Kategori: Budaya

  • Mengenal Lebih Jauh Kekayaan Budaya Sulawesi Utara

    Mengenal Lebih Jauh Kekayaan Budaya Sulawesi Utara

    Budaya – Provinsi Sulawesi Utara tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, melainkan jugal seni dan kebudayaannya. Nah sahabat Apik, pada kesempatan kali ini kabarApik akan mengulas mengenai budaya Sulawesi Utara.

    Masyarakat Sulawesi Utara secara umum terdiri dari beberapa suku besar yaitu, Suku Sangihe dan talaud, Suku Minahasa serta Suku Bolaang Mongondow. Ketiga etnis besar ini kemudian mempunyai bagian suku dengan  bahasa dan juga tradisi yang cukup berbeda-beda.

    Masyarakat Sulawesi Utara memiliki semboyan “torang samua basudara” yang memiliki arti kita semua bersaudara, hidup rukun dan berdampingan meski dalam perbedaan.

    1. Rumah Tradisional Sulawesi Utara

    Budaya Sulawesi Utara
    Rumah Adat Bolaang Mongondow; Sumber: web celebes

    Provinsi Sulawesi Utara tidak hanya memiliki satu melainkan beberapa jenis rumah adat. Hal tersebut karena di provinsi ini terdapat beberapa suku. Berikut beberapa diantaranya:

    • Rumah Adat Bolaang Mongondow

    Nama rumah adat ini berasal dari salah satu daerah yang kaya akan adat serta budayanya. Rumah ini mempunyai beberapa ruangan mulai dari ruang induk, ruang tidur hingga dapur. Pada ruang induk terdapat beberapa ruangan seperti ruang depan dan ruang makan. Ciri khas rumah ini adalah bagian atapnya yang bentuknya melintang dengan bubungan yang  curam.

    • Rumah Adat Walewangko atau Pewaris

    Dulunya Rumah adat ini hanya dihuni oleh para pemimpin saja. Namun sekarang ini masyarakat biasa bisa untuk menghuni rumah adat ini. Rumah ini bentuknya yaitu rumah panggung dengan ciri khas balok kayu, dan juga dilengkapi dengan 2 buah tangga yang berada di bagian depan rumah.

    1. Pakaian Tradisional Sulawesi Utara

    budaya sulawesi utara
    Baju Adat Kohongian; Sumber: web yuksinau
    • Pakaian adat Bolaang Mangondow

    Bolaang Mangondow merupakan suku di Sulawesi Utara yang pernah memiliki kerajaan. Suku ini memiliki kebudayaan yang maju di masanya dan kini menjadi warisan budaya. Pakaian keseharian masyarakat suku ini adalah kulit kayu dan pelepah nanas yang diambil seratnya. Serat atau yang mereka sebut dengan nama “lanut” kemudian ditenun menjadi kain, barulah dijahit menjadi busana sehari-hari.

    • Laku Tepu, Pakaian adat Sangihe dan Talaud

    Berikutnya merupakan pakaian adat suku sangihe dan talaud yang terbuat dari serat kofo yaitu sejenis tanaman pisang. Kemudian serat ini dipintal, ditenun dan dijahit menjadi pakaian. Pakaian ini pada umumnya dipakai dalam upacara tulude.

    Laku tepu berupa baju lengan panjang sampai tumit yang memiliki warna dasar yang cerah seperti kuning, hijau, merah, dll. Pemakaiannya dipadukan dengan perlengkapan seperti Popehe (ikat pinggang), Paporong (penutup kepala), Bandang (selendang di bahu) dan Kahiwu (rok rumbai).

    • Pakaian adat Kohongian

    Pakaian adat yang berikut ini bersifat eksklusif atau terbatas hanya beberapa golongan masyarakat yang mengenakannya. Sebab pakaian adat ini adalah pakaian bagi para bangsawan ketika upacara adat pernikahan. Tapi itu dulu, sekarang pemakaian pakaian adat ini tidak lagi memandang pembagian kasta tersebut, semua masyarakat bisa mengenakannya. Bahkan sekarang pakaian adat ini telah menjadi objek wisata.

    1. Kesenian Tradisional Sulawesi Utara

    budaya sulawesi utara
    Kolintang; Sumber: web lpmpsulawesiutara

    Berikut ini merupakan beberapa kesenian yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara. Kesenian di Sulawesi Utara dibagi menjadi beberapa kesenian, ada seni tari dan ada seni musik. Mari kita bahas satu per satu.

    • Seni Tari

    Sulawesi Utara memiliki banyak variasi tarian tradisional berikut adalah beberapa di antaranya:

    1. Tari Tempurung, Biasanya tarian ini oleh pasangan pria dan wanita. Ketika pementasannya, terdapat banyak dekorasi yang terbuat dari tempurung kelapa.
    2. Tari Katrili, merupakan adaptasi dari kebudayaan bangsa Spanyol, berupa tarian yang ketika mengekspresikan sebuah kesenangan dengan tarian
    3. Tari Kabasaran, merupakan tarian untuk perang atau berfungsi untuk mengawal tokoh adat penting di Minahasa. Tarian ini sebagian besar dibawakan oleh laki-laki, lengkap dengan senjata seperti pedang atau tombak.
    4. Tari Tatengesan, tarian yang terinspirasi dari cerita rakyat desa Tatengesan.
    5. Tari Mane’e, tarian tradisional yang dari daerah Talaud. Tarian ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Talaud ketika menangkap ikan.
    6. Tari Gunde, pada awalnya merupakan kegiatan ritual keagamaan. Namun seiring berjalan waktu, kini tarian ini menjadi tarian istana sekaligus menjadi tari tradisional Sangihe Talaud.
    • Seni Musik

      • Musik Kolintang

    Awal pembuatannya dari bahan yang wunut yaitu jenis kayu yang disebut belar. Kemudian seiring perkembangan, pembuatan alat ini mulai menggunakan kayu telor dan cempaka. Pertunjukan musik dengan alat ini ini tidak hanya sebagai sarana hiburan, namun sering kali menjadi media pendidikan musik di sekola-sekolah, khususnya daerah manado.

      • Musik Tiup Bambu

    Alat Musik ini pada awalnya hanya alat penghibur masyarakat petani selepas melakukan kegiatan bertani. Namun sekaran alat musik bambu ini telah sering ada dalam acara-acara tertentu yang menjadikannya menjadi lebih meriah dan bergengsi. Musik tradisional ini tercipta oleh seorang petani yang berasal dari kepulauan Sangihe Talaud sekitar tahun 1700.

      • Musik Bia

    Sekitar tahun 1941 ada seorang penduduk Desa Batu Minahasa Utara yang menjadikan kerang sebagai satu tumpukan musik. Kini musik bia menjadi salah satu seni musik tradisional yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat Manado di Sulawesi Utara.

    • Senjata Tradisional

      • Pedang Bara Sangihe

    Senjata tradisional ini sudah cukup terkenal sebab dulunya pedang ini pernah menjadi senjata Hengkang U Nang yang merupakan salah seorang pahlawan Sulawesi Utara. Sejak kecil beliau sudah terkenal dengan keahliannya bergulat dan juga menggunakan pedang bara ini.

    Pedang Bara Sangihe bentuknya cukup unik karena memiliki gagang yang bercabang dua. Tidak hanya itu, pada bagian ujung pedang ini juga memiliki dua cabang. Senjata ini menjadi salah senjata tradisional yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Utara sekaligus juga menjadi kekayaan bagi kebudayaan Indonesia.

      • Peda Atau Parang dan Perisai

    Senjata ini ukurannya cukup pendek sekitar 45-50cm dan terbuat dari bahan utama besi. Gagangnya terbuat dari kayu keras dan pada bagian ujungnya bercabang dua seperti pedang bara. Kemudian perisai adalah senjata tradisional yang berfungsi untuk menahan serangan. Terbuat dari bahan dasar kayu yang berukiran dengan motif binatang atau dedaunan.

    1. Upacara Adat Sulawesi Utara

    tarian adat
    Upacara Tulude; Sumber: web pilarsulut

    Upacara adat Sulawesi Utara secara umum masih erat kaitannya dengan agama dan kepercayaan masyarakatnya. Beberapa upacara berhubungan dengan daur hidup dan sebagian lainnya berhubungan dengan kehidupan sosial dan lingkungan. Berikut beberapa acara adat yang eksis hingga sekarang:

    Dalam upacara pernikahan terdapat Ritual Bacoho atau Mencuci Rambut. Ritual ini menggunakan bahan-bahan ramuan tradisional. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke sehelai kain yang kemudian dicelup dalam air hangat. Kain tersebut diremas untuk airnya ditampung dengan tangan, kemudian digosokkan ke rambut calon pengantin.

    Lalu ada pula Ritual Lumele’ atau Mandi Adat. Pengantin diguyur menggunakan air yang sebelumnya sudah diberi bunga warna putih sebanyak sembilan kali. Air tersebut diguyurkan dari leher ke bawah. Manun secara simbolis bisa hanya dengan membasuh muka oleh pengantin itu sendiri

    • Tulude

    Menulude tulude merupakan upacara adat suku Sangihe. Upacara ini ada setiap akhir bulan Januari atau pada tanggal 31 Januari. Tanggal tersebut merupakan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Sangihe. Upacara ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan serta memohon berkat dan juga pengampunan dosa dalam memulai hidup pada tahun baru.

    • Manabba

    Merupakan upacara kebiasaan masyarakat dalam berburu babi hutan dan juga sapi hutan. Kegiatan ini biasanya penyelenggaraannya secara beramai-ramai oleh orang dewasa maupun anak-anak selama sehari penuh.

    • Monondeaga

    Yang terakhir adalah upacara adat dari daerah Bolaang Mongondow. Upacara ini terselenggara ketika anak gadis memasuki masa puber yang tertandai dengan haid pertama. Daun telinganya dilubangi untuk dipasangkan anting, kemudian giginya diratakan sebagai tanda kedewasaan gadis tersebut.

    Nah sahabat Apik, demikianlah ulasan singkat mengenai Budaya Sulawesi Utara. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan mengenai kebudayaan Nusantara.

  • Budaya Kalimantan Selatan Yang Kaya Akan Kearifan Lokalnya

    Budaya Kalimantan Selatan Yang Kaya Akan Kearifan Lokalnya

    Budaya Kalimantan Selatan yang terkenal, banyak yang mengatakan nenek moyangnya penduduk madagaskar. beberapa hipotesis menunjukan bahwa nenek moyang dari madagaskar ialah suku bugis, bajo, dan suku dayak maanyan. setelah melakukan riset genetik, hasilnya membuktikan bahwa nenek moyangnya ialah suku banjar.  Masyarakat Kalimantan biasa menyebutnya urang banjar atau suku banjar. Jumlah penduduk Kalimantan Selatan cukup padat lalu banyak penduduknya yang migrasi ke Madagaskar, tidak hanya bermigrasi kesitu saja tetapi juga ke seluruh penjuru nusantara. Suku yang terbentuk dari suku bukit, maanyan, lawangan, ngaju, jawa, dan melayu. Memang suku banjar terlahir dari berbagai suku, tetapi salah satu yang dominan yaitu suku Dayak.

    Suku

    budaya kalimantan selatan
    sumber: website pengajar.co

    Budaya Kalimantan Selatan sangat erat dengan suku. Urang banjar masih terbagi menjadi 3 sub suku, yakni ada banjar pahuluan, banjar kuala, dan banjar batang banyu. Pertama dari banjar pahuluan yang penduduknya bertempat tinggal daerah cabang sungai yang berhulu ke pegunungan meratus dan lembah sungai. Kelompok ini terdiri dari campuran orang hindu, dan  Dayak yang berbahasa melayik.

    Kedua, banjar kuala yang merupakan penduduk dari sekitar martapura dan Banjarmasin. Campuran dari orang kuin, Dayak ngaju, batang banyu, kampung melayu, bugis makasar, orang cina parit yang masuk islam, dan orang kampung jawa. Ketiga ada banjar batang banyu yang merupakan campuran orang pahuluan, budha, hindhu, jawa hindu majapahit, orang Dayak bukit, dan lawangan. Mereka biasanya mendiami di lembah sungai bahan.

    Suku banjar mempunyai keterampilan yang unik, yaitu mengolah pasang dan surut air. Mereka mempunyai keahlian itu karena bertempat tinggal dekat dengan sungai. Bertempat tinggal daerah tepian sungai membuat masyarakat banjar menjadi inovatif, mereka membuat beberapa perahu atau jukung untuk berdagang dan bepergian satu daerah ke daerah lainnya.

    Rumah Adat

    sumber: website getborneo

    Banjar mempunyai rumah adat yang bernama bubungan tinggi, zaman dulu rumah ini merupakan rumah khusus keluarga kerajaan, untuk bentuk rumahnya bagian atap menjulang lancip keatas. Rumah ini terbagi menjadi beberapa konstruksi ruangan. Pertama ada pelataran yang merupakan sebuah ruangan dibagian depan, biasanya terletak dibagian depan setelah pintu masuk tangga.

    Kedua ada paciran, yang berfungsi untuk ruangan penghubung, dan biasa juga digunakan untuk menyimpan beberapa alat pertanian. Ketiga yakni panampik, untuk tempat menerima dan menyanjung tamu yang datang. Keempat, palindangan yang merupakan bagian tempat untuk tidur dan beristirahat, lalu yang kelima ada padapuran yang merupakan bagian belakang rumah lalu berfungsi untuk menyimpan perbotan alat masak sekaligus tempat masak.

    Tradisi Pasar Terapung

    budaya kalimantan selatan
    sumber: website wikipedia

    Sebuah budaya Kalimantan Selatan yang sangat terkenal, melalui cara perdangan paling berbeda diseluruh nusantara, bertransaksi jual beli menggunakan perahu yang sudah turun menurun dan berlokasi di sungai besar barito. Fungsi pasar ini tetap sama, ada yang menjual sayuran, ikan, buah, daging, dan berbagai kebutuhan masyarakat. Untuk penjual dan pembelinya harus hati-hati dan tetap menjaga keseimbangan perahu.

    Tarian Adat

    sumber: website kompas

    Budaya Kalimantan Selatan menyimpan banyak sejarah tarian. Banjar mempunyai 2 kelompok tarian ada yang dari tarian lingkungan kerajaan keratin dan dari tarian yang berkembang di masyarakat. Semua tarian berawalan dengan nama baksa, contohnya ada tari baksa kembang, tari baksa radap, dan tari baksa tanah. Baksa mempunyai artian kehalusan gerak dalam tarian. Tarian dari Kalimantan mengadopsi beberapa gerakannya dari tarian jawa, yang terlihat halus, kalem, dan pelan. Dari beberapa tarian di banjar, ada satu tarian yang sangat terkenal dan khas, yaitu tari radap rahayu. Tarian ini merupakan seni tari tardisional untuk menyambut para tamu yang datang. Tarian ini sangat sakral karena merupakan sebuah ritual untuk tolak bala masyarakat suku banjar.

    Tradisi Lisan

    budaya kalimantan selatan
    sumber: website mantabz

    Budaya Kalimantan selatan yang dikenal dengan istilah madihin. Tradisi lisan merupakan ciri khas Kalimantan Selatan yang Berasal dari Bahasa arab, artinya nasihat, jadi seni ini berisi pantun atau syair yang berisi nasihat kehidupan. Biasanya terdiri dari 2 sampai 4 orang, dan untuk sebutan nama-nama para seniman yaitu pamadihin. Kebudayaan Kalimantan ini masih bisa kalian jumpai sampai sekarang, karena masih banyak warganya yang menjunjung tinggi adat tersebut.

    Bahasa

    sumber: website

    Budaya Kalimantan Selatan ada hubungan erat dengan Bahasa daerah. Masyarakat biasanya menggunakan Bahasa daerah banjar, Bahasa daerah Kalimantan Selatan ini hampir mirip seperti Bahasa melayu. Bahasa Kalimantan Selatan memang cukup banyak, ada bahasa banjar, Dayak, bakumpai, barangas, samiin, deah, halong, dan agal.

    Kuliner

    budaya kalimantan selatan
    sumber: website wikipedia

    Makanan Khas Kalimantan Selatan ialah soto banjar, makanan paling terkenal di Kalimantan Selatan ini banyak juga disuguhkan untuk menu andalan restoran- restoran besar. Memang Indonesia memiliki banyak sekali soto, kalau untuk soto banjar mempunyai ciri khas tersendiri. Kuahnya bening, dan biasanya dimakan memakai kupat bukan nasi. Makanan khas kedua yaitu ketupat kandangan, bernama kandangan karena ketupat ini berasal dari daerah Kandangan. Bahan pembuatan ketupat menggunakan beras seperti biasa, hanya terlihat lebih padat. Ketupat Kandangan bisa mereka konsumsi pagi, siang, maupun sore. Pengolahan makanannya menggunakan teknik masak langsung bersama santan.

    Makanan favorit ketiga ada manday, kuliner ini menggunakan kulit cempedak. Cara pembuatannya cukup unik, karena kulit cempedak akan diawetkan dahulu dalam waktu yang cukup lama. Memasaknya dengan cara digoreng, tetapi banyak juga yang mereka buat gule, dan bakar. Untuk penyempurnaan rasa, biasanya cempedak masih ditambahkan rempah-rempah khusus. Untuk makanan yang keempat yaitu iwak pakasam, dari namanya saja sudah jelas terbuat dari ikan pakasam yang dicampur dengan kunyit, beras, dan garam. Makanan special ini biasa tersaji untuk makan siang, ikan juga fresh dari sungai sekitar.

    Upacara Walimahan

    budaya kalimantan selatan
    sumber: website banjarmasinpost

    Budaya Kalimantan Selatan yang satu ini merupakan hari bahagia bagi pasangan pengantin baru. Walimahan merupakan upacara resepsi yang dilaksanakan keluarga pengantin pria dan wanita lalu menundang seluruh anggota keluarga. Undangan keluarga bertujuan untuk mendapatkan restu kepada pengantin. Suku banjar sangat kental dalam hal gotong royong, jadi jika ada acara seperti ini maka semua penduduk akan membantu. Membentuk panitia untuk mengurus resepsi dengan baik.

    Upacara Betapung Tawar

    sumber: website banjarmasinposst

    Budaya Kalimantan Selatan yang terakhir ialah batapung tawar yang berfungsi sebagai penebusan akhir masa perawan dari wanita yang akan menikah dan biasanya bersamaan dengan upacara badudus (kegiatan mandi kembang). Dalam upacara batapung tawar akan ada berbagai perangkat yang mempunyai simbol kebutuhan pokok sehari-hari. Biasanya berbagai simbol yang mereka gunakan ialah kelapa, ayam, beras, gula merah, pisau, lilin, uang koin, benang, berbagai rempang-rempah dapur, dan rokok. Setiap item tadi mempunyai makna filosofis yang mengambarkan tentang kehidupan rumah tangga seumur hidupnya. Semua item tadi mereka masukan kedalam kerajang dan akan mereka serahkan kepada pemimpin adat upacara atau tetua adat kampung.

    Telah kita pelajari bersama tentang budaya Kalimantan Selatan yang sangat kaya. Dalam satu pulau Kalimantan saja, masih terdapat suku Dayak yang tentu mempunyai adat berbeda dengan suku banjar. Semoga bermanfaat.

  • Mengenal Budaya Sumatera Selatan Yang Memiliki Berbagai Tradisi Unik

    Mengenal Budaya Sumatera Selatan Yang Memiliki Berbagai Tradisi Unik

    Budaya – Indonesia memilki beragam suku dan budaya, salah satunya kita mengenal adanya sebuah suku Sumatera Selatan yang masih mewarisi budaya kerajaan. Untuk Bahasa daerah Sumatera Selatan sendiri, menggunakan Bahasa musi dan Bahasa melayu. Jumlah penduduk Sumatera Selatan 2020 memang cukup padat, tetapi kepadatan penduduk tersebut tidak berarti akan menghilangnya adat-adat yang sudah ada.  Mari kita simak bersama beberapa tradisi yang menjadi ciri khasnya budaya Palembang.

    Melepaskan Burung

    budaya sumatera selatan
    sumber: website detiknews

    Ketika hari raya imlek masyarakat sumatera selatan yang berkunjung ke vihara. Salah satunya lokasi klenteng yang ramai dipadati pengunjung yaitu vihara dewi kwan im dan berlokasi di kelurahan ulu 10 Palembang. Pertama akan dinyalakan lampu kerlap kerlip setelah itu warga akan melepaskan burung pipit supaya terbang bebas. Biasanya banyak pedagang burung yang berjualan disekitar vihara, jadi warga yang tidak memiliki burung tinggal beli disekitar.

    Menurut warga sekitar tradisi melepas liarkan burung akan memperlancar rezeki dan bisa menghilangkan kesialan. Ketika seseorang semakin banyak melepaskan burung, maka bisa meringankan dosa-dosa yang telah ada. Jika dipirkan melalui akal sehat, kegiatan ini dapat berdampak positif juga untuk para penjual burung sekitarnya. Tradisi ini menarik sejumlah fotografer untuk mengabadikan momen tersebut.

    Adat Ngobeng

    sumber: website 1001 indonesia

    Sebuah tradisi yang terjadi secara turun temurun dari masyarakat Palembang, ngobeng berarti tradisi menghubungkan makanan. Biasanya tradisi ini berguna untuk pernikahan, tasyakuran, dan hari besar agama. Budaya Sumatera Selatan ini masih ada sampai sekarang, masyarakat akan datang dan duduk bersila membentuk lingkaran untuk makan bersama. Sebanyak 8 orang duduk bersila, saling berhadapan dan membentuk lingkaran. Nantinya pada tengah-tengah masyarakat yang duduk melingkar akan ada makanan yang cukup banyak. Menyediakan nasi putih, lauk pauk dan berbagai hidangan dalam satu tempat. Mempunyai filosofi untuk bergotong-royong dan meningkatkan rasa kekeluargaan. Adat ini nyaris tergantikan oleh prasmanan, namun warga Palembang selalu menerapkannya dalam kegiatan umum

    Adat Bekarang Iwak

    budaya sumatera selatan
    sumber: website idntimessumsel

    Budaya Sumatera Selatan yang satu ini memang cukup aneh dan menarik. Menangkap ikan yang dilakukan oleh warga kelurahan Pulokerto, Gandus, Palembang. Masyarakat sekitar sungai Lacak rata-rata berprofesi sebagai penangkap ikan. Adat bekarang iwak biasanya dilakukan setiap setahun sekali oleh warga lacak. Tidak hanya menangkap ikan tetapi juga melakukan berbagai upacara ritual sebagai rasa syukur masyarakat. Sungai lacak merupakan sungai yang sangat jernih dan terdapat berbagai jenis ikan, mulai dari ikan lele, gabus, dan mujair. Kalau berhasil menangkap ikan, warga diperbolehkan membawa pulang ikannya, tetapi yang kecil-kecil saja.

    Untuk berbagai hasil tangkapan ikan yang besar, boleh dibawa pulang oleh pemangku adat. Boleh juga untuk dijual, lalu uang hasil penjualan digunakan untuk pembangunan masjid, bendungan, jembatan, dan lain sebagainya. Tradisi budaya Sumatera Selatan ini berlangsung setiap setahun sekali, apabila tidak terlaksana maka akan mendapat hukuman. Hukumannya berupa adanya penampakan buaya-buaya di sungai lacak. Warga sekitar berharap budaya ini akan mendatangkan rezeki yang melimpah dan menjauhkan warga dari malapetaka.

    Adat Tepung Tawar

    sumber: website idntimes

    Budaya Sumatera Selatan selanjutnya ialah sebuah tradisi untuk menyuapkan ketan ayam dan kunyit ke seseorang. Adat tepung tawar mempunyai 3 tradisi, yaitu untuk tolak bala, perdamaian dan pernikahan. Yang pertama tepung tawar tolak bala, yakni berguna untuk keluarga yang sering mengalami sial dan kecelakaan. Budaya Sumatera Selatan ini mereka lakukan untuk meminta perlindungan kepada Allah dan sudah berjalan selama ratusan tahun. Mulai dari zaman kesultanan Palembang Darussalam sampai sekarang. Adat ini biasa dilakukan pada kediaman seorang budayawan atau seniman sepuh kota Palembang.

    Kedua ada tepung tawar perdamaian, yaitu sebuah budaya Sumatera Selatan yang tumbuh untuk menghindari konflik karena niat buruk yang datang dari hati. Kebiasaan untuk menghindari konflik ini juga merupakan sarana kohesi social dalam mempertahankan kesatuan dalam lingkungan maupun keluarga besar. Ketiga, yaitu tepung adat pernikahan, yang berfungsi untuk mencurahkan rasa kebahagiaan dan rasa senang terhadap manusia. Merupakan simbol pemberian doa restu bagi kesejahteraan kedua pengantin dan juga menjadi tolak balak.

    Adat Sedekah Rame

    budaya sumatera selatan
    sumber: website silontong

    Masyarakat kabupaten Lahat menjadikan Sedekah Rame sebagai tradisi yang biasanya dilakukan para petani. Bermaksud agar hasil panen lancar dan berlimpah dalam tahap pemanenannya. Sambutan tokoh adat sebagai awal acara lalu berlanjut amanat dan doa bersama, dan penutupnya dengan acara makan bersama.

    Rumah Adat Limas

    sumber: website wikipedia

    Budaya Sumater Selatan tidak dapat lepas dari rumah adat, pakaian adat dan tarian. Rumah linmas merupakan budaya Sumatera Selatan yang memiliki ciri khas tentang pengaruh budaya islam dan budaya melayu.  Untuk luas bagunan sekitar 400 meter sampai 1000 meter persegi, tiang kayu yang tertanam pada tanah sebagai topangannya. Rumah linmas terbagai menjadi 3 bagian yaitu ruang gajah atau ruang utama, bilik tidur atau pangkeng, dan dapur atau pawon. Tepat pada bawah atap rumah linmas terdapat ruang gajah (ruang utama). Ruangan ini berguna untuk musyawarah dan menjadi pusat dari rumah linmas.

    Untuk bagian bilik tidur (pangkeng) sisi kanan atau sisi kiri bagian ruangan ini masuk melewati sebuah pintu berbentuk kotak sebagai penutup. Pintu kotak itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan perkakas. Untuk bagian pawon terletak pada bagian belakang rumah adat. Sebenarnya kata pawon tidak hanya di Sumatera saja, di pulau Jawa dapur juga bernama pawon. Rumah linmas memang memiliki banyak filosofi pada berbagai bagiannya.

    Pakaian adat

    budaya sumatera selatan
    sumber: website aminah store

    Budaya Sumatera Selatan yang selanjutnya yakni pakaian adat Sumatera Selatan. Seperti halnya rumah adat, susunan dari atas hingga bawah  tersusun rapi dan menjadi ciri khas. Ada juga mahkota yang berfungis untuk hiasan bagian kepala. Kain sangket berfungsi sebagai penutup dari bagaian ujung atas tubuh sampai ujung kaki. Pakaian adat ini berguna pada acara-acara yang bersifat sakral dan kegiatan upacara adat lainnya.

    Tarian khas

    sumber: website mantabs

    Budaya Sumatera selatan yang terakhir yaitu tarian Sumatera Selatan. Memiliki cukup banyak jenis tarian daerah yang berguna dalam upacara-upacara tertentu. Pertama ada tari tanggai, merupakan tarian untuk para tamu-tamu penting, acara-acara formal ataupun pernikahan. Penarinya yang menggunakan tanggai terbuat dari tembaga dan diperankan oleh lima orang. Menari dengan lemah gemulai dan menggunakan pakaian adat yang membuatnya sangat menarik. Tari tanggai mempunyai filosofi bahwa masyarakat Palembang orangnya ramah, saling menghormati satu sama lain dan juga saling menghargai. Tarian ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai dengan busana yang anggun. Kalau zaman sekarang tarian ini hanya untuk dipertontonkan dalam acara pentas seni sekolah dan pagelaran seni saja.

    Selanjutnya tari tenun songket, merupakan tarian yang terinspirasi dari menenun kemudian melahirkan sebuah tarian adat. Kain songket menggunakan benang yang terlapisi oleh emas dan hanya untuk mempelai wanitanya. Tarian ini biasanya terdiri dari lima orang dan jumlahnya bukanlah aturan baku, sehingga para penari bisa bebas berkreasi ingin berapa orang penari.

  • Mengenal Keunikan Budaya Kalimantan Timur

    Mengenal Keunikan Budaya Kalimantan Timur

    Budaya – Hai sahabat Apik, masih dengan tema kebudayaan Nusantara, pada artikel kali ini KabarApik akan membahas mengenai budaya Kalimantan Timur.

    Kalimantan Timur adalah sebuah provinsi di ujung timur Pulau kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Provinsi yang beribukota Samarinda ini luasnya sekitar 127.346,92 km² dengan populasi hanya sekitar 3.575.449. Sehingga menjadi salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk yang rendah keempat di Indonesia. Langsung saja, berikut ulasan singkat mengenai kebudayaan di Kalimantan Timur.

    1. Suku dan Bahasa Daerah di Kalimantan Timur

    budaya kalimantan timur
    Sumber: web Indozone

    Meskipun bukan menjadi suku asli di sana, etnis Kalimantan Timur didominasi oleh suku Jawa (30,24%). Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Kaltim terutama wilayah transmigrasi dan daerah perkotaan. Kemudian Bugis (20,81%) yang lebih banyak menempati wilayah pesisir dan perkotaan. Posisi ketiga adalah suku Banjar (12,45%) yang banyak menghuni Kota Samarinda dan Balikpapan. Ketiga etnis tersebut dominan karena Kalimantan Timur menjadi tujuan utama migran yang berasal dari Jawa, Sulawesi dan juga Kalimantan Selatan.

    Selanjutnya ada etnis asli yaitu suku Dayak (9,94%) yang menempati daerah pedalaman dan juga Etnis Kutai (7,80%) yang berada di  wilayah Kutai Kartanegara. Sisanya adalah masyarakat dari banyak suku lainnya seperti Toraja, Paser, Sunda, Madura dan Suku Buton.

    Bahasa pengantar bagi keseharian masyarakat kota Kalimantan Timur menggunakan Bahasa Indonesia dan juga Bahasa Banjar. Bahasa Banjar menyebar ke Kalimantan Timur merupakan perantauan Suku Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan. Selain itu Penutur Bahasa Jawa dan Bugis juga mudah kita temui karena banyak pendatang yang berasal dari Jawa dan Sulawesi.

    Ada beberapa bahasa daerah yang masyarakat miliki baik secara umum maupun hanya di beberapa kabupaten di Kalimantan Timur. Mulai dari rumpun Melayu seperti bahasa Kutai Kota Bangun, Berau, Kutai Tenggarong dan rumpun Barito seperti Benuaq, Bentian, Bahasa Paser, Tunjung. Kemudian ada pula bahasa Orang Ulu seperti Bahau, Aoheng/Penihing, Seputan, Modang, dan Basap Berau.

    1. Lagu Daerah dan Alat Musik Tradisional

    Seperti halnya kebudayaan di wilayah nusantara lainnya, Kalimantan Timur juga mempunyai lagu serta alat musik khas daerah. Beberapa lagu daerah Kalimantan Timur yaitu Burung Enggang, Meharit, Bebilin, Andang Sigurandang, Sabarai, Anjat Manik, Bedone, Ayen Sae, Tingkilan (suku Kutai), Sorangan, Indung-indung, dan Musik Sempek/Kejien (suku Dayak Wehea).

    budaya kalimantan timur
    Sumber: web Indozone

    Untuk alat musik, Kalimantan Timur memiliki beragam alat musik tradisional yang unik, seperti kadire, sampek, jatung utang, klentengan (sluding), dan uding/uring.

    • Kedire

    Kedire ini terbuat dari labu yang berusia 5 sampai 6 bulan, terutama bagian mulutnya. Isi labu dikeluarkan kemudian direndam selama 1 bulan penuh. Lalu labu tersebut direkatkan menggunakan perekat dari sarang lebah hutan. Alat musik ini dimainkan dengan ditiup dan nada yang keluar dari tempurung kelapa bisa diatur sesuai irama musik.

    • Klentengan (sluding)

    Sekilas alat musik ini mirip dengan gamelan yang merupakan alat musik tradisional Jawa. Klentangan memiliki 6 gong kecil dengan nada yang berbeda-beda. Klentengan terbuat dari kayu yang kuat dan ringan juga sebuah logam kuningan.

    • Sampek

    Sampek adalah alat musik tradisional Suku Dayak, khususnya masyarakat Kayaan. Yang tunik dari sampek ini adalah pembuatannya dari beberapa jenis kayu antara lain kayu arrow, kayu kapur, dan ulin. Proses pembuatannya memakan waktu hingga berminggu-minggu. Jumlah senarnya menyesuaikan dengan selera pembuat. Mulai dari 3 senar, 6 senar atau bahkan lebih.

    • Jatung Utang

    Alat musik ini terbuat dari kayu memanjang kemudian memainkannya dengan cara dipukul menggunakan kayu yang ujungnya ada gumpalan keras. Selain sebagai hiburan, Jatung Utang ini juga digunakan dalam mengiringi tarian tradisional suku Dayak Kenyah di wilayah Kampung Pampang Kalimantan Timur.

    • Uding/Uring

    Uding atau uring ini memiliki ukuran diameter 2 hingga 3 cm dan panjangnya bisa mencapai 20 cm. Bagian ujungnya terdapat rongga yang berisi biji kayu. Kemudian cara memainkannya yaitu dengan cara dipukul.

    1. Pakaian Adat dan Senjata Tradisional

    gf
    Sumber: web Indozone

    Pakaian adat Kalimantan Timur mungkin sudah tidak begitu asing di mata kita. Tidak begitu jauh perbedaan antara pakaian adat bagi laki-laki maupun perempuan. Menggunakan baju rompi dan kain tenun sebatas lutut. Kemudian untuk kepala mengenakan topi yang berhiaskan bulu dari burung enggang.

    Sebagai aksesoris tambahan, bagi laki-laki mengenakan tameng dengan motif khas di tangannya, ditambah dengan kalung yang terbuat dari gigi dan tulang binatang. Sementara bagi perempuan ada tambahan kain rok dengan warna serta motif khas, kalung dan beberapa gelang di kedua tangannya.

    Selain pakaian adat, provinsi Kalimantan Timur juga memiliki beberapa jenis senjata tradisional yaitu mandau, gayang, sumpit, keris buritkang, tombak, juga perisai. Yang paling populer adalah mandau, senjata berbentuk parang sepanjang kira-kira setengah meter. Senjata tradisional Mandau ini biasanya yang membuat adalah pandai besi yang memiliki ilmu gaib.

    Terdapat dua jenis Mandau yang ada di Kalimantan Utara. Pertama adalah mandau yang disebut Tampilan, dipakai ketika perang dan upacara. Kemudian yang kedua adalah mandau biasa yang dipakai untuk keperluan sehari-hari.

    budaya kalimantan timur
    Sumber: web Indozone
    1. Desa dan Rumah Adat

    Seperti daerah-daerah di Nusantara lainnya, Kalimantan Timur memiliki rumah khas yang bernama Rumah Lamin. Bentuknya yaitu rumah panggung setinggi sekitar 2 meter dan uniknya, rumah ini kapasitasnya mampu terisi oleh 25 sampai 30 kepala keluarga.

    Rumah adat Kalimantan Timur memiliki ujung atap yang dihiasi kepala naga. Kepala naga tersebut melambangkan keagungan, budi luhur, dan juga kepahlawanan. Sementara di halaman rumah terdapar sebuah patung Blontang yang menggambarkan dewa yang menjaga rumah dan juga kampung.

    Sumber: web Kompas

    Di bagian dalamnya terdapat beberapa bagian seperti dapur, ruang tidur, dan ruang tengah. Tangga untuk naik masuk ke dalam rumah terbuat dari satu pohon. Kemudian dinding rumah terbuat dari kayu dan daun rumbia. Kolong bagian bawah rumah biasanya untuk memelihara hewan ternak.

    Salah satu yang juga menarik di Kalimantan Timur adalah adanya sebuah desa budaya. Desa budaya tersebut bernama Desa Lekaq Kidau. Sampai dengan hari ini, desa adat di Kalimantan Timur tersebut masih melestarikan budaya warisan dan menjalani keseharian dengan budaya nenek moyang mereka sebelumnya.

    Salah satu budaya adat yang masih eksis hingga saat ini adalah ketika musim panen tiba. Masyarakat desa akan langsung merayakannya dengan ritual berupa penyembelihan babi lengkap dengan pertunjukan tarian khas Dayak. Selanjutnya ada kegiatan menumbuk beras  menggunakan alat yang bentuknya mernyeryupai lesung hingga menjadi tepung. Tepung beras hasil tumbukan tersebut lalu dimasukkan ke dalam bambu yang berukuran sedang untuk kemudian dibakar dengan bara api.

    Selain itu, penduduk di desa ini juga masih memegang erat budaya daun telinga cuping panjang. Proses pemanjangan cuping telinga ini sudah mulai sejak masih bayi.

    Nah, demikian ulasan singkat mengenai budaya Kalimantan Timur. Pada kesempatan berikutnya KabarApik masih akan hadir dengan artikel kebudayaan nusantara yang akan membahas mengenai budaya Kalimantan Selatan. Semoga bermanfaat, sampai jumpa.

  • Keunikan Budaya Kalimantan Utara yang Perlu Kamu Tahu

    Keunikan Budaya Kalimantan Utara yang Perlu Kamu Tahu

    Budaya – Halo sahabat Apik sekalian, masih dengan tema kebudayaan Nusantara. Pada kesempatan kali ini KabarApik akan membahas mengenai Budaya Kalimantan Utara, sebuah provinsi yang letak wilayahnya di bagian utara Pulau Kalimantan. Nah Provinsi Kalimantan Utara ini adalah salah satu provinsi termuda karena merupakan pecahan dari provinsi Kalimantan Timur. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai provinsi ini, langsung saja simak ulasan berikut.

    1. Suku Bangsa Kalimantan Utara

    Penduduk asli wilayah Kalimantan terdiri atas beberapa suku, yaitu Suku Banjar, Suku Dayak, Suku Bulungan, Suku Kutai dan Suku Kidung. Namun hampir sepertiga dari penduduk di Kalimantan Utara terisi oleh Suku Jawa dan juga penduduk dari wilayah Sulawesi Selatan.

    Untuk agama, kepercayaan masyarakat Kalimantan Utara sangat bervariasi dan menganut agama berbeda-beda. Mayoritas masyarakat menganut agama Islam dengan persentase sekitar 59.54%, kemudian disusul Kristen Protestan 31.38%, Katolik 7.60%, Buddha 1.26%, Hindu 0.06%, dan Konghucu 0.001%.

    Kalimantan Utara wilayahnya berbatasan langsung dengan Negara tetangga, yaitu Malaysia, tepat di wilayah bagian Serawak dan Sabah.

    1. Rumah Adat Kalimantan Utara

    budaya kalimantan utara
    Suber: wikipedia

    Rumah adat masyarakat Kalimantan Utara adalah Rumah Baloy. Bentuknya lebih modern dan modis, hasil dari pengembangan arsitektur Rumah adat Dayak Kalimantan Timur, Rumah Panjang (Rumah Lamin). Rumah Baloy adalah karya Masyarakat suku Tidung yang merupakan suku di Kalimantan Utara. Perpaduan tersebut membuatnya menjadi arsitektur khas suku Tidung.

    Proses pembangunan Rumah adat Baloy berbahan dasar kayu ulin yang merupakan kayu khas Pulau Kalimantan. Pemilihan kayu ini karena memiliki struktur serat yang sangat kuat. Ketika terkena air, kayu ulin justru menjadi semakin kuat. Rumah Baloy posisi bangunannya menghadap utara dengan pintu utama yang menghadap ke selatan. Selain itu terdapat ukiran pada dinding yang menunjukan kearifan lokal daerah pesisir.

    Menariknya, fungsi sebenarnya dari Rumah Baloy bukan sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan adat, tempat pertemuan dan musyawarah terkait masalah-masalah yang terkait dengan adat, serta tempat menampilkan kesenian dari Suku Tidung misalnya Tarian Jepen.

    Di dalam Rumah Baloy terdapat 5 pembagian ruangan.

    • Ambir kiri/alad kait: ruangan untuk pembahasan permasalahan adat atau menerima masyarakat ketika ada yang ingin mengadukan perkara.
    • Ambir tengah/lamin bantong: tempat utama bagi pemuka adat bersidang metika memutuskan sebuah perkara permasalahan adat.
    • Ulad kemangt/Ambir kanan: ruangan untuk berdamai menyelesaikan perkara adat atau juga untuk beristirahat.
    • Lamin dalom: tempat bagi kepala adat besar suku Dayak Tidung.
    • Lubung kilong: bangunan yang ada di tengah kolam.
    1. Pakaian Adat Kalimantan Utara

    budaya kalimantan utara
    sumber: web celebes

    Suku Dayak sangat diidentikkan dengan pulau Kalimantan. Nah suku Dayak yang menjadi mayoritas di provinsi Kalimantan Utara adalah suku Dayak Kenyah. Suku ini memiliki pakaian adat Ta’a dan Sapei Sapaq.

    Bukan hanya Kalimantan Utara, Ta’a dan Sapei Sapaq juga merupakan pakaian adat Kalimantan Timur. Akan tetapi terdapat beberapa ciri yang membedakan antara kedua provinsi tersebut.

    Perbedaan terletak pada motifnya. Ada 3 motif khas pada pakaian adat Kalimantan Utara, baik baju Ta’a atau Sapei Sapaq, yaitu:

    1. Motif burung enggang
    2. Motif harimau atau hewan lainnya
    3. serta motif tumbuhan.

    Baju dengan motif harimau dan burung enggang biasanya bagi para bangsawan, sementara rakyat biasa menggunakan motif tumbuhan.

    • Pakaian Adat Kalimantan Utara untuk Perempuan : Baju Ta’a

    Pakaian Ta’a adalah pakaian adat yang khusus  perempuan Dayak. Terbuat dari kain beludru  hitam dan hiasan manik-manik yang dijahit. Baju Ta’a ini sendiri terdiri dari beberapa bagian yaitu:

    1. Atasan dengan bentuk yang menyerupai rompi tanpa lengan,
    2. Bagian bawah, rok dengan warna serta motif yang sama,
    3. Penutup kepala dengan hiasan bulu burung enggang. Tambahan aksesoris lain yaitu gelang, kalung, dan manik-manik.

    Motif hiasan pada rompi dan rok Ta’a memadukan campuran warna yang mencolok. Sedangkan bagian lengan dan dada terdapat rumbai-rumbai dengan motif dan warna yang sama.

    • Pakaian Adat Kalimantan Utara Pria : Baju Sapei Sapaq

    Baju Sapei Sapaq adalah pakaian adat laki-laki. Dari bahan dan motifnya, masih mirip dengan baju Ta’a. Tetapi untuk bawahan, laki-laki menggunakan berupa gulungan selendang yang dipakai seperti celana dalam.

    Namun sekarang ini, bawahan bawahan seperti itu sudah diganti dengan celana pendek. Untuk melengkapi baju Sapei Sapaq dengan menggunakan senjata tradisional Kalimantan Utara yaitu mandau. Mandau diselipkan di pinggang, kemudian ada perisai perang, dan juga kalung-kalung dari bahan tulang, taring babi, hingga biji-bijian.

    1. Kesenian Tradisional Kebudayaan Kalimantan Utara

    Terdapat banyak macam kesenian tradisional di Kalimantan Utara terbagi, umumnya berupa seni tari dan juga seni musik.

    • Tarian adat Kalimantan Utara:

    Sumber: web berbol

    Tari Magunatip/Tari Lalatip: merupakan tari yang berasal dari daerah Tarakan dan Malinau. Penari menari dengan mata tertutup sambil menghindari batang kayu yang digerakkan.

    Tari Jugit: tarian tradisional  dari daerah Kabupaten Bulungan, Kalimantan utara. Tari jugit ini biasanya ditampilkan di kalangan istana. Tarian ini terbagi dua yaitu Jugit Paman dan Jugit Demaring.

    Tari Kancet Ledo: tarian daerah yang berasal dari Baram-Sarawak, Kalimantan Utara.  Gerakan tariannya serupa angin berhembus yang mengayunkan padi, hal tersebut menggambarkan kelembutan seorang gadis. Kostum dalam tarian menggunakan pakaian adat suku Dayak Kenyah.

    Tari Jepen: tari yang bernuansa islam dengan iringan musik-musik rebana. Kostumnya berupa baju yang berwarna hijau dan kuning. Jumlah penarinya bisa dua orang atau lebih pasangan (laki-laki dan perempuan).

    • Alat Musik: 

    Sumber: web tambahpinter

    Babun: alat musik yang bentuk dan cara mainnya seperti gendang. Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya berongga. Kemudian masing-masing ujung rongga ditutup dengan kulit binatang.

    Rebab: alat musik yang terpengaruh berkat adanya budaya Timur yang masuk ke Indonesia. Bentuk lebih mirip dengan biola begitu pula dengan cara memainkannya.

    Gambang: alat musik tradisional yang terbuat dari bahan kayu maupun bambu dengan banyak 18 buah.

    1. Upacara Adat Kebudayaan Kalimantan Utara

    Banyak upacara adat tradisional Kalimantan Timur yang unik dan menarik. Nah berikut beberapa upacara adat yang masih eksis sampai saat ini:

    • Ngehawa’k

    Upacara ini sering dilaksanakan dalam acara pernikahan dengan banyak membawa atau memperlihatkan benda adat. Jumlah bendanya tergantung juga dari garis keturunan kedua mempelai. Jika mempelai wanita berasal dari keturunan bangsawan, maka mempelai pria wajib menyediakan benda adat sesuai permintaan pihak wanita.

    • Dahau

    Upacara pemberian nama anak yang biasanya digelar oleh keturunan bangsawan atau keluarga terpandang dan mampu secara ekonomi di wilayah tempat tinggal.

    • Ngugu Tahun

    Salah satu upacara adat yang masih dilestarikan oleh suku Dayak Bahau. Upacara ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur atas pemberian kehidupan dan juga penghidupan. Selain suku dayak Bahau, Suku Dayak Tunjung, Dayak Banuaq, dan Dayak Bentian juga melakukan upacara tersebut

    • Beliatn

    Upacara adat ritual penyembuhan. Beliatn  biasanya dilakukan oleh suku Dayak Benuaq. Dan yang paling populer dan penyelenggaraannya paling sering adalah upacara adat Beliatn Bawo dan juga Beliatn Sentiyu.

    Nah, demikian ulasan singkat mengenai budaya Kalimantan Utara. Semoga bermanfaat dan sahabat Apik sekalian bisa mendapatkan tambahan pengetahuan dari sini.

  • Mengenal Keistimewaan Budaya Yogyakarta

    Mengenal Keistimewaan Budaya Yogyakarta

    Budaya – Halo sahabat Apik, kembali lagi dengan artikel yang membahas mengenai kebudayaan daerah di Nusantara. Pada kesempatan kali ini kabarApik akan membahas mengenai Budaya Yogyakarta.

    Selain sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta juga terkenal menjadi Kota Budaya. Sampai saat ini Jogja masih menjaga dan melestarikan budayanya. Berikut ulasan lengkap mengenai Budaya Yogyakarta yang mungkin perlu kamu tahu, yuk langsung kita bahas:

    1. Kuliner Tradisional

    Pertama adalah kuliner Tradisional. Yogyakarta memiliki begitu banyak pilihan kuliner. Selain bisa menikmati beragam tempat wisata yang menarik dan mempesona, para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta juga dimanjakan dengan kuliner tradisionalnya yang nikmat. Nah diantara banyaknya kuliner khas tersebut, berikut beberapa yang paling populer:

    • Gudeg

    budaya Yogyakarta

    Kuliner yang satu ini sudah tidak asing lagi. Begitu mendengar kata gudeg, Yogyakarta adalah hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita. Gudeg adalah kuliner yang terbuat dari olahan gori atau nangka muda yang direbus dengan gula aren serta beberapa bumbu lainnya selama beberapa jam.

    Gudeg merupakan makanan khas jogja yang cukup banyak menarik minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bentuk dan cita rasanya yang unik membuat gudeg menjadi kuliner wajib ketika berkunjung ke Yogyakarta. Ada tiga jenis gudeg yang bisa kita temui, yaitu Gudeg Basah, Gudeg kering dan Gudeg Manggar.

    • Bakpia

    Yang berikut ini merupakan oleh-oleh paling populer bagi wisatawan di Jogja. Saking populernya, kalian bisa dengan mudah menemukan bakpia di setiap sudut Jogja. Bakpia adalah kuliner Jogja yang bahan utama tepung terigu dan kacang hijau.

    Sedikit informasi, bakpia mulai populer di tahun 1980an. Banyak masyarakat memproduksi bakpia khususnya di daerah Pathuk. Sentra bakpia Pathuk cukup populer dan menjadi buruan wisatawan yang mencari oleh-oleh khas Jogja.

    Yang berikutnya adalah Nasi Tiwul. Kuliner khas daerah Gunung Kidul ini adalah makanan khas Jogja yang  berasal dari olahan tepung gaplek atau singkong yang sebelumnya telah dikeringkan.

    Nasi Tiwul di masa lalu menjadi makanan pokok dari masyarakat Gunung Kidul. Tetapi kini Nasi Tiwul telah menjadi salah satu ikon kuliner Yogyakarta yang juga digandrungi para wisatawan.

    1. Pakaian Adat

    budaya Yogyakarta

    Setiap daerah di Indonesia selalu memiliki pakaian adat tradisionalnya masing-masing, begitu pula dengan daerah Yogyakarta. Nah berikut beberapa pakaian tradisional Yogyakarta yang umum kita temui:

    • Surjan

    Surjan merupakan pakaian atasan untuk laki-laki. Pakaian ini berkerah tegak dan juga berlengan panjang. Yang paling populer dan sering kita temui adalah surjan dengan motif lurik atau garis-garis.

    Sementara jenis surjan lain adalah surjan ontrokusuma yang memiliki motif bunga/ kusuma. Biasanya surjan yang satu ini dipakai oleh para bangsawan.

    • Kebaya

    Kebaya adalah pakaian atasan untuk perempuan. Pakaian yang satu ini sebenarnya juga ada di daerah-daerah lainnya. Tetapi tiap daerah memiliki perbedaan, termasuk kebaya Yogyakarta. Yang paling mencolok yaitu adanya pita emas yang mengelilingi bagian leher, lengan, hingga bagian bawah badan. Corak tersebut membuat pemakainya terlihat lebih anggun.

    • Jarit/Jarik

    budaya yogyakarta

    Sama halnya seperti kebaya, jarik juga umum di daerah Jawa lainnya. Tapi kembali lagi, yang membedakannya adalah motif dari jarik tersebut. Jarit Yogyakarta, pada bagian wiru memiliki warna putih atau yang tidak dibatik. Sementara jarik di daerah lain, seluruh bagian kainnya dibatik.

    • Busana abdi dalem estri

    Ada beberapa pakaian untuk abdi dalem estri  (perempuan). Salah satunya adalah semekan atau ubet-ubet yang menjadi pakaian harian abdi dalem.

    Dalam acara tertentu, mereka mengenakan tambahan janggan hitam untuk menutup semekan. Bentuknya seperti surjan dengan kancing sampai leher. Untuk bawahannya menggunakan sinjang/nyamping/bebed.

    • Busana abdi dalem jaler

    Bagi abdi dalem jaler (laki-laki), pakaian atasan disebut pranakan dengan enam kancing di bagian leher depan yang melambangkan 6 rukun iman dan lima kancing pada tiap ujung lengan yang melambangkan 5 rukun Islam.

    Kemudian udheng/dhestar/blangkon sebagai penutup kepala dengan mondolan ciri khas udheng Yogyakarta. Untuk bawahannya juga mengenakan jarit sama seperti abdi dalem estri.

    1. Upacara Tradisional

    Provinsi Yogyakarta memiliki beragam upacara adat atau perayaan tradisional. Nah diantara banyaknya upacara tradisional yang dimiliki Yogyakarta, berikut beberapa perayaan adat yang cukup populer:

    • Grebeg Maulud dan Sekaten

    budaya Yogyakarta

    Yang pertama adalah Grebeg Maulud dan Sekaten. Terutama perayaan sekaten, perayaannya sudah sangat populer bagi para perantau yang berada di Jogja.

    Kata “grebeg” sendiri berasal dari peristiwa Sultan ketika keluar istana dalam rangka memberikan gunungan kepada rakyatnya. Nama tersebut karena peristiwa ini ibarat  bunyi hembusan angin yang keras, sehingga menghasilkan suara “grebeg“.

    Grebeg Maulud terselenggara setiap 12 Rabiul Awal bersamaan dengan hari raya Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara ini ditandai dengan Kirab gunungan yang diarak dari Istana Kemandungan menuju Masjid Gedhe Kauman. Gunungan terbuat dari beras ketan, sayur, lauk, serta buah-buahan. 

    Sedangkan Sekaten sendiri merupakan rangkaian upacara Gerebek Maulud. Sekaten merupakan bentuk penghormatan terhadap hari lahirnya Rasulullah SAW yang ada mulai 5 hingga 11 Rabiul Awal.

    Dalam perayaan ini abdi dalem berkumpul di alun-alun Jogja dan juga Solo untuk mengarak tumpeng beserta satu set gamelan Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilongo. Selain itu Sultan juga hadir di Masjid Gedhe Kauman dan melakukan udhik-udhik yaitu menyebarkan uang receh. Kemudian ada pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang disusul dengan penyematan bunga cempaka pada daun telinga kanan Sri Sultan.

    • Labuhan Parangkusumo

    Upacara merupakan rangkaian dari tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan atau acara adat penobatan tahta Sultan Jogja. Labuhan Parangkusumo menjadi upacara puncak sebagai bentuk meminta keselamatan serta kesejahteraan pada Tuhan.

    Perayaannya di empat tempat berbeda. Temoat pertama di Pantai Parangkusumo, lokasi melarung berbagai sesaji ke laut. Sebab pantai ini dipercaya merupakan tempat Panembahan Senopati bertapa hingga bertemu dengan Nyai Roro Kidul.

    Lokasi kedua adalah Gunung Merapi. Sebab gunung ini dipercaya ikut membantu Kerajaan Mataram ketika berkonflik dengan Kerajaan Pajang pada tahun 1586. Ketika itu, gunung merapi meletus hingga menghancurkan base camp pasukan Pajang. Sehingga membuat mereka mundur dari wilayah Mataram.

    Selanjutnya adalah Gunung Lawu. Sebab di gunung tersebut terdapat petilasan dari raja kelima Majapahit dan juga merupakan bentuk sebuah penghormatan pada Raja Brawijaya V yang pernah membantu Kerajaan Mataram. Lokasi yang terakhir adalah Dlepih Kayangan di Wonogiri. Sebab tempat ini merupakan lokasi para Raja Mataram untuk bertapa dan juga memanjatkan doa kepada Tuhan.

    • Siraman Pusaka

    siraman pusaka

    Setiap kerajaan tentunya memiliki benda pusaka, begitu pula dengan Keraton Jogja. Di setiap tahunnya, keraton Jogja melakukan upacara Siraman Pusaka yang bertujuan untuk merawat benda pusakanya. Upacara ini pelaksanaannya setiap bulan Sura, pada Selasa atau Jumat Kliwon selama dua hari yang sifatnya tertutup.

    Benda pusaka milik Keraton Jogja yang ada dalam upacara tersebut yaitu Keris KK Ageng Sengkelat, Tombak KK Ageng Plered, Kereta Kuda Nyai Jimat. Semuanya yang membersihkan langsung adalah oleh pangeran, wayah dalem, serta bupati. Selain itu, pusaka tersebut juga perlakuannya harus secara istimewa karena bersifat sakral dan memiliki kekuatan supranatural.

    Demikian artikel singkat mengenai budaya Yogyakarta ini. Semoga dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan sahabat Apik sekalian.

  • Belajar Tentang Budaya Sumatera Barat Yang Harus Kita Jaga

    Belajar Tentang Budaya Sumatera Barat Yang Harus Kita Jaga

    Sebuah provinsi dari pulau Sumatera yang kaya akan suku dan Bahasa, bersama kita belajar mengenal berbagai budaya Sumatera Barat. Terletak sebelah pesisir barat tengah pulau sumatera dan berdampingan dengan Bukit Barisan. Selanjutnya mari kita simak bersama berbagai adat, suku dan Bahasa daerah di Sumatera Barat.

    Adat

    budaya sumatera barat
    sumber: website gasbanter journal

    Budaya Sumatera Barat yang pertama adalah adat istiadat Sumatera Barat pertama bernama upacara tabuik, yang berarti sebuah peti kayu. Bermakna sebuah legenda adanya makhluk seperti kuda bersayap dan berkepala manusia, atau bernama buraq. Upacara ini merupakan agenda tahunan sejak abad ke-19 sampai sekarang. Sebuah penghormatan pada cucu nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Tholib pada tanggal 10 muharram.

    Upacara tabuik memiliki 2 jenis, yakni Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Keduanya sama sama dari satu tempat, dari Pariaman. Dalam upacara tersebut memiliki tujuh serangkaian acara. Puncaknya yakni upacara ritual tabuik naik pangkek lalu berlanjut ke hoyak tabuik dan penutupannya tabuik tadi berjalan menuju pantai, tujuannya untuk berlayar kelautan luas.

    Upacara adat kedua yaitu pacu jawi, yakni balapan sapi yang menjadi olahraga tradisional dan dilakukan di tanah datar dan lapang berlumpur. Pada setiap tahunnya ada 4 wilayah yang mengadakan secara bergilir. Berawal dari kecamatan Sungai Tarab, Lima Kaum, Rambatan, dan Pariangan. Sedikit mirip dengan olahraga karapan sapi Madura, hanya saja bedanya kalau Minangkabau memakai wilayah yang berlumpur ekstrim. Acara ini sangat terkenal di daerah Sumatera dan diadakan setiap tahun.

    Suku

    sumber: website rumahdutaminang

    Mengingat begitu banyaknya populasi Sumatera Barat, tentunya juga memiliki Budaya Sumatera Barat yang banyak. Ada cukup banyak suku di Sumatera Barat yang harus kalian ketahui. Contoh salah satu Suku Sumatera Barat adalah suku Minang, yang banyak masyarakat Indonesia tau bahwa orang minang pintar memasak. Terkenal sebagai salah satu suku yang terpelajar karena tersebar banyak di penjuru Indonesia, mulai dari pedagang, jurnalis, politisi, pengajar, sampai ulama. Minang memiliki begitu banyak rempah-rempah untuk memasak.

    Ada sedikit sejarah tentang suku minang, yakni adanya nama minang berarti (menang) dan Kabau (kerbau), yang bersumber pada sebuah legenda abad ke- 13. Konon Kerajaan Singosari melakukan expedisi ke Minang Kabau, lalu untuk mencegah pertempuran, masyarakat lebih baik mengadu kerbau Jawa dengan kerbau Minang. Para tentara Majapahit setuju dan langsung menyediakan kerbau Jawa yang besar, kuat, dan agresif. Sementara dari masyarakat minang menyiapkan satu anak kerbau yang lapar dan terpasanglah bersama pisau pada tanduknya. Tanpa sadar kerbau Jawa hanya tau seekor anak kerbau kecil hendak menyusu, terjadilah pertempuran, kerbau Minang langsung mencabik-cabik perutnya kerbau Jawa. Pada akhirnya muncullah nama Minangkabau.

    Bahasa

    budaya sumatera selatan
    sumber: website yuksinau

    Biasanya bahasa daerah Sumatera Barat memakai Bahasa Minang dan melayu, tentunya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bahasa minang awalnya tersebar di bekas kerajaan Pagar Ruyung yang ada pada suku pedalaman. Suku pedalaman Minangkabau zaman dahulu menjunjung tinggi bahasanya ini, makanya sampai sekarang masih digunakan oleh semua masyarakat Minangkabau.

    Tarian Sumatera Barat

    sumber: website yuk sinau

    Budaya Sumatera barat dari suku Minangkabau dan suku Mentawai yaitu sebuah tarian. Seni ini pada dasarnya dibawa oleh agama islam, ada tari piring, tari pasambahan, tari Indang, dan tari payung. Kita mulai dengan tari payung, tarian yang berasal dari solok dan media utamanya menggunakan piring. Kemudian piring-piring yang dibawa tadi diayunkan dengan gerakan teratur, cepat, dan jangan sampai terlepas dari genggaman tangan. Pada dasarnya tarian ini merupakan silat dari Minangkabau. Ritual tari piring biasanya untuk rasa syukur pada dewa, setelah hasil panen petani bagus. Setelah masuknya islam ke Minangkabau upacara sambutan ini pun sudah tidak terpakai.

    Kedua ada tari pasembahan, yakni sebuah tarian persembahan untuk menyambut para tamu-tamu besar negara kita. Ketika tarian ini berjalan, tamu akan memakai payung sambil jalan menuju tempat duduknya. Setelah selesai tariannya tamu akan diberikan suguhan daun sirih dalam carano yang disediakan. Dalam budaya pernikahan, pengantin laki-lakinya akan menerima daun sirih sebagai ketua. Tarian pasembahan terdiri dari Sembilan orang, lalu terbagi menjadi tiga regu. Regu pertama yakni dua orang penari laki-laki yang memperlihatkan gerakan pencak silat, dan regu kedua yang empat orang penari perempuan. Mereka menari dengan indah, lalu paling belakang ada satu orang yang membawa carano beserta dua orang sebagai pendampingnya.

    Ketiga ada tarian galombang, atau orang-orang biasa menyebutnya gelombang. Merupakan seni yang mengawali kelahiran randai pada tahun 1932 dan lebih sering pada acara pernikahan adat minang. Meskipun tidak ada hubungan yang jelas dengan pernikahan, tetapi sampai sekarang tarian ini berguna untuk menyambut mempelai dan mengantarnya sampai ke pelaminan. Tari galombang dahulu kala bercerita tentang pernikahan seorang pemuda, lalu ia jalan bersama pengawal, yaitu oleh teman silatnya menuju kampung istri. Untuk gerakan-gerakan penari ini cukup lincah, karena gerakan naik turun seperti gelombang laut, pada umumnya mempertunjukan gerakan silat minang. Budaya Sumatera Barat ini masih banyak kita jumpai sampai sekarang.

    Makan Bajamba

    budaya sumatera barat
    sumber: website phinema.com

    Budaya Sumatera Barat selanjutnya Merupakan ialah makan bajamba. Sebuah kegiatan makan bersama yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada ratusan orang yang mengikuti acara adat ini, lalu terbagi menjadi 5 sampai 7 orang. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-7 atau pada awal masuknya islam ke minang. Hal itulah yang ada kaitannya dengan ajaran islam, makan bersama ini juga banyak yang mengartikan mengikuti Sunnah nabi. Tradisi ini semakin menyebar luas sampai seluruh pelosok tanah minang. Sebelum memulai acara makan bajamba, biasanya akan mulai dengan pentas aneka kesenian minang. Tersedia beberapa piring ukuran besar atau dinamakan talam, berukuran diameternya 50 cm.

    Rumah Adat

    sumber: website kompas.com

    Budaya Suatera Barat yang terakhir yakni rumah adat gadang. Dibangun pada tanah yang luas dan milik keluarga induk yang diwariskan secara turun temurun, sekitar rumah gadang ada surau keluarga. Berfungsi untuk tempat berkumpul pemuda atau biasa dipakai untuk kegiatan sosial warga sekitar. Untuk arsiteknya bagunan ini berbentuk segi empat, mengecil ke bawah dan mengembang keatas. Garis meilntang dari bangunan rumah dan melengkung pada sebelah dua tepinya seperti tanduk. Simbol tanduk itu berarti sebuah simbol kemenangan, lalu bentuk atapnya runcing ke atas atau benama gonjong, karena bentuk atap ini biasanya rumah ini juga terkenal dengan nama rumah bagonjong.

    Atapnya terbuat dari ijuk yang kuat untuk bertahan sampai puluhan tahun. Rumah gadang biasanya terbuat dari beberapa unsur penting, yang pertama yaitu kayu, merupakan unsur penting dalam membuat tonggak tuo. Tonggak tuo sebagai penentu berdirinya rumah ini, maka dari itu harus memilih kayu yang berkualitas. Kedua ada ijuk biasa berguna untuk atap rumah. Ketiga yakni jerami juga berfungsi untuk atap rumah, ke empat ada bambu yang berguna untuk membuat dinding bagian belakang. kelima ada papan, berfungsi sebagai dinding juga, dibelah tipis-tipis  sekitar 3 sampai 5 cm.

    Sekian untuk beberapa budaya Sumatera Barat yang harus kalian ketahui, semoga bermanfaat.

  • Mengenal Adat Istiadat Budaya Lampung

    Mengenal Adat Istiadat Budaya Lampung

    Budaya – Halo sahabat Apik, kembali lagi dalam artikel yang membahas mengenai keragaman budaya nusantara. Pada kesempatan kali ini KabarApik akan memberikan informasi mengenai adat istiadat Budaya Lampung.

    Lampung adalah sebuah provinsi yang berada di pulau Sumatera. Lokasinya berada di sebelah selatan pulau Sumatera, ibukotanya adalah Bandar Lampung. Provinsi Lampung terkenal memiliki potensi alam dan sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya adalah potensi kekayaan laut, sebab letaknya yang berbatasan langsung dengan laut. Nah selain kekayaan alam provinsi ini juga juga memiliki kekayaan budaya. Kekayaan budaya tersebut antara lain rumah dan pakaian adat, tarian tradisional, dan bermacam kuliner khas.

    Hal yang menarik untuk kita ketahui mengenai budaya Lampung adalah coraknya yang merupakan perpaduan dari kebudayaan Arab, Cina, dan India. Sehingga banyak keunikan yang tersaji dalam kebudayaannya. Perpaduan beberapa kebudayaan tersebut tidak terlepas dari Lampung yang merupakan jalur perdagangan dunia, oleh karena itu banyak pedagang mancanegara yang mampir dan tak jarang menyisakan beberapa kebudayaan maupun tradisi yang akhirnya mempengaruhi kebudayaan Lampung.

    1. Makanan Khas Lampung

    budaya Lampung
    Sumber: web jalajahnusae

    Yang pertama kita bahas adalah kuliner khas Lampung. Bagi kalian yang sudah pernah mengunjungi atau bahkan yang tinggal di Lampung pasti sudah tidak asing dengan kuliner yang akan kita bahas nanti. Lampung memiliki makanan khas luar biasa enak. Di antara beberapa jenis kuliner Lampung, yang mungkin sudah sangat populer adalah Seruit, Tempoyak, dan Lapis Legit. Bahkan Lapis Legit, yang merupakan makanan asli Lampung ini sudah sangat mudah di temukan di beberapa daerah di Indonesia, hingga menjadi oleh-oleh meski bukan di Lampung.

    Kemudian Seruit, kuliner ini merupakan sajian berupa ikan goreng yang kemudian penyajiannya bersamaan dengan sambal terasi, tempoyak atau juga sambal Lampung. Yang menarik dari kuliner ini yaitu esensinya yang bukan pada jenis masakan melainkan dari cara memakannya. Sebab cara menikmati seruit biasanya beramai-ramai bersama dengan orang lain. Bentuk menikmati kuliner seperti itu sebagai bentuk rasa kebersamaan yang tinggi.

    Tempoyak, nama kuliner ini sudah sangat populer di seluruh penjuru Nusantara. Tempoyak merupakan olahan makanan yang terbuat dari fermentasi durian. Kuliner ini sering menjadi sambal dan penyajiannya bisa dengan berbagai jenis ikan. 

    2. Rumah Adat

    budaya lampung
    Sumber : web ruangarsitek

    Rumah adat tradisional Lampung adalah Nuwo Sesat. Rumah adat ini memiliki bentuk arsitektur yang cukup umum seperti pada rumah-rumah di pulau Sumatera, yaitu bentuk rumah panggung. Nah rumah panggung dipilih karena memiliki salah satu fungsi pada masa lalu untuk menghindari serangan hewan buas.

    Rumah adat Nuwo Sesat ini juga konstruksinya menggunakan kayu untuk badan rumah dan daun ilalang sebagai atapnya. Kayu sebagai bahan baku utama pembuatan rumah agar bisa bertahan dari bencana gempa. Hal tersebut telah ada sejak warisan nenek moyang masyarakat Lampung. Sebab rumah panggung yang terbuat dari bahan baku kayu bisa mempertahankan posisi rumah ketika terjadi bencana gempa bumi. Kemudian, pemanfaatan daun ilalang yang menjadi atap rumah juga sebagai bentuk masyarakat Lampung dalam menghargai hasil sumber daya alam yang tersedia.

    3. Pakaian Adat

    budaya lampung
    Sumber : web sigerblogger

    Provinsi Lampung mempunyai kain khas yakni kain tapis. Kain ini memiliki kesan mewah karena dalam proses pembuatannya ada campuran dengan penggunaan benang emas. Sehingga menimbulkan kilauan yang indah di kain tapis ini. Bagi masyarakat Lampung kain ini biasa dipakai ketika ada perayaan atau  upacara-upacara adat, namun bisa juga dipakai ketika menghadiri acara formal.

    Mengenai pakaian tradisional, dalam kesehariannya bagi laki-laki untuk menutupi badan menggunakan baju kawai, yaitu baju yang berbentuk teluk belanga belah buluh yang. Kemudian menggunakan kikat sebagai pengikat kepala. Sedangkan untuk perempuan, dalam keseharian mereka menggunakan kakambut/kanduk atau kudung penutup kepala. Kemudian untuk menutupi tubuh, mereka menggunakan Lawai.

    Ketika menghadiri acara berupa upacara adat atau acara formal, masyarakat Lampung, khususnya wanita sangat memperhatikan keindahan berpakaian. Sebagian besar mereka  menggunakan kain tapis, karena coraknya yang berkilau dihiasi benang emas. Aura mewah kain tapis semakin indah ketika menambahkan berbagai aksesoris seperti gelang dan kalung emas, senada dengan corak warna kain yang mereka pakai.

    Pakaian adat Lampung termasuk pakaian adat yang cukup lengkap, sebab tidaknyanya pakaian saja, tetapi lengkap dengan adanya tambahan sepatu. Biasanya menggunakan selop beludru yang berwarna hitam untuk laki-laki maupun perempuan. 

    4. Tarian Adat

    Lampung sebenarnya memiliki beragam jenis tarian adat. Tidak jauh bebeda dengan daerah nusantara lainnya, tarian tradisional Lampung juga hadir saat acara-acara tertentu. Berikut tarian tradisional Lampung yang umum ditemui:

    • Tari Sembah atau Tari Sigeh Pengunten

    budaya lampung
    Sumber: web seringjalan

    Tarian ini sebenarnya merupakan pengembangan dari Tari Sembah atau tari Sigeh Pengunten yang dimainkan oleh remaja putri atau anak-anak. Tarian ini sifatnya suka ria dan biasanya ada dalam acara menyambut tamu-tamu penting di suatu acara tertentu. Makna dari tarian ini sebagai bentuk sikap ramah masyarakat Lampung kepada para tamunya, sekaligus suatu bentuk penghormatan kepada tamu yang hadir. 

    Masyarakat suku Lampung terbagi dua berdasarkan adat yang mendominasi, yaitu Pepadun dan Peminggir. Kedua kelompok masyarakat tersebut merasa memiliki hak yang besar untuk memperlihatkan kebudayaan yang menjadi identitas budaya Lampung. Nah Tari Sigeh Pengunten merupakan bentuk perpaduan antara adat Pepadun dan Peminggir. Dari perpaduan itu terciptalah sebuah tarian yang harmonis sekaligus mampu menunjukkan identitas adat keduanya.

    Informasi lain, sesuai dengan namanya tari Sigeh Pengunten menggunakan aksesoris utama yakni siger. Siger adalah aksesoris yang dipakai sebagai mahkota berwarna emas. Ini menunjukkan identitas asli masyarakat Lampung. Ada aksesoris lain selain yang digunakan di kepala, yaitu aksesoris penutup jari yang bentuknya serupa kerucut dan juga berwarna emas.

    • Tari Melinting

    Tari Melinting adalah tarian tradisional dari wilayah Lampung Timur yang menurut sejarahnya adalah peninggalan Ratu Melinting. Tarian ini menggambarkan keperkasaan dan juga keagungan Keratuan Melinting. Pada tahun 1958, tarian ini kemudian disempurnakan. Sebab sebelum tahun itu, tari Melinting hanya mutlak milik Keratuan Melinting. Sehingga hanya boleh dilakukan ketika upacara Keagungan Keratuan Melinting dan penarinya pun hanya boleh dari putra dan putri Keratuan Melinting.

    Saat ini, tari Melinting sudah menyebar luas dan tidak hanya di lingkup Keratuan Melinting. Ia juga telah beralih fungsi menjadi tarian yang menjadi hiburan atau persembahan untuk menyambut tamu yang datang dari luar Lampung. Selain itu tarian ini juga merupakan penggambaran bentuk dari pergaulan yang membahagiakan bagi pasangan muda-mudi. Tergambar dari gerakan laki-laki yang terlihat lebih dinamis, sedangkan perempuan dengan gerakannya yang relatif lebih lembut menyesuaikan dengan sifat mereka.

    Demikian artikel budaya nusantara yang membahas informasi adat istiadat Budaya Lampung. Semoga informasi singkat ini bisa bermanfaat untuk sahabat Apik sekalian.

  • Ragam Tradisi Budaya Bengkulu

    Ragam Tradisi Budaya Bengkulu

    Budaya – Provinsi Bengkulu adalah salah satu provinsi di Sumatera bagian barat dan memiliki luas wilayah sekitar 19.788.70 km². Nah pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai budaya Bengkulu.

    Kebudayaan yang ada dan berkembang di Bengkulu tidak terpisahkan dari sejarah berdirinya. Sebagian sumber sejarah mengatakan bahwa dahulu kala di wilayah ini banyak berdiri kerajaan kecil, antar lain Kerajaan Selebar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Manjuto, Kerajaan Pinang Berlampis, Kerajaan Serdang, Kerajaan Rejang Empat Petulai), dan Bintuhan. Masing-masing kerajaan meninggalkan seni budaya yang khas. Selain itu, suku bangsa asli yang ada di Bengkulu beberapa masih memelihara kebudayaan tersebut hingga sekarang. Tradisi dan budaya di daerah Bengkulu tergabung dalam bermacam kelompok budaya, seperti Kebudayaan Rejang, Serawai, Semendo, Pasemah, Kaur, Melayu, pesisir, dan juga pendatang.

    A. Kesenian Tradisional Provinsi Bengkulu

    • Tarian Tradisional Bengkulu

    Bengkulu dihuni oleh beberapa suku sehingga memiliki beragam kesenian tari. Tarian-tarian  tersebut biasanya hadir dalam berbagai acara upacara adat atau juga penyambutan tamu. Berikut beberapa jenis tarian yang ada di provinsi Bengkulu.

      • Tari Bimbang Andun, tarian selamat datang.
      • Tari Kain Panjang, tarian adat pesta perkawinan.
      • Bidadari Tenimang Anak, tarian adat dari daerah Rejang Lebong.
      • Tari Tabot, tarian upacara Tabot bulan Muharam.
      • Tari Ding Kididing, tarian muda-mudi setelah panen raya. 
      • Gereguak/Geregiak, tarian pergaulan keceriaan para bujang dan dara. dll
    • Alat Musik Tradisional Bengkulu
    budaya bengkulu
    Sumber: web Newsikal

    Provinsi Bengkulu memiliki alat musik yang lumayan terkenal yang disebut Dol. Alat musik bentuknya mirip dengan gendang. Masyarakat Bengkulu di semua lapisan sangat akrab dengan alat ini. Selain itu ada pula alat musik tradisional lainnya berupa gong, kerilu, serdap, serunai, biola, rebana, gendang, kolintang, dan rebak.

    • Lagu Daerah Bengkulu

    Untuk lagu daerah, Provinsi Bengkulu memiliki jenis yang beragam. Lagu-lagu tersebut juga lantunannya sesuai dengan fungsi dan tempat masing-masing, sebagai contoh dalam upacara adat, dan juha pengiring kesenian. Coraknya pun beragam, ada yang bercorak bahasa Rejang, Pasemah, Melayu Bengkulu, atau bahasa daerah Bengkulu lain. Beberapa judul lagu daerah antara lain Toy Botoy-Botoy, Ding Kedinding Ambin Umbut, Bekatak Kurang Kariak, Sekundang Setungguan, Ratu Samban.

    • Seni Kerajinan Rakyat Daerah Bengkulu
    kain
    Sumber: web blog.negerisendiri

    Selain kesenian Musik dan tari, kebudayaan lain masyarakat Bengkulu yaitu seni kerajinan. Antara lain seni pahat, seni ukir, seni batik, dan seni karya lainnya. Kain Besurek menjadi salah satu batik khas kota Bengkulu. Nama Besurek karena kain ini motifnya bertuliskan huruf-huruf arab. Selain itu motif asli kain ini yaitu motif huruf arab dan bunga Raflesia Arnoldi. motif tersebut merupakan paduan antara kaligrafi Jambi dan Cirebon. Berikutnya Kulit Lantung, yang merupakan kerajinan khas dengan bahan utama kulit pohon lantung. Pohon lantung merupakan pohon liar yang banyak di Bengkulu.

    B. Bahasa Daerah Bengkulu

    Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Begitu pula dengan Provinsi Bengkulu, setiap suku di daerah tersebut memiliki bahasanya tersendiri. Berikut beberapa di antaranya:

    • Masyarakat suku Rejang yang menggunakan bahasa rejang atau Rejang-Lebong dalam kesehariannya. Bahasa rejang ini mempunyai aksen yang disebut kangongo.
    • Suku Pasemah yang ada di Bengkulu menggunakan bahasa Pasemah yang masih serumpun dengan bahasa Melayu.
    • Suku Mukomuko yang berada di kabupaten Mukomuko dengan bahasa Minangkabau yang bercampur bahasa Rejang.
    • Masyarakat suku Kaur yang berada di kabupaten Kaur kesehariannya menggunakan bahasa Mulak.
    • Suku Serawai yang tinggal di Seluman dan Bengkulu Selatan menggunakan bahasa Serawai.
    • Suku Lembak yang tinggal di kabupaten Bengkulu Utara, dan Selatan menggunakan bahasa Mulang.

    Selain itu, bahasa Melayu berdialek Bengkulu juga digunakan oleh masyarakat suku Melayu yang tinggal di Bengkulu. Selain bahasa daerah di atas sebenarnya masih banyak bahasa daerah lain dengan dialeknya yang beragam. Sehingga bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu dalam komunikasi antar suku tersebut.

    C. Kuliner Tradisional Masyarakat Bengkulu

    budaya bengkulu
    Sumber: web blog Dapurtehenur

    Terdapat banyak kuliner nikmat yang khas di Provinsi Bengkulu. Mungkin diantara Kerabat Apik sekalian sudah akrab dengan beberapa makanan dan minuman khas yang bisa kalian temui di Bengkulu berikut ini:

    • Gelamai atau dodol khas Bengkulu yang terbuat dari tepung ketan dan kelapa.
    • Perut punai, makanan yang terbuat dari olahan dari tepung beras ketan serta gula merah.
    • Nasi santan, makanan yang terbuat dari beras dan juga santan.
    • Kopi anggut, minuman khas yang bisa kamu temui di kelurahan Anggut Atas kota Bengkulu.
    • Ikan pais atau ikan pepes khas Bengkulu.Jenis pepes ini merupakan olahan dari ikan gebu dan ikan buli.
    • Rebung Asam, olahan rebung yang direndam dalam air beras kemudian dimasak seperti asam pedas.

    Tidak semua jenis makanan tradisional di atas bisa kalian jumpai di satu daerah di Bengkulu. Sebab kuliner tersebut bisa berada di beberapa daerah atau wilayah suku di provinsi Bengkulu.

    D. Arsitektur Tradisional Bengkulu

    • Rumah Adat

    Rumah adat suku di Bengkulu yaitu berupa rumah panggung segi empat memanjang. Masyarakat suku Rejang menyebut rumah adatnya dengan sebutan uneak potong jong. Rumah panggung strukturnya terdiri atas beberapa bagian yaiotu penigo, andie-andie, pendhuhuak, dapur dan gang. Bagian lainnya, seperti hal, dihal, bilik, dan garang.

    • Pakaian Tradisional
    budaya bengkulu
    Sumber: web sintesakonveksi

    Pakaian adat Bengkulu berbeda antara pakaian sehari-hari dan juga pakaian upacara. Di kesehariannya bagi pria Bengkulu pakaiannya adalah kemeja, celana panjang, dan juga kopiah khas Bengkulu. Sedangkan wanita mengenakan baju kebaya khas Bengkulu. Kemudian untuk alas kaki menggunakan terompah, sandal, atau sepatu. Sedangkan untuk upacara adat setiap suku di Bengkulu memiliki pakaian yang berbeda-beda, bergantung pada ritual dan kepercayaanya.

    E. Upacara Tradisional Masyarakat Bengkulu

    Upacara adat masyarakat Bengkulu memiliki banyak variasi tergantung keperluan dan tujuan acaranya. Hingga saat ini masih acara perayaan adat tersebut masih bisa kita jumpai, antara lain:

    • Masa Kelahiran
      • Upacara Menduduk Dukun yaitu upacara saat usia kehamilan masih tujuh bulan dengan mengharap berkah dari tuhan.
      • Upacara Memberi Nama, upacara yang tiga hari setelah kelahiran. Bersamaan dengan upacara ini yaitu upacara Tanggal Puse atau tanggal pusar.
      • Upacara Buang Cumang, upacara mencukur rambut bayi ketika berusia tiga hari.
    • Masa Remaja

    Upacara Sunat Rasul (khitan). Tradisi di wilayah Bengkulu, sebelum khitan anak direndam terlebih dahulu dalam wadah hingga menggigil. Anak yang hendak menjalani khitan biasanya diarak menggunakan kuda. Sedangkan untuk anak perempuan, menjelang dewasa daun telinganya dilubangi ketika upacara bertindik dan juga giginya diratakan (berdabung)

    • Masa Perkawinan
      • Memadu Rasan, dan Bertunangan. Upacara ini yaitu menanyakan pihak mempelai perempuan mengenai kecocokan dengan mempelai laki-laki. 
      • Upacara mengantar uang, upacara pihak laki-laki menyerahkan sejumlah uang pada pihak perempuan.
      • Bertunangan, yaitu tanda ikatan pasangan yang telah bersepakat hidup bersama.
      • Upacara Berdabung, yaitu upacara kikir gigi mempelai perempuan sebelum bertemu dengan pihak laki-laki.
      • Bimbang Gendang, merupakan acara rias pengantin dan keperluan pengantin lainnya seperti kamar pengantin dan pelaminan.
      • Khatam Quran, dilakukan oleh mempelai perempuan sebelum dinikahi.
      • Akad Nikah dilakukan di depan penghulu.
      • Bersanding, kedua mempelai duduk di pelaminan dan dihibur dengan tarian. Setelah upacara selesai keduanya melaksanakan upacara Mandi Rendai.
    • Masa Kematian

    Upacara Kematian khususnya bagi penganut islam, ada acara sedekah kaji pada malam hari setelah jenazah dikuburkan selama 3 hari berturut-turut.

    Beberapa upacara lain yang ada di Bengkulu antara lain Upacara Tabot, Kedurai, Sedekah Rame, Buang Jung, dan Bayar Sat.

    Demikianlah artikel singkat mengenai budaya Bengkulu, semoga dapat bermanfaat bagi Sahabat Apik sekalian.

  • Suku Batak Sebagai Keunikan Budaya Sumatera Utara

    Suku Batak Sebagai Keunikan Budaya Sumatera Utara

    Budaya – Halo sahabat Apik, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai budaya Sumatera Utara, khususnya fokus kepada suku Batak. Suku Batak adalah salah satu suku terbesar di Indonesia yang merupakan rumpun suku di sebagian besar wilayah Sumatera Utara. Suku yang dikategorikan ke dalam Batak adalah Angkola, Pakpak/Dairi, Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba.

    Secara umum masyarakat Batak menganut agama Kristen Protestan, Katolik, dan Islam. Namun sebagian lain masih menganut kepercayaan tradisional seperti tradisi Malim (penganutnya disebut Parmalim) dan kepercayaan animisme, meskipun tidak banyak..

    • Sejarah

    Belum banyak sumber yang menjelaskan kapan nenek moyang orang Batak bermukim pertama kali di Tapanuli dan Sumatra Timur. Karena sampai sekarang belum ada artefak Neolitikum yang ditemukan di Batak, Sehingga bisa diduga nenek moyang Batak bermigrasi ke Sumatera Utara ketika zaman logam.

    Pada abad ke-6, pedagang dari Tamil, India. Mereka mendirikan kota dagang yang bernama Barus dan terletak di pesisir barat wilayah Sumatera Utara. Mereka memperdagangkan kapur Barus yang menjadi mata pencaharian petani-petani di pedalaman. Kapur Barus yang berasal dari tanah Batak kualitasnya terbaik. Sehingga menjadi komoditas ekspor populer selain kemenyan.

    Abad ke-10, Barus mendapat serangan dari kerajaan Sriwijaya. Serangan tersebut membuat pedagang-pedagang Tamil terusir dari pesisir Sumatera. Akhirnya perdagangan kapur Barus dikuasai oleh pedagang Minangkabau. Hingga saat ini, masih banyak teori-teori yang diperdebatkan mengenai asal usul suku Batak. Mulai dari Pulau Formosa (Taiwan), Indochina, hingga dari Mongolia.

    • Identitas Batak

    Budaya Sumatera Utara
    Sumber: Web Wikiwand

    Kepopuleran Batak dalam sejarah Indonesia modern ketika momen bergabungnya pemuda dari Angkola, Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pakpak dalam organisasi Jong Batak tahun 1926. Bersatunya mereka tanpa membedakan Agama. Bahasa Batak begitu kaya Puisi, Pepatah dan Peribahasa yang mengandung kebijaksanaan tersendiri. Bahasanya sama di semua wilayah, yang membedakan hanya dialeknya.

    Suku batak memiliki budaya, Aksara, dan Seni Bangunannya sendiri yang bermutu tinggi. Sistem marga bagi semua kelompok penduduk negeri menunjukkan adanya tata negara yang bijak.

    Sebelum kedatangan Belanda, orang Karo maupun Simalungun mengaku sebagai Batak. Belanda lah yang membuat kelompok-kelompok tersebut terpecah. Dari beberapa sumber ada mitos yang menyatakan bahwa Pusuk Buhit, sebuah puncak di barat Danau Toba, merupakan tempat lahirnya bangsa Batak. Selain itu, menyatakan bahwa nenek moyang masyarakat Batak berasal dari Samosir.

    Masyarakat Batak tersusun dari berbagai marga karena migrasi keluarga-keluarga dari wilayah lain di Sumatra. Sebagai contoh adalah daerah asal marga Kembaren yang berasal dari dari Pagaruyung di Minangkabau. Dari sumber lain, orang Tamil diduga menjadi unsur pembentuk dari masyarakat Karo. Hal tersebut terlihat dari banyaknya nama masyarakat marga Karo yang berasal dari Bahasa Tamil. Orang Suku Tamil yang dulunya menjadi pedagang di wilayah pantai barat, lari  menuju ke pedalaman Sumatra karena serangan pasukan Minangkabau pada abad ke-14 demi menguasai Barus.

    • Kepercayaan

    Dalam budaya Sumatera Utara, Suku Batak mempunyai religi dan sistem kepercayaan terhadap Mulajadi na Bolon yang dipercaya memiliki kekuasaan di atas langit. Pancaran kekuasaannya tersebut terwujud dalam Debata Natolu. Kepercayaan tersebut jauh sebelum suku Batak Toba mengenal agama Kristen Protestan.

    Mengenai jiwa dan roh, masyarakat suku Batak (khususnya Toba) mengenal 3 konsep, yaitu:

      • Tendi/tondi: jiwa atau roh seseorang yang menjadi kekuatan. Tondi memberi nyawa kepada manusia dan ia dapat sejak seseorang masih di dalam kandungan. Ketika tondi meninggalkan tubuh seseorang, maka orang itu akan sakit atau bahkan meninggal. Sehingga dalam tradisi suku Batak ada upacara mangalap atau menjemput tondi dari sombaon yang menawannya.
      • Sahala: jiwa/roh kekuatan seseorang. Semua orang pasti memiliki tondi, tetapi tidak mesti memiliki sahala. Nah Sahala bisa disama artikan dengan sumanta, tuah atau pun kesaktian yang dimiliki oleh para raja atau hula-hula.
      • Begu: tondi orang yang telah meninggal, dan tingkah lakunya sama persis dengan tingkah laku manusia. Begu hanya muncul di pada waktu malam hari.

    Demikianlah kepercayaan suku Batak yang ada dalam pustaha.

    • Kekerabatan

    Budaya Sumatera Utara
    Sumber: Web Wikiwand

    Kekerabatan bagi masyarakat batak menyangkut hubungan hukum setiap orang dalam pergaulan hidup. Nah terdapat dua bentuk kekerabatan dalam suku Batak, pertama berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan yang kedua berdasarkan sosiologis.

    Bentuk kekerabatan berdasarkan keturunan (genealogi) bisa kita lihat dari silsilah marga. Berawal dari Raja Batak, hingga semua suku bangsa Batak mempunyai marga. Kemudian kekerabatan berdasarkan sosiologis bisa terjadi melalui perjanjian (dalam hal ini padan antar marga tertentu) atau karena perkawinan. Nah dalam tradisi Batak, hal yang menjadi kesatuan Adat yaitu ikatan sedarah dalam marga, baru kemudian Marga. Sebagai contoh marga Harahap, kesatuan adatnya harus Marga Harahap vs Marga lainnya. Akan tetapu Adat/Tradisi Batak ini sifatnya dinamis. Terkadang menyesuaikan dengan waktu, tempat dan perbedaan tradisi antar daerah.

    Ada falsafah perumpamaan bahasa Batak Toba yaitu: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. Kalimat tersebut merupakan filosofi yang memiliki makna agar kita selalu menjaga hubungan baik kepada tetangga, sebab merekalah teman yang paling dekat. Akan tetapi dalam pelaksanaan adatnya, yang pertama mereka cari yaitu yang semarga, meski pada dasarnya tetangga tidak boleh terlupakan dalam pelaksanaan Adat.

    • Tarombo dan Ritual kanibalisme

    budaya sumatera utara
    Sumber: Web Wikiwand

    Banyak hal menarik untuk kita ketahui mengenai budaya Sumatera Utara terutama kehidupan sosial suku Batak. Misalnya saja mengenai silsilah atau yang masyarakat Batak kenal dengan istilah Tarombo. Ini merupakan salah satu hal yang cukup penting bagi orang Batak. Sebab mereka yang kurang atau tidak mengetahui silsilahnya, dianggap sebagai nalilu atau orang Batak kesasar. Maka dari itu, orang Batak wajib mengetahui silsilahnya. Paling tidak dari nenek moyang yang menurunkan marganya juga teman semarganya (dongan tubu). Hal ini penting agar mengetahui posisi kekerabatannya dalam suatu marga.

    Hal lain yang menarik atau unik adalah ritual kanibalisme. Meskipun kebenaran mengenai hal ini masih diperdebatkan, namun ritual kanibalisme terdokumentasi dengan baik dalam masyarakat Batak, dengan tujuan  memperkuat tondi pemakan. Sebab secara khusus, jantung, darah, telapak tangan, dan  kaki dianggap sebagai kaya tondi.

    Tahun 1840-an Oscar von Kessel mengunjungi Silindung, dan mengamati ritual kanibalisme Batak.

    Ketika itu seorang pezina dihukum kemudian dimakan hidup. Von Kessel menyatakan jika kanibalisme bagi orang Batak menganggapnya sebagai perbuatan berdasarkan hukum. Selain itu penerapannya juga hanya terbatas bagi beberapa pelanggaran seperti perzinaan, mata-mata, pencurian, atau pengkhianatan. Kemudian cabe merah, garam dan jeruk nipis diberikan oleh keluarga korban. Hal itu merupakan  tanda bahwa keluarga menerima keputusan masyarakat dan tidak akan balas dendam

    Tahun 1890, pemerintah kolonial Belanda kemudian melarang praktik kanibalisme. Rumor kanibalisme suku Batak ini bertahan sampai awal abad ke-20. Akan tetapi diperkirakan adat tersebut sudah tidak dilakukan lagi sejak tahun 1816. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah masuknya pengaruh agama pendatang ke dalam masyarakat Batak.

    Menurut Franz Wilhelm Junghuhn, yang ia tulis dalam bukunya Die Battaländer auf Sumatra, ritual kanibalisme yang terjadi dalam kehidupan sosial suku Batak hanya kabar angin. Hal tersebut ada untuk menakuti Belanda agar tidak memasuki Tanah Batak.

    Demikianlah penjelasan singkat mengenai budaya Sumatera Utara, khususnya suku batak. Semoga bisa bermanfaat untuk kerabat Apik sekalian.