Kategori: Budaya

  • Traidisi Islam dan Beragam Keunikan Budaya Aceh

    Traidisi Islam dan Beragam Keunikan Budaya Aceh

    Budaya – Halo Sahabat Apik, kota Aceh menjadi salah satu kota yang menarik di Indonesia. Kota yang dijuluki serambi mekah ini memiliki beragam keunikan budaya dan tradisi. Terutama penerapan tradisi islam yang menyatu dengan budaya Aceh dalam kehidupan sosialnya. 

    Provinsi Aceh atau Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terletak di ujung barat wilayah Indonesia. Aceh memiliki julukan sebagai Serambi Mekkah. Hal tersebut tidak terlepas dari penerapan Syariat Islam yang menyatu secara harmonis dan sangat baik dengan budaya Aceh. Penerapan tradisi Islam di wilayah Aceh menjadi keistimewaan tersendiri di provinsi ini, Aceh pun mendapat status sebagai Daerah Istimewa.

    Selain penerapan syariat Islam yang menyeluruh, banyak hal menarik dari wilayah Aceh yang bisa kita simak. Aceh memiliki beragam kebudayaan, suku, adat istiadat hingga bahasa daerah. Nah bagi Sahabat Apik yang penasaran seperti apa kebudayaan serta adat istiadat yang ada di sana, berikut ulasan singkatnya.

    A. Budaya dan Kesenian Aceh

    budaya aceh
    Sumber: web visit Banda Aceh

    Wilayah Aceh menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Selain karena geografisnya yang indah, Aceh juga memiliki beragam produk kesenian budaya hingga sastra. Contoh umum yang menggambarkan mengenai seni sastra Aceh salah satunya adalah terdapat banyak hikayat-hikayat yang berasal dari wilayah Aceh.

    Dalam bidang seni lain, seperti tari Aceh misalnya, kita mengenal Tari Saman yang sudah terkenal tidak hanya di dalam negeri, melainkan hingga ke mancanegara. Tarian ini berasal dari suku Gayo dengan bentuk pementasan yang begitu unik. Sebab, hanya dengan menggunakan nyanyian paduan suara penarinya saja. Ditambah dengan paduan tepuk dada dan tangan. Nyanyian dan tepuk menjadi unsur utama dalam tari Saman, kekompakan dan kerja sama tim menjadi yang menarik untuk disaksikan.

    Selain tari Saman yang sudah sangat populer, terdapat beberapa seni teri lain dari wilayah Aceh, seperti:. Tari Ula-ula Lembing dari daerah Melayu Tamiang, Tari Rateb Meuseukat dari suku Aceh, Tari Dampeng dari daerah Singkil, Tari Landok Sampot dari daerah  Kluet, Tari Mesekat dari Ala dll.

    Provinsi Aceh juga memiliki kesenian berupa lagu daerah dan alat musik tradisional. Diantara beberapa lagu daerah yang enak dinikmati dan mungkin sudah pernah sahabat Apik dengar yaitu Bungong Jeumpa, Tawar Sedenge, Aceh Lon Sayang atau Aneuk Yatim.

    rapai
    Sumber: wikipedia

    Sedangkan alat musik Aceh yang populer dan telah ada sejak berabad lamanya adalah Rapai. Rapai merupakan alat musik tradisional wilayah aceh yang dimainkan dengan cara memukul atau menabuh rapai menggunakan tangan tanpa alat bantu. Di wilayah aceh sendiri  setidaknya terdapat 6 jenis rapai: rapa daboih, rapai gerimpheng, rapai pulot, rapai pase atau rapai gantung, dan rapai kisah atau rapai hajat.

    Ada juga alat musik lain yang berasal dari wilayah Singkil yaitu canang kayu. Canang Kayu juga merupakan alat musik pukul. Namun berbeda dengan Rapai, cara memainkan Canang kayu dengan menggunakan alat pemukul khusus yang terbuat dari batang pohon jambu. Dalam memainkannya pun bisa dengan memainkan hanya Canang Kayu, atau bisa dengan iringan alat musik lain seperti gendang, canang tembaga, dan gong.

    Canang Kayu pada awalnya hanyalah alat musik yang dimainkan oleh masyarakat daerah Singkil sebagai hiburan setelah melakukan aktivitas pekerjaan di sawah. Namun kini alat musik tersebut menjadi alat musik tradisional yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan adat masyarakat Singkil.

    B. Bahasa Daerah dan Tradisionalitas

    • Bahasa daerah dan kuliner

    budaya aceh
    Sumber: web islampos

    Kurang lebih terdapat 12 bahasa daerah yang ada di Provinsi Aceh, sesuai dengan wilayahnya masing-masing. Walaupun bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, namun bahasa daerah Aceh tetap menjadi menjadi bahasa utama atau bahasa keseharian yang dipakai. Penggunaan bahasa Indonesia hanya digunakan ketika acara dan situasi formal. bahasa daerah yang ada di Aceh antara lain bahasa Melayu, Gayo, Tamiang, Singkil, Haloban, Lekon, Alas, Jamee, Sigulai, Devayan, dan Kluet.

    Aceh juga  terkenal dengan kuliner khasnya yaitu mie Aceh dan kopi Aceh-nya. Namun, selain kuliner yang sudah populer tersebut, Aceh masih memiliki beragam Makanan khas yang spesial dan unik, antara lain timphan, kue keukarah, kari dan gulai kambing, tasak telu, kuah pliek u, kue adee, sate matang, sie reuboh, meuseukat, dan masih banyak lagi.

    • Rumah adat

    Aceh memiliki rumah adat yang disebut Krong Bade. Bangunan rumah adat ini seluruhnya menggunakan bahan kayu, sedangkan atapnya menggunakan anyaman daun enau/rubia. Bentuk rumah adat Krong Bade ini seperti panggung, dimana bagian kolong rumah berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan. Sedangkan bagian atas sebagai tempat tinggal.

    Tempat tinggalnya memiliki 3 ruangan utama dan 1 ruangan tambahan. Tiga ruang utama tersebut antara lain seuramoë keuë (serambi depan), seuramoë teungoh (serambi tengah), dan seuramoë likôt atau (serambi belakang). Sementara ruangan tambahannya adalah dapur atau rumoh dapu.

    • Pakaian adat

    baju adat
    Sumber: web kita pasti bisa

    Pakaian adat Aceh yang disebut Ulee Balang cukup unik dan khas, karena merupakan bekas peninggalan Kerajaan Perlak dan Samudera Pasai. Untuk pakaian adat pria dikenal dengan nama baju Linto Biro, sedangkan pakaian adat wanita dikenal nama Daro Buro. Ulee Balang terbagi menjadi dua: Daro Baro untuk perempuan dan Linto Baro untuk laki-laki. 

    Daro Baro merupakan pakaian berupa baju kurung dan sileuweu. Dilengkapi juga dengan sarung songket yang menutupi bagian pinggul dan dengan tambahan beberapa aksesoris lain. Sedangkan Linto Baro terdiri atas aksesoris kupiah meukeutop sebagai penutup kepala, baju lengan panjang hitam dengan ornamen emas yang bernama meukasah untuk bagian atasan, dan sileuweu (celana panjang) dengan warna senada. Biasanya penggunaan pakaian adat Ulee Balang ini ketika ada kegiatan istimewa, upacara adat hingga acara pemerintahan. 

    • Senjata tradisional

    Untuk senjata tradisional, Aceh memiliki Rencong. Rencong adalah senjata yang berukuran kecil dan mirip keris. Senjata ini sudah ada sejak zaman Sultan Ali Mughayat Syah, yaitu Sultan pertama Aceh. Rencong merupakan simbol keberanian dan kegagahan masyarakat Aceh hingga saat ini. Dan masyarakat Aceh percaya, bentuk senjata yang menyerupai huruf L ini merupakan simbol Bismillah dalam Islam.

    C. Adat istiadat dan tradisi Aceh

    budaya aceh
    Sumber: web Belajar Fotografi

    Provinsi Aceh memiliki beberapa upacara adat. Upacara tersebut terselenggara berdasarkan fungsinya masing-masing. Secara umum, adat istiadat Aceh memang banyak mendapat pengaruh dari ajaran Islam. Sebagai contoh upacara perkawinan, yang mana penyelenggaraannya memiliki beberapa tahapan. Mulai dari melamar, tunangan, pesta pelaminan, penjemputan mempelai wanita, hingga penjemputan mempelai pria. 

    Kemudian contoh tradisi Aceh atau prosesi adat yang prakteknya masih berlaku hingga saat ini adalah Meuseuke Eungkot di Aceh Barat dan Upacara Peusijuek. Upacara adat ini merupakan tradisi berupa memercikkan air, yang bercampur dengan tepung tawar, kepada seseorang yang sedang memiliki hajat tertentu. Tradisi peusijuek ini bukan hanya sebagai bagian dari prosesi pernikahan saja. Banyak masyarakat Aceh yang melakukan tradisi ini ketika hendak menempati rumah baru, memulai usaha, setelah terlepas dari masalah/musibah, syukuran haji, perayaan kelulusan, dan lain sebagainya.

    Nah demikianlah penjelasan singkat mengenai budaya Aceh secara umum. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi sahabat Apik sekalian.

  • Berbagai Macam Budaya Jambi Yang Perlu Kalian Ketahui

    Berbagai Macam Budaya Jambi Yang Perlu Kalian Ketahui

    Jambi, yakni sebuah provinsi yang berada sebelah timur Pulau Sumatera, berbagai macam budaya Jambi mulai dari rumah adat, pakaian adat, sampai upacara adat. Ada berbagai macam suku dari Jambi, seperti suku Jambi, suku Kerinci, sampai rumpun Minang. Berikut kita simak bersama berbagai macam kebudayaan Jambi lengkap beserta gambar dan penjelasannya.

    Pakaian Adat Jambi

    budaya jambi
    sumber: website goodmindsid

    Budaya yang pertama kita mulai dari pakaian adat Jambi, bernama baju kurung tanggung yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan, pakaian ini terdiri dari penutup kepala atau lacak. Penutup kepalanya terbuat dari beledru warna merah yang memiliki 2 bagian yang menjulang tinggi pada bagaian depannya. Lalu untuk pakaian adat yang perempuan yakni kain selendang berwarna merah dan kain karung songket, nama pakaiannya baju kurung tanggung bersulam benang emas. Bermotif hiasan pelangi, kembang tagapo dan pucuk rebung.

    Bentuk dari baju adatnya bermodel lengan tanggung, lebih dari siku tapi tidak sampai pergelangan tangan, menjadi ciri khas baju kurung tanggung ini. Untuk teknik pembuatannya dengan cara bordir dan tenun. Lalu untuk yang laki-laki dalam pemakaian topinya tidak lupa dimasukan kertas karton, supaya topi terlihat menjulang tinggi. Sebagai hiasan lacak dilengkapi dengan flora, yakni sebuah tali runci di sisi kiri, dan bungo runci untuk sisi kanannya. Bungo runci bisa memakai bunga tiruan ataupun bunga asli. Pakaiannya lengkap dengan sarung songket yang mereka ikat ke pinggul. Supaya ikatan sarung kuat, jangan lupa untuk memasang sabuk kuningan. Sabuk ini bisa menjadi tempat menyelipkan keris dan sekalian menjadi senjata tradisional.

    Rumah Adat

    sumber: website yuksinau

    Budaya jambi yang kedua ialah rumah lajang lako atau biasa bernama dengan rumah lamo. Rumah adat Jambi merupakan tempat tinggalnya masyarakat marga bathin. Nenek moyang mereka mewariskan rumah adat tersebut untuk masyarakat bathin. Konon orang bathin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari koto rayo, mereka merupakan asal mula marga bathin v dengan 5 dusun asalnya. Awal mula masyarakat bathin terdiri dari 5 kelompok asal yang membentuk lima dusun, salah satunya penduduk bathin yang ada sampai sekarang ada di daerah rantau panjang.

    Rumah-rumah disana dibangun memanjang secara terpisah lalu berjarak kira-kira 2 meter dengan menghadap ke jalan, dan belakangnya dibangun lumbung penyimpan padi. Pada bagian langit-langit ada yang bernama tebar layar yang berguna untuk dinding penutup ruang atas dan menahan tempias rembesan dari hujan. Untuk ruang tebar layar dan bubungan atap berfungsi untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Lalu pada samping dindingnya terbuat dari papan ukir, pintunya pun terdiri 3 macam. Ada pintu tegak, pintu balik melintang, dan pintu masinding.

    Upacara Adat

    budaya jambi
    sumber: website seringjalan

    Budaya Jambi masih melekat erat dengan upacara adat  Jambi yang ada sampai sekarang. Ada berbagai macam budaya rutin yang masyarakat lakukan, pertama ialah tradisi malam berinai, yakni mereka lakukan pada malam hari sebelum ijab qabul. Calon mempelai akan memberikan inai, yaitu cat kuku bertujuan untuk melindungi calon mempelai dari gangguan makhluk halus dan gangguan manusia.

    Ke dua ada upacara adat yang bernama tradisi kenduri sko, yaitu upacara pemberian gelar kepada seorang yang tepat. Biasanya mereka yang menyandang gelar depati atau permeti. untuk mengundang para tamu, panitia menggunakan bendera sebagai tanda bahwa sang penerima diundang dalam upacara ini. Puncak dari acara ialah semua lurah mengeluarkan pusaka dan penobatan gelar tadi.

    Ke tiga ada tradisi kumau, upacara adat yang dilakukan oleh semua petani. Sekali dalam setahun dan hanya saat akan memulai kegiatan pertanian. Upacara adat terdapat beberapa tahap, yaitu dari membuka lahan atau ngapak jambe, menyiram benih atau nyambau benih dan memasang pupuk. Selanjutnya untuk yang ke empat ada tradisi berburu sumbun. Menangkap kerang yang mereka namakan sumbun, kegiatan rutin ini mereka lakukan setiap tahun sekali,  budaya masyarakat Jambi ini masih mereka jaga sampai sekarang.

    Tarian Adat Jambi

    sumber: website airsurliving

    Contoh budaya Jambi selanjutnya ialah tarian adat, ada beberapa macam tariannya. Pertama tari inai, berasal dari daerah Kuala Jambi desa Teluk Majelis, tari ini ialah tarian jenis seni pertunjukan. Tariannya gabungan dengan musik, pemainnya lebih sering dimainkan oleh mempelai wanita di rumah mereka. Upacara malam berinai tidak berlaku untuk mempelai laki-laki dan kegunaan utamanya untuk ekspertesi ritual.

    Selanjutnya ada tari sekapur sirih, yang merupakan tarian tradisional yang berfungsi untuk penghormatan kepada tamu daerah. Tarian ini karya Firdaus Chatap pada tahun 1962 beliau merupakan seniman terkenal dari Jambi. Model tariannya menggunakan satu pria yang bertugas membawa payung dan satu lagi wanita. Properti yang mereka gunakan yaitu cerano yang berisi daun sirih, payung dan keris. Tarian satu ini sudah cukup terkenal, bahkan sampai ke Malaysia.

    Ketiga yakni tari selampit delapan. Merupakan sebuah tarian yang memiliki peran penting dan bermakna bagi masyarakat. Terlebih lagi untuk kaum remaja Jambi, karena tarian ini menggambarkan keakraban antar pemuda dan pemudi. Selampit delapan mempunyai makna sebuah simbol persaudaraan serta pergaulan positif. Masyarakat Jambi tidak tau siapa pencipta awal tarian ini, dan tarian ini menyebar turun temurun.

    Keempat ada tari rentak besapih, tarian satu ini berhubungan erat dengan sejarah Jambi, karena dahulu kala Jambi merupakan kota yang terkenal dengan perdagangannya. Dampak positif dari kota Jambi jadi memiliki berbagai macam suku. Keberagaman suku tersebut membuat masyarakat zaman dahulu memrepresentasikan dalam tarian. Nama tarian rentak besapih memperlihatkan rentak langkah dari berbagai macam etnis dari Jambi dan membentuk suatu kesatuan utuh. Gerakan tariannya menggambarkan nuansa keakraban dan kerjasama dalam bermasyarakat. Dibawakan oleh 8 sampai 10 penari yang menggunakan pakaian adat melayu Jambi dan hiasan kepala kain tenun melayu.

    Sejarah Suku Kubu

    budaya jambi
    sumber: website pedoman bengkulu

    Budaya Jambi yang terakhir yaitu adanya suku kubu atau warga sekitar menamakannya orang ulu. Suku ini mayoritas hidup di dalam pedalaman Jambi, perkiraan ada sekitar 200ribu lebih. masyarakat jambi juga menciptakan tarian yang berasal dari suku kubu, yakni tarian kubu. Merupakan sebuah tarian yang berasal dari suku anak dalam dan dilakukan oleh 5 orang pria dan 5 orang wanita menggunakan pakaian kubu sehari-hari. gerakan dari tarian kubu menggunakan hentakan tangan dan kaki ke tanah. Menurut tradisi lisan suku anak dalam merupakan orang maalau sesat yang lari kehutan rimba pada sekitar air hitam.

    Ciri fisik suku anak dalam kubu hampir sama seperti orang Indonesia pada umumnya, tinggi mereka sekitar 155cm sampai 170cm dengan kapal lojong, mata hitam, dan agak sipit. Wajah mereka terlihat bujur telur, lalu untuk senjata mereka menggunakan lembing kayu. Senjata mereka berfungsi untuk mencari makan di sekitar hutan.

    Sekian untuk budaya jambi yang telah kita baca bersama, semoga bermanfaat.

  • Mengenal Budaya Riau Dari Kesenian, Rumah Adat, Senjata Dan Tarian

    Mengenal Budaya Riau Dari Kesenian, Rumah Adat, Senjata Dan Tarian

    Budaya Riau memang memiliki ciri khas melayu, dari adat melayu sendiri mengatur tingkah laku masyarakat dan kegiatan masyarakat. Riau terletak sebelah pesisir selat Malaka, keanekaragaman seni budaya ini harus kita lestarikan dan kita jaga, supaya budaya Riau tidak terkikis oleh waktu. Ada berbagai macam budaya Riau, berikut kita simak bersama berbagai ragam contoh budaya Riau.

    Pakaian Adat Riau

    budaya riau
    sumber: website guratgarut

    Bukti adanya budaya Riau adalah dengan adanya pakaian adat, pakaian tersebut terbagi menjadi beberapa macam, pertama ada pakaian keseharian, yaitu pakaian yang berguna untuk sehari-hari. Pakaian keseharian terbilang cukup sederhana dan tidak banyak asesoris. Kedua ada pakaian resmi, berfungsi untuk dipakai saat pertemuan resmi kerajaan, tapi karena sekarang sudah masa pemerintahan jadi hanya berguna untuk acara pemerintahan daerah Riau.

    Ketiga ada pakaian adatnya, nah kalau untuk pakaian adat biasa dipakai saat upacara pelantikan, upacara penobatan, dan upacara penerimaan tamu negara. Keempat ada pakaian upacara perkawinan, untuk baju laki-laki bernama kurung cekak musang, lalu untuk yang perempuan biasanya mengenakan pakaian yang bermacam-macam tergantung dari upacaranya, kalau malam hari pakai baju kurung teluk telaga. Selanjutnya untuk pakaian berandam berguna ketika akad nikah dan saat upacara bersanding mengenakan kebaya laboh.

    Rumah Adat

    sumber: website desain rumah minimalis

    Tempat tinggal merupakan kebutuhan semua orang, zaman kerajaan dulu rumah merupakan tempat tinggal sekaligus menunjukan kemakmurannya. Seiring berjalannya waktu, rumah adat sekarang menjadi sejarah saja. Rumah adat merupakan contoh budaya melayu Riau dan bernama selaso jatuh kembar, dahulu rumah ini dipakai untuk para datuk pemangku adat daerah. Untuk ruangan, terdiri dari dapur, anjungan, ruang bersila dan kamar tidur. Tiang-tiang rumah, atap, loteng dan alas, semua ada ukirannya.

    Rumah adat ini berbentuk panggung dan berjumlah genap serta memiliki tinggi 1 sampai 2,5 meter, dengan empat persegi panjang dan terbuat dari kayu. Secara keseluruhan budaya Riau ini terbuat dari bahan alami. Atapnya terbuat dari daun rumbiat yang diikat menggunakan rotan pada tulang atapnya. Khusus seperti dinding, tiang, atau lantai terbuat dari kayu terbaik, kayu punak, dan kayu menang. Pada ukirannya memiliki corak warna yang berbeda-beda antara ruangan satu dan ruangan lainnya. Dilengkapi dengan balai adat, yang berguna untuk pertemuan atau musyawarah. Dimasa sekarang tetap masih banyak beberapa rumah adat Riau yang dapat kita jumpai. Rumah adat Riau akan banyak kita lihat sekitar daerah yang masih menjunjung tinggi adat istiadatnya.

    Senjata Tradisional

    sumber: website genPI

    Budaya kepulauan Riau pada masa kerajaan ialah memiliki senjata pedang jenawi, keris, klewang dan tombak. Pedang jenawi biasanya untuk panglima perangnya, lalu untuk kelewang dan tombak biasanya digunakan oleh para prajurit. Bagi masyarakat Riau pedang jenawi memiliki makna yang penting, pertama bermakna kecerdasan. sesorang yang menggunakan harus dia yang cerdas, karena senjata ini perlu digunakan dengan bijak dan tidak boleh sembarangan dipakai.

    Kedua makna ketangguhan raga, pedang jenawa yaitu senjata untuk perang, untuk itu seseorang yang memakainya harus punya ketangguhan yang sama. Bertujuan supaya senjata ini berada pada orang yang benar. Ketiga bermakna kekayaan, senjata ini melambangkan bahwa yang mempunyainya ialah orang yang mampu. Pedang jenawa terbuat dari besi kualitas tinggi dan membuat harganya mahal. Selanjutnya untuk keris, memang keris biasa terkenal dari pulau Jawa. Bukan hanya Jawa saja yang memiliki keris, karena Riau juga mempunyainya. Warisan leluhur satu ini dari Kerajaan Melayu. Keris Riau memiliki lekukan atau luk yang cenderung berbeda dengan keris Jawa. Pada sarung dan gagangnya kebanyakan ada hiasan-hiasan motif flora.

    Untuk ukurannya hampir sama dengan berbagai keris pada umumnya. Keris Riau bukan hanya sebagai perlindungan saja, tetapi juga terpakai untuk sebuah symbol kehormatan pemakainya. Dahulu kala keris sering untuk alat tikam musuh dalam jarak dekat, untuk sekarang keris Riau lebih sering terpakai sebagai pelengkap busana saja. Sering kali untuk diselipkan pada pengantin pria. Berikutnya senjata kelewang, yakni seperti senjata golok yang ujung bilahnya melebar, zaman dahulu sering terpakai untuk bala tentara Kerajaan Riau untuk berperang. Zaman sekarang berguna untuk keperluan bertani saja, baik sawah maupun  ladang. Sampai sekarang banyak kita jumpai penduduk Riau yang banyak mempunya kelewang.

    Tarian Adat Riau

    budaya riau
    sumber: website neprona

    Budaya melayu Riau juga ada hubungan erat dengan tari-tarian, ada cukup banyak jenis tarian di provinsi Riau. Tari tandak, merupakan tari pergaulan Riau yang banyak diminati anak muda pada masa kerajaan dulu. Tarian satu ini sebagai media silaturahmi dan tempat bertemunya para pemuda dan pemudi antar kampung, juga biasanya terkenal dengan nama tari cari jodoh. Kedua ada tari zapin matahari yang dulunya bercampur dengan budaya yaman.

    Tari zapin menyaratkan seperti nilai-nilai agama islam dan biasa sebagai penghibur kalangan istana. Ketiga ada tari makan sirih, dari namanya memang agak aneh. Tarian ini berguna untuk penyambutan tamu yang dating dari negara lain, maupun tamu agung. Saat tarian berlangsung ada seorang penari yang akan membawa kotak berisi sirih dan tamu agung akan mengambil sirih itu untuk penghormatan. Sirih merupakan symbol untuk mendekatkan pergaulan antar masyarakat dengan tamu tersebut. Biasanya ada 5 sampai 9 penari, salah satu penari merupakan yang istimewa dan akan membawa kotak sirih itu.

    Bahasa Riau

    budaya riau
    sumber: website daily kurnia

    Budaya Riau selanjutnya ialah Bahasa daerah yang merupakan identitas suatu tempat dan menunjukan jati dirinya. Bahasa merupakan bukti adanya sebuah daerah yang tumbuh dengan baik dan makmur. Bahasa Riau sendiri masih terbagi sangat banyak. Contohnya bahasa melayu merupakan Bahasa ibu, dari sinilah Bahasa melayu terkenal dan terus berkembang dengan beberapa sub dialek lokal yang ada. Untuk Bahasa daerah Riau identik dengan melayu, tetapi Bahasa melayu terdiri dari berbagai macam antaranya ada Bahasa melayu bengkalis, ada melayu siak, Bahasa melayu Riau dan masih banyak lainnya. Bahasa melayu Riau hampir mirip dengan Bahasa melayu Malaysia. Bahasa melayu Riau ada sejak zaman dahulu dan terus berkembang dengan cepat. Berkembangnya ke banyak kerajaan-kerajaan melayu.

    Pada dasarnya pengucapan Bahasa melayu Riau sama seperti Bahasa Indonesia zaman sekarang. Lafal Bahasa dan logatnya tentu dengan ciri khas melayu, contohnya apabila saya akan terbilang menjadi saye, apa menjadi ape, dan beberapa akan menjadi beberape. Bagaimanapun yang akhiran huruf menjadi huruf e. selanjutnya ada juga Bahasa Riau yang menggugurkan huruf r, contohnya kerja menjadi keja, pergi menjadi pegi, dan berjalan menjadi bejalan. Bagaimanapun terdapat beberapa variasi kecil dalam dialek ini mengikuti kawasan-kawasan tertentu di daerah Riau. Masih ada juga dialek Riau pesisir, rokan hilir, siak, dumai, pelalawan, Indragiri hulu, Indragiri hilir, pekanbaru, Kampar, Kuantan singing, dan rokan hulu.

     Demikian sudah kita baca bersama beberapa budaya dan kesenian dari Riau, semoga bermanfaat.

  • Budaya Palembang yang Membangun Citra Sumatra Selatan

    Budaya Palembang yang Membangun Citra Sumatra Selatan

    Budaya Palembang atau Melayu Palembang memberi pengaruh yang sangat besar terhadap citra Palembang secara khusus dan Sumatra Selatan secara umum. Budaya ini tak hanya mengenai adat dan tradisi saja, melainkan juga kesenian yang lahir dari budaya tersebut. Apa saja keunikan budaya Palembang? Kita akan bahas pada artikel kali ini.

    Palembang merupakan kota besar yang menjadi ibu kota Provinsi Sumatra Selatan. Kota ini merupakan kota terbesar dan terpadat kedua di Sumatra setelah Kota Medan. Sejarah mencatat kota ini sebagai ibu kota kerajaan bahari Buddha terbesar se-Asia Tenggara pada abad ke-9, yaitu Kerajaan Sriwijaya. Inilah yang menciptakan julukan Bumi Sriwijaya untuk Palembang. Julukan lain yang juga dikenal di dunia barat adalah Venice of the East (Venesia dari Timur).

    Suku dan Bahasa

    Pakaian Adat Pengantin Palembang

    Dengan total populasi Kota Palembang mencapai 1.843.488 jiwa di tahun 2018, kebudayaan suku Palembang sangat kuat dan mendominasi. Hal ini karena suku Palembang yang paling banyak mendiami kota ini. Selain Kota Palembang, suku Melayu Palembang juga banyak yang tinggal di Kabupaten Ogan Ilir dan Kabupaten Komering Ilir.

    Meski dahulu menjadi lokasi kerajaan Buddha, kini budaya Palembang lebih erat hubungannya dengan ajaran Islam. Sebagian besar masyarakat suku Palembang atau Melayu Palembang menganut agama Islam.  Bahkan, masyarakat suku Palembang memegang teguh satu semboyan yang berkaitan dengan adat budaya dan syariat Islam. Semboyan itu adalah sondok piyogo, yang dalam bahasa Indonesia artinya “adat dipangku, syari’at dijunjung”.

    Bahasa suku Palembang yang paling utama adalah bahasa Palembang yang merupakan dialek turunan dari rumpun bahasa Melayu. Bahasa Palembang bisa dibilang adalah bahasa Melayu dengan dialek Palembang yang mengakhiri kata dengan huruf ‘o’. sementara dialek bahasa Melayu Palembang sendiri ada dua, yaitu baso Palembang Alus dan baso Palembang Sari-sari.

    Adat dan Tradisi dalam Budaya Palembang

    Meski merupakan salah satu kota besar yang modern, adat dan tradisi masih kental terasa di Kota Palembang. Salah satu yang khas adalah upacara pernikahan adat Palembang. Pengantin Palembang memiliki dua jenis pakaian adat yang dikenakan saat pernikahan, yaitu Aesan Gede dan Aesan Paksangko. Prosesi adat setelah lamaran ada yang namanya Mutus Kato: pernyataan kesanggupan pihak laki-laki untuk memenuhi persyarakat dari pihak calon mempelai perempuan. Setelah akad nikah pun dilakukan serangkaian prosesi adat, yaitu pengantin munggah diikuti prosesi suap-suapan nasi kunyit dan cacap-cacapan air kembang.

    Rumah adat

    budaya palembang

    Rumah adat Palembang salah satunya adalah Rumah Limas. Penamaan rumah adat ini adalah karena atapnya yang berbentuk seperti bangun limas. Keunikan rumah ini tak hanya dari atapnya saja, melainkan keseluruhan arsitekturnya. Rumah Limas bergaya rumah panggung dan terdiri dari lima tingkat dengan filosofi terkait kepercayaan masyarakat setempat. Pembangunannya hampir seluruhnya menggunakan bahan kayu khusus yang terkenal kuat dan awet, seperti kayu unglen, kayu seru, dan kayu tembesu.

    Tradisi di Palembang

    1. Tradisi Ngobeng
    budaya palembang
    Ngoben-ngidang

    Salah satu tradisi yang berkembang di Sumatra Selatan adalah tradisi ngobeng di Palembang. Tradisi ini berkenaan dengan tata cara penyajian makanan untuk memuliakan tamu undangan. Biasanya dilakukan pada hajatan tertentu misalnya pernikahan. Tradisi ngobeng-ngidang ini mencerminkan keakraban dan kerukunan dalam bermasyarakat. Pada tradisi ngobeng, makanan disajikan untuk delapan tamu yang duduk melingkar dengan satu wadah besar nasi beserta lauknya disajikan di tengah mereka. Sayangnya, tradisi makan bersama ini mulai tergerus zaman dimana sekarang masyarakat lebih memilih prasmanan atau prancisan. Tugas kita nih, masyarakat Palembang di masa sekarang, untuk melindungi budaya yang hampir lenyap ditelan zaman ini dari kepunahan.

    1. Tradisi Rumpak-Rumpak

    Tradisi rumpak-rumpak adalah tradisi masyarakat Palembang lamo dan keturunan untuk merayakan hari besar agama Islam yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Pada tradisi ini, masyarakat Kelurahan Kuto Batu bersama-sama bersulaturahmi ke rumah-rumah tetangga setelah sholat Ied. Alat musik pukul Terbangan yang melantunkan irama Islami mengiringi tradisi ini.

    1. Tradisi Bekarang Iwak

    Tradisi Bekarang Iwak diselenggarakan Kecamatan Gandus, Palembang hanya setahun sekali. Sesuai namanya yaitu bekarang yang artinya ‘menangkap’ dan iwak yang berarti ‘ikan’, pada tradisi ini warga bersama-sama menangkap ikan. Nantinya, warga bisa membawa pulang ikan secara gratis, sementara pemangku adat akan menjual ikan besar dan hasilnya untuk kepentingan bersama.

    1. Tradisi di era modern

    Sekarang, Kota Palembang juga menyelenggarakan banyak festival budaya tahunan yang menjadi tradisi Palembang di era modern. Pengadaan festival-festival ini adalah untuk memperingati suatu hari besar. Misalnya, Festival Sriwijaya memperingati Hari Jadi Kota Palembang di bulan Juni. Untuk merayakan Hari Kemerdekaan RI, kita bisa menikmati Festival Bidar dan Perahu Hias spesial dari kota ini. Ada pula berbagai festival yang tujuannya untuk memperingati hari besar agama, misalnya peringatan Tahun Baru Hijriah dan Bulan Ramadhan.

    Seni Budaya Palembang

    Kesenian asal Palembang yang paling dominan adalah seni tari dan seni teaternya. Berikut penjelasannya:

    Seni tari

    budaya palembang
    Tari Gending Sriwijaya

    Tarian Palembang banyak dipentaskan di acara khusus seperti pernikahan dan festival budaya. Biasanya tujuan pentas tari-tarian ini bertujuan menyambut tamu dan memeriahkan acara. Cukup banyak yang berasal dari Palembang, misalnya Tari Gending Sriwijaya, Tari Erai-erai, Tari Setudung Sedulang, Tari Sambut Silampari, Tari Tepak Keraton, dan Tari Tanggai.

    Seni pertunjukan

    Dulmuluk adalah salah satu seni pertunjukan teater asal Palembang. Namanya berasal dari penciptaan kitab Kejayaan Kerajaan Melayu yang berjudul Syair Abdul Muluk. Melansir laman situs balitbangnov Sumatra Selatan, awal terciptanya kesenian teater ini adalah pembacaan syair oleh Wan Bakar pada tahun 1854. Agar lebih menarik, pembacaan ini dibarengi peragaan oleh sekelompok orang, dan juga diiringi musik gambus dan terbangan.

    Kerajinan khas Palembang

    Kain Songket Palembang

    Selain kedua jenis kesenian tersebut, Palembang juga terkenal akan hasil kerajinannya yang khas yaitu kain songket. Kain ini adalah kain buatan tangan dengan menggunakan alat tenun tradisional. Warna dasar kain songket adalah merah dan emas yang melambangkan masa keemasan Kerajaan Sriwijaya dan mendapat pengaruh dari budaya Tiongkok. Warna emasnya juga spesial, yaitu dari penggunaan benang emas dari Tiongkok, Jepang dan Thailand. Karena pembuatan dan bahan-bahan istimewa inilah yang membuat harga kain songket lumayan tinggi.

    Makanan khas Palembang

    Pempek Palembang

    Pempek merupakan makanan khas Palembang yang paling super duper terkenal seantero Indonesia. Bahkan, kalau kita dengar kata ‘Palembang’, yang terpikir pertama dalam pikiran pasti pempek. Bahan utama camilan ini adalah daging ikan tengiri dan tepung sagu. Penyajian gorengan adonan bertambah lengkap dengan kuah berupa saus cuko (cuka). Ada banyak jenis pempek yang sekarang bisa kita nikmati. Yang paling terkenal adalah pempek kapal selam. Jenis pempek lainnya termasuk pempek lenjer, pempek keriting, pempek lenggang, pempek panggang,  pempek belah, dan lain-lain. Ada pula jenis pempek berdasarkan isiannya, yaitu pempek telur, pempek tahu, pempek kulit, dan lain sebagainya.

    Selain pempek, Palembang juga punya aneka jenis camilan yang mirip-mirip, seperti tekwan, laksan, model, dan celimpungan. Ada pula aneka jenis makanan khas lain seperti mie celor, burgo, maksuba, lakso, pindang patin, otak-otak, kemplang, kue srikayo, tempoyak, dan masih banyak lagi.

  • Seni dan Budaya Banten beserta Adat Tradisinya

    Seni dan Budaya Banten beserta Adat Tradisinya

    Seperti halnya budaya daerah lain di Indonesia yang juga multi-etnik, budaya Banten pun sangat unik dan beragam. Di Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak, tinggal Suku Baduy dengan budaya dan adat tradisinya yang unik dan eksklusif. Suku Baduy yang tertutup dan mengisolasi diri dari dunia luar mendiami Desa Kanekes di kaki pegunungan Kendeng. Tapi, kali ini kita nggak akan bahas secara khusus tentang budaya Suku Baduy saja. Pembahasan artikel kali ini akan mencakup keseluruhan aspek budaya Banten.

    Suku dan Bahasa Banten

    Suku Baduy

    Sebagian besar penduduk Provinsi Banten adalah suku Banten yang populasinya sekitar 2,1% dari total penduduk Indonesia, menurut sensus tahun 2010. Jumlah tersebut kurang lebih ada pada angka 4.657.000 jiwa. Masyarakat suku Banten adalah orang Sunda yang tinggal di bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Banten, yaitu bahasa Sunda dengan dialek Banten yang terdengar seperti versi ‘kasar’ bahasa Sunda. Terdengar demikian karena karakter orang Banten yang keras dan tegas, khas penduduk daerah sekitar pesisir pantai. Penggunaan bahasa lain antara lain bahasa Sunda di wilayah Lebak dan Pandeglang, bahasa Jawa Banten oleh etnik Jawa di Serang dan Cilegon, serta dialek Betawi oleh penduduk wilayah utara Kota Tangerang.

    Rumah tradisional Banten

    Rumah Adat Suku Baduy

    Keunikan rumah adat Banten ada pada budaya Suku Baduy yang masih memegang teguh adat istiadat suku mereka. Rumah adat Baduy merupakan rumah panggung dengan bahan yang sangat tradisional. Semuanya menggunakan bahan dari alam, seperti bilik dari anyaman bambu dan kayu untuk fondasi atau kerangka rumah, dinding, dan lantai. Sementara atap rumah suku Baduy terbuat dari ijuk dan daun sirap. Cara membangun rumahnya pun sangat tradisional, tapi hasil akhirnya justru lebih kokoh dan tahan gempa. Mereka menyambung dua kayu dengan teknik paseuk atau pasak. Sementara untuk menyatukan bagian-bagian rumah, mereka mengikat atau menjepitnya.

    Selain rumah adat Baduy, ada pula rumah adat Kasepuhan Banten Kidul. Bentuknya kurang lebih sama, tapi dengan tambahan unsur kebudayaan Banten yang lebih modern.

    Pakaian adat Banten

    Dilansir dari laman situs resmi Provinsi Banten, pakaian adat Banten untuk pria terdiri dari baju koko dengan kerah tertutup serta celana panjang. ikat pinggang mengikat kain batik pada bagian pinggang. Sebagai aksesoris, busana adat dilengkapi dengan parang yang terselip di bagian depan. Sehelai kain juga menghiasi bagian bahu. Sementara para wanita Banten mengenakan atasan kebaya dan bawahan kain batik. Sehelai kain juga menghiasi bagian bahu, dan bros menghiasi bagian depan kancing kebaya. Tatanan rambut yang melengkapi busana ini adalah sanggul dengan hiasan kembang goyang warna emas.

    Senjata tradisional Banten

    Golok Ciomas

    Senjata tradisional memiliki nilai sejarah, terutama hubungannya dengan masa perang. Golok adalah senjata tradisional Banten yang tak hanya digunakan dalam pertarungan dan bela diri tetapi juga untuk berladang dan berburu. Senjata ini juga umum penggunaannya dalam seni pencak silat yang berkembang di wilayah Banten. Salah satu golok khas daerah Banten adalah golok Ciomas yang terkenal akan ketajaman golok dan kemistisannya.

    Makanan khas Banten

    Rabeg Banten

    Rabeg adalah salah satu makanan khas Banten yang paling khas dan populer. Makanan dengan bahan utama daging dan jeroan kambing ini mirip dengan rawon atau gulai. Selain rabeg Banten, ada juga makanan khas lainnya, seperti sate bandeng, nasi belut, angeun lada, ketan bintul, sate bebek Cibeber, dan masih banyak lagi.

    Ragam Kesenian Budaya Banten

    1. Seni pertunjukan

    budaya banten
    Debus

    Salah satu bentuk kebudayaan Banten yang sangat khas dan asli Banten adalah debus. Seni bela diri asal Banten ini lahir pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin di abad ke-16. Kesenian ini bernuansa magis yang menggabungkan kebatilan dengan seni gerak dan seni suara. Singkatnya, debus mempertunjukkan kemampuan luar biasa orang yang mempraktikkannya. Yang disuguhkan antara lain kebal terhadap senjata tajam misalnya golok, kebal api, memasukkan benda ke dalam kelapa yang masih utuh, makan paku, minum air keras, menggoreng telur di kelapa, dan lain sebagainya. Nama debus sendiri berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti tongkat besi berujung runcing dan berhulu bundar. Selain debus, Banten juga terkenal akan berbagai hasil seni budaya seperti pencak silat, rudad, dog-dog, palingtung, dan lojor.

    2. Seni tari

    Tari Cokek

    Seni budaya Banten sedikit banyak mendapat pengaruh dari berbagai budaya lain, seperti budaya Tiongkok, Sunda, dan ajaran Islam. Maka dari itu, ragam seni tari yang berkembang di wilayah ini pun kurang lebih sama dengan yang ada di Jawa Barat, seperti Tari Ketuk Tilu. Ada juga Tari Saman atau Dzikir Saman yang juga merupakan tarian khas Aceh. Banten juga punya Tari Topeng, Tari Dala’il Wajun, Tari Katuran dan tari-tarian tradisi lainnya. Ada juga Tari Cokek asal Tangerang yang mendapat pengaruh dari budaya Sunda, budaya Tiongkok, dan budaya Betawi. Pentas tari dengan iringan gambang kromong ini dulunya menjadi hiburan orang Belanda pada zaman penjajahan. Sekarang, Tari Cokek hanya dipertunjukkan pada acara tertentu saja.

    3. Seni musik

    Angklung Buhun

    Alat musik Banten antara lain angklung buhun dari Suku Baduy, pantung bambu, serta kesenian rampak beduk. Angklung buhun juga dikenal dengan sebutan angklung Baduy. Alat musik ini kabarnya hanya boleh dimainkan saat upacara adat Pere Huma yang diselenggarakan pada bulan ketujuh dan kedelapan. Kesenian pencak silat yang berkembang di Banten juga memiliki musik pengiring bernama petitung. Alat musik ini terdiri dari terompet petitung,kendang, kenong, kempul, kecrek, dan gong panggang. Sementara kesenian Rudad di Banten diiringi seperangkat alat musik terbang atau rebana.

    4. Cerita rakyat

    Beberapa cerita rakyat Banten juga meramaikan ragam seni budaya dan sastra di Banten. Ada beberapa kisah legenda yang meneritakan asal mula suatu daerah. Beberapa judul yang paling terkenal antara lain Asal Mula Pandeglang (Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari), Asal Mula Prasasti Munjul, Asal Mula Gunung Pinang, Asal Mula Cikaputrian, Asal Mula Tanjung Lesung, dan Legenda Batu Kuwung.

    Tradisi dan upacara adat dalam budaya Banten

    Banyak adat dan tradisi Banten yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh suku lain seperti suku Sunda dan suku Jawa. Beberapa tradisi juga mendapat pengaruh dari ajaran Islam yang berkembang pesat di Banten. Adat dan tradisi tersebut biasanya berkaitan dengan siklus hidup, yaitu upacara adat kehamilan, kelahiran, pernikahan dan kematian. Suku Baduy yang masih memegang teguh dan melestarikan adat dan tradisi memiliki setidaknya 3 upacara penting. Ketiga upacara adat tersebut yaitu upacara ngawalu, upacara ngalaksa, dan upacara adat seba. Ketiganya juga berkaitan dengan kegiatan berladang yang masih dilakukan Suku Baduy hingga kini.

    budaya banten
    Seba Baduy

    Ngawalu menjadi upacara ‘kembali’-nya padi dari ladang ke lumbung atau leuit. Upacara ini dilaksanakan tiga kali pada bulan Kawalu. Ngalaksa sendiri adalah upacara pembuatan laksa, yaitu sejenis mie yang lebar dan dibuat dari tepung beras. Upacara ini setara dengan ‘hari lebaran’ bagi masyarakat Suku Baduy yang berpuasa pada bulan Kawalu. Yang terakhir adalah upacara Seba, yaitu kunjungan ke rumah Bapak Gede, sebutan pimpinan pemerintahan seperti camat, bupati dan gubernur. Upacara ini dilakukan setahun sekali sebagai bentuk ketaatan dan kerja sama Suku Baduy dengan pemerintahan RI. Upacara ini juga menjembatani komunikasi kedua belah pihak.

  • Budaya Aceh, Adat Istiadat, dan Aplikasi Syariat Islam di Serambi Mekah

    Budaya Aceh, Adat Istiadat, dan Aplikasi Syariat Islam di Serambi Mekah

    Syariat Islam sudah sejak lama melebur secara harmonis dengan budaya Aceh. Berbagai makalah kebudayaan Aceh tak pernah absen membahas aplikasi syariat Islam pada provinsi di ujung paling barat Indonesia ini. Keislaman Aceh memang adalah salah satu bentuk keistimewaan provinsi yang mendapat status Daerah Istimewa ini. Bagaimanakah budaya Aceh dan adat istiadat yang dijunjung tinggi di sana? Simak artikel berikut!

    Aceh sebagai gerbang masuknya ajaran Islam di Nusantara

    budaya aceh
    Tari Saman

    Sebagai daerah paling ujung barat Indonesia, Aceh memegang peran penting masuknya budaya asing ke wilayah NKRI. Letaknya yang strategis menjadi tempat bertemunya budaya barat dan timur, serta sebagai jalur perdagangan yang dibarengi dengan misi penyebaran agama. Dalam hal ini termasuk agama Islam yang sangat klik dengan Aceh. Hal ini karena meski Hindu dan Budha masuk ke Aceh lebih dulu, tapi yang diterima dan berkembang di Aceh adalah ajaran Islam.

    Islam mulai masuk ke wilayah Aceh pada abad ke-9, bersamaan dengan masuknya pedagang dari Gujarat dan Arab yang beragama Islam. Dilansir dari situs resmi pemerintah provinsi Aceh, menurut sejarah Aceh menjadi gerbang masuknya ajaran Islam di Indonesia. Bahkan, kerajaan Islam pertama lahir dan berkembang di Aceh, yaitu kerajaan Peureulak dan Kesultanan Pasai (Samudera Pasai). Ketua Majelis Adat Aceh, H. Badruzzaman Ismail, S.H., M.Hum, menyatakan bahwa budaya adat Aceh dan syariat Islam adalah dua hal yang telah membaur menjadi satu dan tak terpisahkan. Menurut beliau, budaya adat Aceh mengandung nilai religius dan tak bisa lepas dari aplikasi syariat Islam di wilayah Aceh sendiri. Saking besarnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari, provinsi ini pun mendapat julukan “Serambi Mekah”, atau Seuramo Mekkah dalam bahasa Aceh.

    Seni dan budaya Aceh

    Provinsi Aceh dengan total luas wilayah sekitar 57,956 kilometer persegi inni didominasi oleh masyarakat dari suku Aceh. Karenanya, meski bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa resmi, bahasa daerah Aceh yang menjadi bahasa utama daerah ini adalah bahasa Aceh. Penggunaan bahasa daerah lainnya biasanya berdasarkan daerah tertentu di wilayah Aceh. Bahasa-bahasa tersebut antara lain bahasa Melayu, Gayo, Tamiang, Singkil, Haloban, Lekon, Alas, Jamee, Sigulai, Devayan, dan Kluet.

    Seni tari

    Tari Ula-ula Lembing

    Aceh juga merupakan daerah di Indonesia yang kaya akan hasil seni budaya dan sastra. Banyak hikayat yang lahir di tanah ini. Untuk seni tari Aceh, yang paling terkenal bahkan hingga ke mancanegara adalah tari Saman. Tari yang berasal dari suku Gayo ini sangat unik karena pentasnya tanpa iringan alat musik, hanya nyanyian dari paduan suara para penarinya saja. Tepuk dada dan tepuk tangan menjadi unsur dasar tari Saman, dan perlu kerja sama tim yang baik untuk menarikannya. Selain Tari Saman dari Gayo, ada pula banyak tarian khas Aceh. Seperti Tari Rateb Meuseukat dari suku Aceh, Tari Ula-ula Lembing dari Melayu Tamiang, Tari Dampeng dari Singkil, Tari Landok Sampot dari Kluet, Tari Mesekat dari Alas, dan masih banyak lagi.

    Seni musik

    Rapai

    Bagaimana dengan alat musik Aceh? Pentas Tari Saman memang tanpa iringan alat musik apapun, tapi bukan berarti tak ada alat musik di Aceh. Salah satu alat musik tradisional yang sudah ada sejak berabad-abad silam adalah Rapai yang merupakan alat musik pukul. Cara memainkannya adalah dengan menabuh atau memukul rapai tanpa alat bantu, yaitu dengan menggunakan tangan. Ada setidaknya 6 jenis rapai: rapa daboih, rapai gerimpheng, rapai pulot, rapai pase atau rapai gantung, dan rapai kisah atau rapai hajat.

    Selain rapai, ada pula alat musik dari Singkil yaitu canang kayu. Sesuai namanya, alat musik ini terbuat dari kayu. Untuk memainkan alat musik pukul ini adalah dengan menggunakan alat pemukul yang terbuat dari batang kayu pohon jambu. Canang kayu bisa dimainkan solo, atau bisa juga diiringi alat musik lain seperti gendang, canang tembaga, dan gong. Dulunya, masyarakat Singkil yang bertani memainkan canang kayu sebagai hiburan setelah selesai melakukan pekerjaan di sawah. Kini, alat musik ini sudah menjadi salah satu bentuk budaya Aceh yang menemani kegiatan adat masyarakat Singkil.

    Makanan khas Aceh

    Aceh memang terkenal akan mie Aceh dan kopi Aceh-nya. Tapi, makanan khas Aceh tak hanya itu saja lho! Makanan dan camilan khas Aceh yang nggak kalah spesial antara lain timphan, kue keukarah, tasak telu, kari dan gulai kambing, kuah pliek u, kue adee, meuseukat, sate matang, sie reuboh, dan masih banyak lagi.

    Rumah, senjata, dan pakaian tradisional Aceh

    budaya aceh

    Rumah adat Aceh bernama Rumoh Aceh yang merupakan rumah panggung yang memiliki 3 ruang utama dan 1 bagian tambahan. Ruangan utamanya antara lain seuramoë keuë atau serambi depan, seuramoë teungoh atau serambi tengah, dan seuramoë likôt atau serambi belakang. Sementara bagian tambahannya adalah rumah dapur atau bahasa Aceh-nya rumoh dapu.

    Rencong

    Senjata tradisional Aceh pun ada kaitannya dengan aspek sejarah dan religi. Rencong sudah menjadi senjata yang digunakan di Aceh sejak zaman Sultan Ali Mughayat Syah yang merupakan Sultan Aceh pertama. Senjata ini pun menjadi simbol keberanian dan kegagahan orang Aceh hingga kini, meskipun masyarakat tidak lagi menggunakannya sebagai senjata penyerang. Rencong milik Sultan terbuat dari emas dan memiliki ukiran potongan ayat suci Al-Qur’an. Masyarakat Aceh percaya bahwa bentuk senjata yang serupa huruf L ini mewakili simbol Bismillah dalam agama Islam.

    Pakaian adat Aceh Ulee Balang ada dua: Linto Baro untuk laki-laki dan Daro Baro untuk wanita. Linto Baro terdiri dari aksesoris kupiah meukeutop yang jadi penutup kepala, atasan lengan panjang warna hitam dengan ornamen warna emas yang bernama meukasah, dan sileuweu atau celana panjang dengan warna senada. Sedangkan Daro Baro terdiri dari baju kurung dan sileuweu lengkap dengan sarung songket untuk menutupi bagian pinggul serta beberapa aksesoris lain.

    Adat istiadat dan tradisi Aceh

    Adat istiadat Aceh memang mendapat pengaruh yang sangat besar dari ajaran agama Islam. Syariat Islam meniupkan nafas bagi budaya adat Aceh yang memiliki nilai historis, filosofis, dan mencerminkan produk budaya Aceh. Salah satu praktik adat istiadat Aceh adalah prosesi pernikahannya. Upacara pernikahan di Aceh terdiri dari beberapa tahap, antara lain: lamaran calon pengantin wanita, pesta pelaminan, penjemputan mempelai wanita dan penjemputan mempelai pria.

    budaya aceh
    Upacara Peusijuek

    Salah satu tradisi Aceh dan prosesi adat yang praktiknya masih berjalan hingga sekarang adalah Upacara Peusijuek. Prosesi adat ini merupakan tradisi memercikkan air dengan campuran tepung tawar kepada seseorang yang punya hajat tertentu. Praktik peusijuek ini tak hanya sebagai bagian dari prosesi adat pernikahan saja. Banyak juga masyarakat Aceh yang melakukan upacara adat ini ketika hendak memulai usaha, menempati rumah baru, setelah terlepas dari masalah atau musibah, perayaan kelulusan, syukuran haji, dan lain sebagainya. Selain peusijuek, ada pula tradisi Meuseuke Eungkot yang merupakan tradisi di Aceh Barat.

  • Semua Hal tentang Tradisi dan Budaya Jawa Timur

    Semua Hal tentang Tradisi dan Budaya Jawa Timur

    budaya jawa timur

    Meski sama-sama ada di Pulau Jawa dengan mayoritas penduduk dari suku Jawa, budaya Jawa Timur berbeda dengan budaya Jawa Tengah. Simak untuk tahu semua hal tentang provinsi Jawa Timur dan budaya Jawa Timuran!

    Profil Provinsi Jawa Timur

    Sebelum bicara tentang budayanya, mari kita bahas sedikit mengenai profil Provinsi Jawa Timur. Sesuai namanya, provinsi dengan Kota Surabaya sebagai ibu kota ini letaknya ada di ujung timur Pulau Jawa. Wilayahnya tak hanya di pulau utama saja, yaitu Pulau Jawa, melainkan juga mencakup wilayah Pulau Madura, Bawean, Kangean, dan pulau-pulau kecil lainnya. Total luas seluruh wilayah Jawa Timur adalah sekitar 47.992 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk per 2019 sebanyak 39.698.631 jiwa. Pariwisata Jawa Timur kebanyakan menawarkan keindahan alamnya yang masih asri dan indah. Semuanya unik-unik, karena hanya bisa kamu nikmati di Jawa Timur saja. Misalnya, pesona kawah Ijen di Banyuwangi, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Baluran di Situbondo, dan masih banyak lagi.

    Taman Nasional Baluran

    Suku di Jawa Timur yang dominan antara lain adalah suku Jawa, suku Madura, dan etnis Tionghoa. Meski Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi, bahasa daerah Jawa Timur yaitu bahasa Jawa dan bahasa Madura lebih lazim penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa di Jawa Timur pun berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jawa Timur lebih sering menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar) dan tingkatan bahasa biasanya tidak diperhatikan. Sementara penggunaan Bahasa Madura tidak hanya di Pulau Madura saja. Bahasa ini juga digunakan di daerah pesisir seperti Pasuruan, Besuki, Sidoarjo, Bondowoso, Jember dan Situbondo. Selain dua bahasa daerah di atas, masyarakat Suku Tengger di Jawa Timur menggunakan bahasa Jawa dialek Tengger. Sedangkan Suku Osing di Banyuwangi memakai Bahasa Osing.

    Budaya Jawa Timur

    Adat dan Tradisi

    Tradisi Jawa Timur, seperti halnya di wilayah lain di seluruh Indonesia, berkaitan dengan kepercayaan dan fase kehidupan. Tradisi yang berkaitan dengan kehidupan atau daur hidup misalnya ruwatan, upacara kelahiran bayi sebagai tolak bala agar terhindar dari ancaman Bathara Kala. Upacara lain berkaitan dengan pernikahan dan kematian. Beberapa upacara adat dan tradisi yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat antara lain:

    • Mayang Kubro di Kabupaten Mojokerto
    • Nyadar di Kabupaten Sumenep
    • Nyadran di Kabupaten Sidoarjo
    • Larung Sesaji di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Magetan
    • Tumpeng Sewu oleh Suku Osing di Banyuwangi
    • Dan lain-lain
    budaya jawa timur
    Upacara Kasodo

    Di Tengger, banyak dilakukan upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan setempat. Yang paling signifikan dan sarat makna dan sarat akan nilai sejarah adalah Upacara Kasodo. Tujuan utamanya adalah tolak bala dan memohon kesembuhan penyakit serta panen yang berlimpah. Upacara persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo ini juga sebagai peringatan pengorbanan Raden Kesuma, putra Jaka Seger dan Rara Anteng pada legenda asal mula suku Tengger. Dinamakan upacara Kasodo karena dilaksanakan setiap tahun pada bulan Kasada kalender Jawa, tepatnya pada hari ke-14.

    Rumah Adat

    di Jawa Timur, setidaknya ada dua jenis rumah adat. Ya. Rumah adat Jawa Timur ada dari suku Jawa dan suku Madura. Rumah adat suku Jawa kurang lebih sama dengan yang ada di Jawa Tengah, yaitu rumah joglo dan limasan. Penggunaan rumah joglo di Jawa Timur misalnya ada di Kabupaten Ponorogo. Rumah adat suku Madura adalah rumah slodoran atau rumah malang are yang memanjang dan tidak berkamar. Tapi, di Madura juga ada kok, rumah yang ada kamar-kamarnya. Namanya rumah sedanan. Ada beberapa jenis rumah adat suku Madura yang dibedakan menurut bentuk atapnya, yaitu: gadrim, pacenanan, dan sekodan.

    Pakaian Adat

    Seperti rumah adat dan bahasanya, pakaian adat Jawa Timur juga beragam. Pada dasarnya, pakaian adat yang dipakai sehari-hari kurang lebih sama di banyak wilayah Jawa Timur. Para pria mengenakan celana kombor (celana yang longgar) di atas mata kaki, serta berbagai cara penggunaan sarung. Sementara para wanita Jawa Timur lebih sering mengenakan bawahan batik yang disarungkan atau dililitkan biasa daripada kain jarik yang diwiru.

    Pakaian Adat Madura

    Dari banyaknya ragam pakaian tradisional di Jawa Timur, beberapa sangat khas. Misalnya pakaian adat suku Madura dan pakaian adat suku Tengger. Pakaian adat Madura untuk kaum pria terdiri dari baju pesa’an dan celana gomboran atau kombor. Luaran dan celana serba hitam, dengan baju dalam berupa kaos motif garis warna merah dan putih yang khas. Aksesoris yang sering digunakan adalah tutup kepala dan sarung. Untuk para wanita Madura, biasanya mereka mengenakan kebaya rancongan.

    Masyarakat suku Tengger yang tinggal di daerah berhawa dingin mengenakan sarung dalam berbagai cara. Cara pakai sarung tersebut antara lain bernama kakawung, sempetan, sesembong, kekodong, sampiran, kekemul, dan sengkletan.

    Kesenian Jawa Timuran

    Seni Tari

    Tari Remo

    Ragam tarian Jawa Timur mencerminkan kekhasan daerahnya. Tari tradisional Jawa Timur berbeda dengan tari tradisional asal Jawa Tengah dan Yogyakarta identik dengan kelembutan dan kehati-hatian. Tari-tarian yang berkembang di Jawa Timur biasanya lebih gagah, atraktif dan bersemangat, dengan tempo musik pengiringnya yang juga cenderung cepat. Contoh tari tradisional dari wilayah Jawa Timur antara lain: Tari Remo, Jathilan, Tari Pecut, Tari Barongan, Tari Kuda Lumping, Tari Gandrung dari Banyuwangi, Tari Seblang, Tari Jejer, Tari Kalipang, Tayuban dan masih banyak lagi.

    Musik Tradisional khas Jawa Timur

    Sompret, Bagian Kelompok Musik Iringan Reog

    Alat musik tradisional yang ada di Jawa Timur sama dengan yang ada di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yaitu gamelan. Yang membedakan adalah irama gending yang dibawakan gaya karawitan Jawa Timuran. Gaya karawitan Jawa Timuran cenderung lebih keras dan menghentak daripada karawitan gaya Surakarta dan Yogyakarta yang lebih halus. Yang juga khas Jawa Timur adalah musik pengiring reog. Musik yang mendampingi pertunjukan kesenian Reog Ponorogo terdiri dari terompet, kendang, dan gong. Selain itu, ada juga alat musik tradisional dari Banyuwangi yang bernama gedokan yang terdiri dari lumpang atau lesung, alu, dan dua potongan besi.

    Ludruk, Seni Drama Jawa Timuran yang Melegenda

    Ludruk adalah seni pertunjukan drama panggung khas Jawa Timur yang mengangkat cerita kehidupan sehari-hari secara spontan. Pentas yang dialognya menggunakan bahasa Jawa Timuran ini sifatnya menghibur. Jadi, tak jarang muncul lawakan-lawakan seiring dengan jalannya pertunjukan. Tari Remo menjadi pembuka pertunjukan ludruk. Kartolo adalah seniman ludruk yang melegenda di seluruh Jawa Timur.

    Tokoh Ludruk, Cak Kartolo

    Selain ludruk, Jawa Timur juga punya karya seni pertunjukan lainnya sebagai bentuk budaya daerah Jawa Timur. Yang tak kalah fenomenal adalah Reog Ponorogo, Janger Banyuwangi, dan Karapan Sapi di Madura. Reog Ponorogo adalah serangkaian pertunjukan tari yang magis nan mistis. Tokoh dalam pertunjukan ini antara lain Warok, Jathil, Bujang Ganong, Prabu Klono Sewandono, dan Singo Barong yang merupakan ikon-nya Reog Ponorogo. Singo Barong adalah tokoh dengan topeng raksasa super berat dengan bagian-bagiannya antara lain kepala harimau, dadak merak, dan krakap. Topeng Dadak Merak ini beratnya hampir 50 kg loh! Dengan lebar sekitar 2,3 meter dan tinggi/panjang kurang lebih 2,25 meter.

    Dimana lagi kamu bisa menemukan tradisi dan kesenian khas seperti yang telah kita bahas di atas? Itu semua adalah bentuk warisan budaya Jawa Timur yang harus kita pertahankan kelestariannya.

  • Info Lengkap mengenai Budaya Jawa Tengah ala Keraton Solo

    Info Lengkap mengenai Budaya Jawa Tengah ala Keraton Solo

    Budaya Jawa Tengah terkenal akan unggah ungguh atau sopan santun-nya. Banyak kerajaan tumbuh dan berkembang di wilayah Jawa Tengah, menghasilkan ragam budaya yang melimpah.

    Tentang Budaya Jawa Tengah

    budaya jawa tengah
    Pentas Sendratari Ramayana di Surakarta

    Kebudayaan Jawa Tengah sangat dipengaruhi oleh kejawen, budaya suku Jawa yang merupakan mayoritas di daerah ini. Kebudayaan Jawa Tengah juga banyak berpusat pada kerajaan Kasunanan di Surakarta. Banyak contoh budaya Jawa Tengah yang berkembang di area keraton. Budaya ini juga masih sangat berkaitan erat dengan budaya Jawa di Yogyakarta yang berpusat di keraton Kasultanan.

    Meski budaya ala keraton masih sangat mendominasi, tapi sebenarnya budaya Jawa ini bukan satu-satunya kebudayaan di Jawa Tengah. Masih ada budaya Banyumasan dengan bahasa ngapak-nya, dan budaya pesisir yang berkonsentrasi di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Tapi, kali ini kita akan fokus ke pembahasan tentang kebudayaan Jawa Tengah ala keraton Solo saja ya. Seperti slogan pariwisatanya Kota Surakarta kan: Solo, the Spirit of Java.

    Tradisi Budaya Jawa Tengah

    budaya jawa tengah
    Kirab Pusaka Keraton Surakarta

    Tradisi budaya Jawa Tengah selalu menemani setiap fase kehidupan masyarakat suku Jawa. Mulai dari kehamilan, kelahiran, pernikahan, hingga kematian, semua ada adat tradisinya yang sakral dan sarat makna. Seperti misalnya upacara siraman sebelum pernikahan, mitoni (upacara peringatan tujuh bulan kehamilan untuk tolak bala), selapanan (selamatan bayi yang berusia 35 hari), dan masih banyak lagi. Upacara-upacara ini berhubungan dengan daur hidup. Sementara satu kelompok upacara adat tradisi budaya Jawa yang lain berhubungan dengan aktivitas kemasyarakatan. Contoh upacara adat untuk aktivitas kemasyarakatan di Jawa Tengah dan tempat pelaksanaannya antara lain sebagai berikut:

    • Kirab pusaka Keraton Surakarta dan Grebeg Maulud (Sekaten) di Solo
    • Upacara ruwatan dan dugderan di Kota Semarang
    • Sedekah gunung Merapi di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali
    • Jamasan pusaka Mangkunegoro I di Wonogiri
    • Upacara adat Mondosiyo di Kabupaten Karanganyar
    • Padusan Surodilogo di Wonosobo
    • Upacara pengambilan Api Abadi Mrapen di Grobogan
    • Buka Luwur Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus
    • Uparaca adat Meron dan Khol Syekh Jangkung Landoh Kayen di Pati
    • Upacara Lopisan di Pekalongan

    Bahasa Jawa Tengah

    Dengan mayoritas penduduk dari suku Jawa, bahasa daerah yang digunakan sehari-hari di Jawa Tengah adalah bahasa Jawa. Ada dua klasifikasi dialek bahasa Jawa berdasarkan karakter wilayah penggunaan dan status sosial penggunanya. Terdapat tingkatan bahasa Jawa berdasarkan tingkat kesopanannya. Dari yang paling kasar hingga paling halus, yaitu: ngoko lugu, ngoko alus, kromo lugu, dan kromo inggil. Bahasa Jawa juga punya aksara atau huruf sendiri yang dikenal dengan sebutan Honocoroko, hanya sudah tidak digunakan sehari-hari. Untuk melestarikan huruf Jawa, pemerintah terutama di Surakarta dan Yogyakarta mulai mewajibkan penggunaannya untuk nama-nama tempat, jalan, dan gedung.

    Rumah adat Jawa Tengah

    Rumah Joglo Limasan

    Ada setidaknya 5 jenis rumah adat di provinsi Jawa Tengah. Yang paling terkenal adalah rumah joglo, dengan ciri khas adanya 4 saka guru atau tiang penyangga utama pada bagian depan rumah. Rumah joglo adalah rumah hunian yang terdiri dari rumah induk dan rumah tambahan dengan ruangan yaitu gandhok. Sementara rumah induk sendiri biasanya ada bagian pendopo, pringgitan, emperan, serta senthok kiwa, tengah, dan tengen. Keempat rumah adat lain adalah rumah panggang pe yang digunakan untuk menjemur hasil pertanian, rumah limasan yang punya atap berbentuk limas dan berdinding batu bata merah, rumah kampung yang jadi hunian rakyat biasa, serta rumah tajug yang digunakan sebagai tempat ibadah. Contoh bangunan rumah adat tajug yang terkenal adalah Masjid Agung Demak.

    Rumah adat Jawa Tengah pada dasarnya menggunakan kayu jati yang kuat dan tahan rayap sebagai bahan bangunan utamanya. Kayu jati digunakan untuk bagian kerangka bangunan, saka guru, kusen, serta daun pintu dan jendela. Untuk dindingnya, ada yang juga menggunakan gebyok dari kayu jati, ada pula yang pakai gedhek atau anyaman bambu. Sementara atapnya, pakai genting dari tanah liat.

    Pakaian adat Jawa Tengah

    Pakaian Adat Jawi Jangkep

    Beberapa jenis pakaian adat Jawa Tengah antara lain pakaian pengantin Jawi Jangkep dan Basahan, serta surjan dan aneka jenis kebaya. Hiasan pakaian adat Jawa Tengah termasuk blangkon dan keris untuk pria, dan sanggul dengan tusuk konde untuk wanita. Untuk alas kaki, baik pria dan wanita mengenakan selop. Jawa Tengah juga terkenal akan berbagai motif, pola dan warna kain batik yang indah. Kini, penggunaan baju dari kain batik mulai meningkat, tak hanya pada acara-acara formal saja.

    Dian Sastro dalam Kebaya ala Kartini

    Kesenian khas Jateng

    Besarnya pengaruh keraton Kasunanan melahirkan adanya aneka kesenian Jawa Tengah gaya Surakarta.

    Seni tari Jawa Tengah

    Tarian Jawa Tengah sendiri ada dua macam, tari keraton dan tarian rakyat. Kalau pertunjukan tari keraton hanya secara khusus di lingkungan keraton saja, panggung tarian rakyat lebih bebas dan bisa dinikmati banyak orang. Penyelenggaraan tarian rakyat biasanya pada saat ada upacara adat atau acara-acara kemasyarakatan. Banyak dari tarian khas Jawa Tengah itu yang bersifat sakral dan magis loh. Dan semuanya sarat akan makna dan filosofi.

    Tari Gambyong

    Contoh tarian keraton yang paling pokok adalah Tari Bedhaya, terutama Bedhaya Ketawang yang sakral dan keramat. Sementara tarian kreasi rakyat misalnya Tari Dolalak. Tari-tarian tradisional di Jawa Tengah biasanya menggambarkan tokoh wayang atau gambaran kehidupan masyarakat. Contoh lain tari daerah yang ada di wilayah Provinsi Jawa tengah adalah: Tari Bambangan Cakil, Tari Gambyong, Tari Srimpi, Tari Golek, Tari Bondan, Tari Gambiranom, Tari Prawiroguno, Tari Gathutkaca Gandrung, Tari Bisma Gugur, Tari Topeng Klono Sewandono, Tari Rebana, Tayub, Lengger, Jathilan atau Jaran Kepang dan masih banyak lagi.

    Seni musik tradisional Jawa Tengah

    budaya jawa tengah
    Gamelan Sekaten

    Seni musik tradisional khas Jawa Tengah yang paling populer di kalangan masyarakat adalah gamelan. Gamelan adalah seperangkat alat musik atau instrumen seperti kendang, bonang barung dan bonang penerus, saron, kenong kethuk, kempul dan gong, gender, slenthem, siter, dan rebab. Satu perangkat gamelan biasanya terdiri dari dua versi menurut laras slendro dan pelog. Pentas gamelan biasanya ada acara-acara sakral dan upacara adat, serta saat ada pagelaran seni, pertunjukan seni tari, sendratari, atau pertunjukan wayang.

    Selain gamelan, di Jawa Tengah juga ada alat musik lain yang nggak kalah spesial, misalnya calung Banyumas, tambur, rebana, dan terompet.

    Seni pertunjukan lainnya

    budaya jawa tengah
    Pentas Wayang Kulit oleh Dalang Ki Manteb Soedharsono

    Ada seni tari juga seni musik, tapi bukan itu saja kesenian di Jawa Tengah. Bentuk kesenian lain salah satunya wayang kulit dan wayang orang. Ada juga sendratari yang menggabungkan seni drama dan tari, dan tentu saja dengan gamelan sebagai pengiringnya.

    Kerajinan khas Jawa Tengah

    Seni Ukir Kayu Jepara

    Kerajinan tangan juga tak bisa lepas dari budaya Jawa Tengah. Berbagai wilayah di provinsi ini punya hasil kerajinan yang khas. Misalnya saja seni ukir dari Jepara, gerabah dari Klaten, tenun lurik dari Jepara dan Klaten, anyaman bambu dari Pekalongan, kerajinan kulit dari Batang, dan masih banyak lagi. Ada juga berbagai motif batik yang khas, misalnya dari Solo dan Pekalongan.

    Kebudayaan Jawa Tengah yang khas dan beragam, dengan tata krama, sopan santun atau unggah-ungguhnya yang menawan, sangat penting untuk tetap dijaga kelestariannya. Mari sama-sama menjaga kebudayaan asli daerah kita masing-masing agar tidak lenyap ditelan peradaban.

  • Tak Hanya Sunda, Ketahui Semua Budaya Jawa Barat Ini!

    Tak Hanya Sunda, Ketahui Semua Budaya Jawa Barat Ini!

    Mengenal budaya Jawa Barat yang lembut dan riang gembira, yang tak hanya terdiri dari satu suku bangsa saja. Kali ini kita tak hanya akan belajar mengenai budaya bumi Pasundan saja. Simak semua ulasan tentang budaya, kesenian, dan tradisi khas Jawa Barat berikut ini!

    Tentang budaya Jawa Barat: Budaya Sunda bukan satu-satunya

    Pertunjukan Tari Jaipong

    Budaya Jawa Barat yang terkenal memanglah budaya Sunda, dengan banyaknya penduduk yang berasal dari suku Sunda. Suku Sunda juga merupakan salah satu suku tertua di Indonesia. Tapi, perlu kita ketahui bahwa suku Jawa Barat tak hanya Sunda saja. Meski suku Sunda mendominasi mayoritas wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, provinsi ini tidak sama dengan Sunda. Kebudayaan suku Sunda di Jawa Barat pun bukan satu-satunya kebudayaan khas yang berkembang di Jawa Barat. Ada juga budaya Cirebon dan budaya Betawi yang tak kalah kuat berjaya di tanah ini. Budaya Sunda yang masih dominan berkembang di tataran Sunda, Tanah Priangan, atau Tanah Pasundan. Budaya Cirebon masih asri dan lestari di daerah-daerah bekas Karesidenan Cirebon, yang ada di bagian utara provinsi Jawa Barat. Sementara budaya Betawi tumbuh di wilayah perbatasan dengan area DKI Jakarta.

    Bahasa daerah Jawa Barat

    Karena suku Sunda bukan satu-satunya suku di Jawa Barat, maka bahasa daerah yang digunakan dalam masyarakat Jabar pun tak hanya bahasa Sunda. Meski memang, bahasa Sunda dipakai oleh mayoritas penduduk Jawa Barat. Bahasa Sunda sendiri mendapat pengaruh dari bahasa Jawa, dalam hal adanya tingkat bahasa berdasarkan tingkat kesopanan dalam penggunaannya, yaitu undak-usuk-basa. Ada empat tingkat bahasa Sunda yaitu cohag atau kasar pisan, kasar, sedang lemes, dan luhur atau lemes pisan. Kata pisan dalam bahasa Sunda berarti ‘sangat’.

    Ada setidaknya dua kekhususan dalam hal penggunaan bahasa di wilayah Jawa Barat, dengan adanya dua budaya lain yaitu Cirebon dan Betawi. Bahasa Cirebon sedikit mirip dengan bahasa Jawa Banyumasan (Jawa Ngapak), dengan dialek Brebes. Penutur bahasa daerah ini adalah penduduk wilayah Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Kabupaten Indramayu dan beberapa wilayah pesisir utara jawa Barat juga menggunakan bahasa Cirebon, hanya dengan dialek Indramayu yaitu logat dermayon. Daerah perbatasan seperti Kota Bekasi, Kecamatan Babelan dan Tarumajaya di Kabupaten Bekasi, serta Kota Depok sehari-hari memakai Bahasa Betawi.

    Rumah adat Jawa Barat

    Imah Julang Ngapak, salah satu rumah adat Jawa Barat

    Untuk masyarakat suku Sunda, rumah adat Jawa Barat ini pada umumnya adalah imah panggung. Bentuk rumah panggung adalah segi empat yang agak memanjang dan terdiri dari tiga bagian. Paling depan adalah bagian teras, untuk bagian tengah ada tengah imah yang jadi semacam ruang tamu dan juga kamar tidur. Bagian belakang adalah bagian dapur, disebut juga pawon atau goah. Rumah panggung juga memiliki halaman depan dan halaman belakang rumah.

    Ada dua fungsi atau filosofi pada rumah panggung. Fungsi teknik yang berkaitan dengan arsitektur rumah dan fungsi simbolik yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Sunda. Lantai rumah panggung adalah dari palupuh, sementara atapnya dari ijuk atau daun rumbia. Dinding rumah berupa bilik dari anyaman bambu, biasanya dengan pola kepang atau sasag. Tiang-tiang kayu dengan alas atau tatapakan dari batu membentuk kerangka rumah panggung.

    Pakaian adat Jawa Barat

    Contoh pakaian adat Jawa Barat

    Pakaian adat Jawa Barat setidaknya ada dua macam, yaitu adat Priangan untuk suku Sunda dan adat Cirebon. Untuk atasan, wanita Priangan mengenakan kabaya surawe, sementara wanita Cirebon mengenakan baju kurung atau baju sorong. Bawahan wanita Priangan dan Cirebon sama, yaitu lilitan kain batik yang memanjang dari pinggang sampai pergelangan kaki. Untuk kaum pria tidak memiliki perbedaan, keduanya mengenakan iket di kepala. Bawahannya memakai calana komprang dengan hiasan pasmen, serta kain jarik atau kain sarung poleng yang diikat di bagian pinggang. Untuk alas kaki, semuanya mengenakan selop.

    Makanan khas daerah-daerah di Jawa Barat

    Aneka Sajian khas Jawa Barat

    Dengan adanya banyak daerah di provinsi ini, makanan khas Jawa Barat pun sangat beragam. Misalnya, Kota Bandung terkenal akan oncom, surabi dan peuyeum-nya. Sumedang terkenal akan tahu Sumedang nya yang khas, sementara Ciamis punya tahu bulat enyoy. Kota Bogor punya tales dan asinan. Lalu ada sate maranggi, peuyeum bendul dan simping di Purwakarta. Ada pula tauco, manisan dan pepes ikan mas di Cianjur, dodol dan jeruk di Garut, empal gentong dan tahu gejrot di Cirebon, juga rempang pala di Sukabumi. Di Kabupaten Indramayu, terkenal kerupuk terasi-nya. Tak hanya itu saja sih, Jawa Barat pun punya aneka jajanan yang nggak kalah terkenal. Ada batagor, cireng, combro, ubi cilembu, rengginang, opak, seblak, karedok, lotek, cimol, sale pisang, kicimpring, dan masih banyak lagi. Odading yang sempat viral pun khas Bandung, Jawa Barat tuh! Yah, meskipun donat goreng ini punya banyak kembaran dengan berbagai nama dan tersebar di seluruh nusantara sih.

    Tradisi di Jawa Barat

    budaya jawa barat
    Tradisi Seren Taun

    Setiap budaya di tanah air, pasti ada adat dan tradisi tersendiri. Tradisi Jawa Barat pun sama, dan berkaitan dengan upacara-upacara adat yang perlu kita lestarikan agar tidak punah tergerus zaman. Ada tradisi melakukan upacara adat di usia kandungan 3, 5, 7 dan 9 bulan. Setelah lahir pun, ada banyak sekali upacara adat-nya. Misalnya nrenjak bumi, puput puseur, dan cukur rambut saat masih bayi, serta upacara khitan dan gusaran saat memasuki usia kanak-kanak. Adat dan tradisi lainnya termasuk upacara panen padi Seren Taun, pesta laut, muludan, ngalaksa, ruwatan bumi, ngunjung, ngirab atau rebo wekasan, dan masih banyak lagi.

    Kesenian khas Jawa Barat

    budaya jawa barat
    Rampak Kendang

    Jawa Barat adalah salah satu daerah yang kaya akan nilai seni dan budaya yang luhur. Banyak sekali kesenian khas Jawa Barat yang terkenal, mulai dari seni musik, seni tari, dan seni pertunjukan lainnya. Berikut beberapa dari ragam kesenian di Jawa Barat:

    • Jaipongan, tari kreasi yang memadukan gerakan berbagai tarian seperti tari ronggeng dan ketuk tilu, serta beberapa gerakan silat.
    • Rampak kendang, pertunjukan beberapa pengendang yang memainkan kendang bersama-sama. Bisa juga diiringi gamelan, rebab, bahkan gitar.
    • Wayang golek, seni teater boneka yang dimainkan dalang seperti halnya wayang kulit di Jawa Tengah. Si Cepot adalah salah satu tokoh wayang golek yang sangat terkenal.
    • Kuda renggong khas Sumedang, pertunjukan beberapa ekor kuda yang menari mengikuti irama musik pengiring. Biasanya dilakukan saat ada upacara khitan.
    • Karawitan Sunda, seni musik yang mempertunjukkan seperangkat gamelan dengan kekhasan pada rebab, kacapi, suling, hingga kendang jaipong.
    • Gamelan degung, satu set gamelan khas Jawa Barat dengan laras degung dan terdiri dari bonang peking, kendang, jengglong, cempres, suling, dan gong.
    • Angklung, alat musik yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya adalah dengan menggoyangkannya. Jangan lewatkan Saung Angklung Mang Udjo kalau berkunjung ke Bandung ya!
    • Calung, alat musik khas Sunda yang mirip angklung, hanya saja dimainkan dengan cara memukul bilah atau tabung bambu.
    • Bajidoran, mirip dengan jaipongan dari daerah Subang dan Karawang, dimana para ronggeng atau penari melenggak-lenggok mengikuti irama gamelan, terutama kendang.
    budaya jawa barat
    Tari Topeng Cirebon

    Nggak akan ada habisnya kalau mau membahas kesenian khas Jawa Barat. Selain ragam kesenian di atas, masih ada banyak sekali hasil karya seni yang semuanya bagus-bagus dan unik-unik di provinsi ini. Masing-masing daerah di Jawa Barat pun punya kerajinan khas mereka. seperti kerajinan rotan dan batik mega mendung khas Cirebon, payung dan anyaman Tasikmalaya, tembikar dan topeng di Indramayu, dan lain-lain. Semuanya layak mendapat perhatian lebih, dan kita wajib ikut andil dalam menjaga kelestariannya. Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, lalu siapa lagi?

  • Budaya Bali yang Unik dan Hanya Ada di Pulau Dewata

    Budaya Bali yang Unik dan Hanya Ada di Pulau Dewata

    Siapa yang nggak pengen tahu budaya Bali yang lain daripada yang lain? Keunikan budaya Bali membuatnya nggak bisa kamu jumpai di tempat manapun selain di Pulau Dewata. Cek pembahasannya di bawah ini untuk tahu lebih banyak tentang budaya Bali!

    Asal Usul Suku Bali

    Terbentuknya Suku Bali di Pulau Dewata adalah melalui tiga tahapan. Masyarakat Bali yang pertama terjadi setelah menyebarnya penduduk Nusantara pada zaman prasejarah. Kemudian, bertambah selama masa penyebaran agama Hindu. Gelombang terakhir migrasi yang membentuk masyarakat Bali pada masa sekarang berasal dari Jawa pada zaman penyebaran agama Islam di Nusantara. Rakyat kerajaan Majapahit yang runtuh pada abad ke-15 memutuskan untuk mempertahankan keyakinan dan budaya mereka dengan menyeberang ke Pulau Bali. Hal inilah yang membuat adanya sinkretisme  atau pembauran budaya Jawa dengan tradisi asli yang sudah ada di Bali.

    Berdasarkan Sensus Penduduk pada tahun 2010 lalu, Suku Bali ada sekitar 3,9 juta jiwa. Mayoritas Suku Bali masih menetap di Pulau Dewata dan masih melestarikan adat istiadat Bali di sana, yaitu kurang lebih 3,3 juta jiwa. Sisanya tersebar di beberapa daerah di Indonesia setelah adanya program transmigrasi. Bahasa yang dipakai oleh masyarakat Bali adalah bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Mayoritas Suku Bali memeluk agama Hindu, dengan beberapa penduduk yang beragama Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha.

    Kebudayaan Suku Bali

    Termasuk budaya yang masih sangat lestari, kebudayaan Suku Bali yang sakral dan bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Budaya Bali sarat akan nilai agama dan tradisi. Kamu bahkan akan sering melihat masyarakat Suku Bali mengenakan pakaian adat dan pakaian keagamaan di kehidupan sehari-hari.

    Pura Lempuyang

    Banyaknya penganut agama Hindu menjadikan banyaknya bangunan pura di seluruh penjuru Bali. Tak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah umat Hindu saja, pura di Bali juga banyak yang terbuka untuk wisatawan umum. Banyak di antaranya sangat terkenal. Misalnya saja Pura Besakih, Pura Lempuyang Luhur, Pura Luhur Uluwatu, yang termasuk dalam daftar 6 pura Sad Kahyangan. Atau Pura Tirta Empul yang merupakan pura Dang Kahyangan. Pura Ulun Danu Bratan yang ada di tengah danau, dan Pura Tanah Lot yang adalah pura segara seperti halnya Pura Uluwatu. Tak heran, Pulau Bali mendapat julukan Pulau Seribu Pura.

    Ngaben, Melasti, Nyepi, Metatah, dan Tradisi Lain

    Budaya Bali
    Upacara Ngaben

    Banyak sekali adat dan tradisi yang khas, hanya ada ada di Bali, dan kebanyakan sangat berkaitan dengan keagamaan Hindu. Misalnya upacara Ngaben, upacara pembakaran jenazah khas Bali yang juga termasuk dalam upacara Pitra Yadnya atau upacara untuk Leluhur. Juga ada metatah, upacara mengasah gigi untuk anak-anak Bali. Ada pula melasti, upacara mensucikan diri yang dilakukan di pinggir pantai dalam menyambut hari raya Nyepi.

    “Saat dunia semakin cepat, Bali berani berhenti dan menyepi”

    Potongan lirik lagu milik Navicula, band asal Bali, ini menggambarkan uniknya Bali dalam merayakan Nyepi. Di Bali, perayaan Tahun Baru Caka ini dilakukan dengan menghentikan hampir seluruh aktivitas di Pulau Bali (kecuali rumah sakit). Semua lampu mati. Tak ada yang boleh keluar ‘rumah’, termasuk wisatawan. Pada hari itu bahkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pun berhenti beroperasi. Tapi, tenang. Kemeriahan bisa kamu nikmati sehari sebelum Nyepi, dengan adanya pawai ogoh-ogoh yang bikin rahang kamu menganga. Tentu, masih banyak lagi tradisi yang hanya bisa kita saksikan dan alami di Bali. Seperti Mepantigan (seni bela diri tradisional Bali), Mekotek (ritual tolak bala khas Bali), Gebug Ende Seraya (seni perang rotan), Makepung (balap kerbau di Jembrana), dan lain sebagainya.

    Kesenian khas Bali

    Pertunjukan Gamelan Bali

    Gamelan Bali adalah serangkaian alat musik tradisional khas Bali yang tak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Suku Bali. Gamelan selalu ada untuk mengiringi prosesi adat dan upacara keagamaan, serta sebagai iringan tari-tarian dan seni pertunjukan Bali. Yang khas dari gamelan Bali ada pada temponya yang cepat, suaranya yang cempreng, dan dinamikanya. Tipe gamelan di Bali adalah gamelan gong kebyar, dengan kata kebyar yang berarti keras, cepat, dan tiba-tiba.

    Tari Kecak di Pura Uluwatu

    Banyak pula tari-tarian asal Bali yang populer dan terkenal hingga kini. Sebut saja tari kecak, tari pendet, tari legong, tari barong, tari janger, tari baris, dan lain-lain. Yang sangat terkenal di telinga para wisatawan adalah pertunjukan tari kecak di Pura Uluwatu.

    Seni budaya Bali itu sendiri tak hanya terdiri dari seni pertunjukan seperti seni tari Bali, sendratari, dan musik saja. Seni kerajinannya terutama lukisan, anyaman, ukiran kayu dan pahatan batu juga mendominasi dan mendunia. Kamu akan bisa mengagumi keindahan ornamen-ornamen yang Bali banget dimana pun. Tak hanya di pura dan museum saja, di hotel dan bandara pun buanyak! Para pelancong pun bisa mengantongi salah satu kerajinan khas Bali sebagai buah tangan dan memento perjalanan mereka di Pulau Dewata. Bali memang antik deh! Bahkan sesajen yang bisa kita jumpai di sudut-sudut Bali pun nyeni banget, pakai anyaman daun kelapa buatan tangan.

    Desa Adat Trunyan dan Penglipuran

    Budaya Bali
    Desa Penglipuran

    Keistimewaan budaya Bali juga tampak pada artitekturnya yang khas. Salah satu tempat dimana kamu bisa menyaksikan keaslian arsitektur Bali yang masih asri adalah di Desa Penglipuran di Bangli. Selain rumah adat Bali masih sangat terjaga di sana, penduduknya pun masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat masyarakat Bali. Tak sekedar melestarikan, mereka semua menjalankan tradisi Bali dalam kehidupan sehari-hari mereka. Keseluruhan wilayah desa adat Penglipuran menganut konsep Tri Hita Karana, sebuah filosofi tentang keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan lingkungan. Hebatnya, sebagai desa wisata, Penglipuran masih konsistem mempertahankan wujud aslinya hingga sekarang.

    Budaya Bali
    Tengkorak di Desa Trunyan

    Satu lagi desa adat yang nggak kalah unik: Desa Trunyan. Kalau di Penglipuran kamu bisa menikmati keindahan pedesaan ala Bali, di Trunyan, kamu harus siap-siap merinding disko. Pasalnya, pariwisata desa di daerah Kintamani dan dekat Danau Batur ini mengangkat tradisi pemakamannya yang unik. Mereka tidak mengubur atau mengkremasi jenazah, tapi hanya diletakkan saja di salah satu dari tiga area makam sesuai kematiannya. Asal nama desa ini pun berkaitan dengan area makam mereka, yang menjadi satu-satunya tempat tumbuh pohon bernama Taru Menyan. Taru sendiri artinya pohon, sedang Menyan artinya harum. Yup, pohon ini mengeluarkan bau harum, yang bahkan bisa menetralisir bau pada mayat yang membusuk.

    Budaya suku Bali memang banyak peminatnya. Nggak heran, udah banyak terbit makalah kebudayaan Bali yang bisa menambah pengetahuan kita tentang budayanya masyarakat Pulau Dewata. Sebagai generasi penerus bangsa, tugas kita untuk melestarikan budaya asli negeri sendiri. Penting juga untuk tahu budaya suku lain di Indonesia, agar bisa lebih saling menyayangi dan menghargai.