga Madura. Bahkan tahun 1546 Trenggana sukses menaklukkan wilayah Blambangan. Demak di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana menjadi kekuasaan besar yang menguasai wilayah bekas Majapahit dan juga kekuasaan Sunda. Trenggana kemudian wafat pada tahun 1546 dalam pertempuran di Pasuruan.

  • Sunan Prawata

Kejayaan Sultan Trenggana berlangsung singkat akibat kematiannya. Pangeran Surowiyoto (Pangeran Sekar) ingin mengganti Trenggana dan menduduki kekuasaan, ia ingin mengalahkan putra Trenggana yaitu Sunan Prawata. Sayangnya Sunan Prawata berhasil mengalahkan Surowiyoto dan mengambil kekuasaan. Pangeran Surowiyoto meninggal di tangan Prawata, akibat dari insiden tersebut dukungan terhadap kekuasaan Sunan Prawata menjadi surut. Lalu Ia memindahkan pusat kekuasaan kerajaan Demak ke Prawoto, Pati. Sunan Prawata hanya bertahta selama satu tahun, sebab pada tahun 1547 putra dari Surowiyoto, Arya Penangsang, menyerang dan membunuh Prawata lalu menggantikannya.

  • Arya Penangsang

Selain membunuh Sunan Prawata untuk mengambil alih kekuasaan, Arya Penangsang juga berhasil menyingkirkan Pangeran Hadiri/Kalinyamat yang merupakan penguasa Jepara. Kalinyamat dianggap berbahaya terhadap kekuasaan Penangsang. Hal tersebut membuat adipati Demak, Hadiwijaya dari Pajang, tidak senang. Sehingga arya Penangsang memindahkan pusat kekuasaan Demak ke wilayah Jipang, yaitu wilayah kekuasaanya. Arya Penangsang berkuasa hingga tahun 1554. Lalu Hadiwijaya yang dibantu oleh Ki Ageng Pemanahan, Ki Penjawi, dan anaknya Sutawijaya kemudian memberontak melawan Demak. Akhirnya Arya Penangsang wafat, dan Hadiwijaya mengambil alih tahta lalu memindahkan pusat kekuasaan ke Pajang.

C. Peninggalan Kerajaan Demak

kerajaan demak
Masjid Agung Demak; via web kabupaten Demak

Runtukhnya kekuasaan Kerajaan Demak terjadi akibat dari oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Hadiwijaya, penguasa Pajang. Padahal awalnya ia begitu setia kepada Demak, namun memberontak setelah Arya Penangsang membunuh Sunan Prawata dan juga Pangeran Kalinyamat. Kerajaan Demak usianya hanya sekitar satu abad. Jadi tidak begitu banyak peninggalan yang ditemukan. Yang menjadi peninggalan utama Kerajaan Demak hingga saat ini adalah Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak didirikan sekitar tahun 1479. Pembangunan tersebut atas prakarsa dari Wali Songo. Masjid ini berfungsi sebagai pusat dakwah bagi agama Islam di Demak. Hingga kini Masjid Agung Demak menyimpan beberapa peninggalan seperti Bedug, Pintu Bledek, Kentongan, Dampar Kencana, Piring Campa, hingga Kolam Wudhu. Barang-barang tersebut telah ada sejak awal masjid ini berdiri.

Baca Juga ini Ya !! =>  Sejarah Kerajaan Malaka, Kerajaan Islam Terbesar Nusantara
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *